menu

Sunday, 19 June 2016

Rahasia Kode Horizontal Pada Keyboard





Sejak ditemukannya komputer pertama kali oleh seorang Banker yang ahli Matematika di Southwark, London-Inggris, yaitu Charless Babbage (1946­ – 1959). Sampai sekarang perkembangan teknologi komputer sangat pesat.

Hampir di setiap aktivitas pekerjaan perangkat komputer selalu ada. Terutama di perkantoran dan rumahan sudah tidak asing lagi. Keberadaannya sangat membantu dalam memudahkan dan mempercepat berbagai macam pekerjaan.

Kita pasti tahu di setiap unit komputer biasanya didukung oleh alat ketik yaitu keyboard. Setiap data atau dokumen dimasukan lewat alat ketik itu. Tetapi mungkin tidak banyak orang yang memperhatikan detail alat ketik itu. Karena mungkin saking sibuknya bekerja atau brosing di internet. Banyak yang tidak menyadari ternyata di keyboard itu terdapat kode tonjolan. Kode strip horizontal ini terdapat di dua huruf  F dan J.

Jika sekilas memang tidak terlalu terlihat. Tetapi kalau diraba di kedua huruf itu akan terasa ada sesuatu yang lain dibanding dengan huruf lainnya. Coba saja perhatikan dan raba di kedua huruf tersebut. Tahukan Anda kode apakah itu? Ternyata kode itu mempunyai tujuan tertentu. Yaitu sebagai kode memudahkan mengawali proses pengetikan.

Adalah Frank Edward McGurrin, yang menemukan teori metode touch typing pada tahun 1888. Metode touch typing ini,  merupakan sebuah metode tentang cara mengetik tanpa melihat tombol di keyboard. Bertujuan untuk lebih memudahkan seseorang dalam proses pengetikan sebuah dokumen atau memasukan data.

Metode McGurrin ini dikenal dengan nama metode mengetik menggunakan 10 jari. Yakni meletakkan jari-jari tangan kiri sejajar pada huruf A - S - D - F dan J - K - L - ; pada jari-jari tangan kanan. Kemudian kedua jempol diletakkan pada tombol space bar dalam mengambil posisi untuk memulai mengetik. Praktik metodei ni sering pula dipakai di tempat-tempat kursus mengetik.

Selama proses pengetikan posisi jari-jari yang sejajar tetap menjadi patokan. Menurut McGurrin, Meletakkan jari telunjuk kiri di huruf F dan jari telunjuk kanan di huruf J pada tombol keyboard, merupakan cara yang paling efektif dalam proses pengetikan. Sehingga hal demikian bisa mempermudah dan mempercepat seseorang ketika mengetik dokumen yang dikerjakan. 

Pada tahun 2002, June E Botich dari Naples-Florida, mematenkan dan memodifikasi tonjolan di huruf F dan J pada tombol keyboard. Sehingga bisa membantu meningkatkan kemampuan dari metode touch typing itu sendiri. Selain itu, tonjolan pada huruf F dan J tersebut juga berfungsi untuk mengidentifikasi pada huruf yang ditekan. Tanpa perlu memperhatikan atau melihat tombol pada keyboard. Dan pemberian tonjolan tersebut hingga sekarang sudah menjadi standart keyboard yang ada di dunia.




*diolah dari berbagai sumber

Friday, 20 May 2016

Ronda Malam di Gunung Guntur

Bres...bres... bres... linggis itu terus ditugarkan ke dinding batuan berpasir. Bapak setengah baya itu hirau terhadap lalu lalang para pejalan kaki. Ia tetap berada di bawah lubang galian. Sesekali ia jongkok memisahkan antara batu kerikil dan pasir. Sepertinya ia sedang mencoba mengais rezeki dengan menambang pasir.


Itulah sisi lain pemandangan dari kegiatan salah satu warga di kaki Gunung Guntur pagi itu. Ketika kami akan melakukan pendakian melalui jalur curug Citiis, beberapa waktu lalu. Aktivitas penambangan pasir kerap terjadi di kawasan itu. Bahkan telah menjadi mata pencaharian sebagian warga.
Pada awalnya rencana melakukan pendakian ke gunung yang berada di Kabupaten Garut, Jawa Barat hampir saja batal. Karena sebagian mengundurkan diri. Alasannya merasa khawatir oleh kondisi cuaca buruk yang terus terjadi antara bulan Januari-Februari. Memang pada bulan itu intensitas hujan disertai petir cukup tinggi.

Hanya bertiga memutuskan tetap berangkat. Yaitu, Gaston, Hardi dan saya sendiri. Pertimbangannya sudah jauh-jauh hari, prepentif mempersiapkan segalanya. Keputusan tetap berangkat itu bukan bertujuan menantang alam. Tetapi menikmati alam. Karena alam tidak untuk ditantang.
Wajar saja timbul rasa khawatir yang disebabkan kondisi cuaca buruk. Gunung dengan ketinggian 2.249 mdpl itu. Dari lereng sampai puncak gunung jarang ditumbuhi pohon. Arealnya cukup terbuka. Apabila hujan sangat berisiko terhadap sambaran petir. Tetapi yang terpenting adalah tetap waspada dan berdoa.



Seiring berjalannya waktu. Ternyata yang berangkat bertambah menjadi sembilan orang. Keikutsertaan teman-teman lain memberikan semangat kepada kami bertiga. Jujur saja, saya pribadi merasa was-was. Oleh seringnya hujan turun disertai petir pada bulan itu. Memang musibah bisa terjadi kapan, dan di mana saja. Yang terpenting adalah keyakinan pada diri sendiri, dan percaya kepada Yang Maha Kuasa.




Diiringi doa, sekitar pukul 11.00 WIB pada Kamis malam. Dua mini bus meluncur menuju Kabupaten Garut. Melalui jalan Cibubur, Cilengsi, Jonggol terus ke Cianjur. Kami sengaja tidak lewat jalan tol karena dikhawatirkan terjebak kemacetan. Sebab jelang libur akhir pekan biasanya banyak warga Jabotabek liburan ke luar kota.
Memasuki daerah Cariu, Kabupaten Bogor kondisi jalanan sedikit bergelombang. Tetapi laju kendaraan masih dapat dipacu kencang. Tak terasa kota Cianjur dan Padalarang pun sudah terlewati. Kami tiba di Cimahi dan langsung masuk tol menuju arah Cilenyi, Bandung.


Di Cileunyi kami berhenti dua kali. Pertama kami istirahat di rest area  tol Cileunyi sekitar pukul 2.00 WIB dini hari. Kami kembali mampir ke sebuah mini market setelah keluar tol menuju arah Garut. Sambil menikmati tahu hangat. Salah satu makanan khas Sumedang yang banyak dijajakan di sepanjang jalan.
Kira-kira pukul 5.00 WIB pagi rombongan kami memasuki Tarogong, Garut. Dari jalan raya sudah terlihat panorama Gunung Guntur. Walaupun gunung sudah kelihatan. Kami masih harus bolak-balik mencari tahu menuju jalur pendakian. Maklum belum pernah ke Gunung Guntur. Tak butuh waktu lama kami tiba di Kampung Citiis atau disebut jalan PLP.



Sebenarnya untuk menuju jalur pendakian ke Gunung Guntur ada dua pilihan. Pertama lewat jalur curug Citiis. Berada di Kampung Citiis/PLP, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut. Sedangkan jalur kedua, bisa melewati jalur Cikahuripan dari Desa Pakuhaji daerah Samarang.
Untuk lewat jalur Citiis bisa berpatokan pada POM bensin yang berada di Desa Tanjung. Kalau dari arah Bandung berada di sebelah kanan. Sedangkan dari Garut kota berada di sebelah kiri. Jarak dari alun-alun Kota Garut ke Gunung Guntur sekitar 10 km.



Apabila dari Jakarta, Bekasi bisa naik bus jurusan Garut. Kemudian turun di terminal, dilanjutkan naik angkot jurusan Cipanas. Turun di Desa Tanjung dekat POM bensin. Atau di gerbang Kampung Citiis. Jika tidak membawa kendaraan bisa langsung naik ojek ke basecamp di rumah ketua Rt/Rw, sama saja.
Di basecamp ini pendaki wajib melaporkan diri. Dengan menuliskan nama-nama yang akan naik gunung. Meninggalkan foto copy KTP, serta mencatat nomor HP. Untuk koordinasi, pendaki juga akan membawa selembar kertas untuk melapor kembali ke petugas di pos 3.



Kira-kira pukul 6.00 WIB pagi akhirnya rombongan kami tiba di Kampung Citiis. Kami langsung lapor minta ijin kepada Nandang, ketua Rt 02. Ternyata di rumah kediaman ketua Rt sudah dipenuhi para pendaki lain. Bahkan di mesjid juga banyak pendaki yang sedang istirahat dan numpang tidur.
Bagi yang membawa kendaraan motor atau mobil. Bisa diparkir dititipkan dekat mesjid dan di basecamp rumah kediaman ketua Rt dan Rw setempat. Cukup aman katanya, walaupun harus nginep seperti diutarakan Nandang kepada kami.






Setelah berdoa bersama dipimpin Ipin dan Gaston. Sekitar pukul 7.00 WIB kami berangkat. Perjalanan normal menuju puncak Gunung Guntur bisa ditempuh 1 sampai 2 jam. Untuk mempercepat waktu tempuh para pendaki bisa numpang truk penambang pasir yang sering lalu lalang.
Begitu pun rombongan kami, dapat sedikit ngirit energi diantar mendekati areal galian pasir. Sayang, kendaraan sejenis mini bus tidak bisa melanjutkan perjalanan lebih jauh. Disebabkan kondisi jalan sangat buruk. Kecuali truk pasir karena mempunyai roda ban tinggi.



Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki. Menyusuri jalanan berbatu bercampur pasir. Di jalur ini akan dijumpai batu-batu besar dan bekas galian pasir. Di kaki gunung, sebelah selatan tampak dinding lempengan lapisan batuan. Memanjang nyambung ke lereng  Gunung Guntur. Kemungkinan bekas aliran lahar letusan pada masa lalu.  
Yang menarik pemandangan ke atas gunung semakin terbuka. Kabut putih yang menyelimuti puncak gunung lambat laun mulai sirna. Sang surya pagi itu cukup cerah menyinari puncak Gunung Guntur. Rerumputan membentuk padang savana mulai terlihat indah. Sehingga teman-teman semakin bersemangat melangkahkan kaki agar cepat bisa menggapai puncaknya.




Tak lama kami memasuki jalur menuju hutan. Di sepanjang jalur ini banyak ditumbuhi pohon rindang. Daun-daunnya yang hijau memberi teduh kepada para pendaki. Di jalur ini juga akan dijumpai pula warung-warung dan tempat untuk istirahat.
Menjelang tiba di pos 2 gemuruh aliran curug Citiis mulai terdengar mengiringi perjalanan kami. Dari rimbunya pohon terdengar suara kicau burung-burung. Seperti turut menyambut kehadiran kami. Sekaligus memberitahukan tentang perjalanan akan lebih sulit. Padahal rasa lelah mulai mendera. Keringat pun terus bercucuran membasahi sekujur tubuh.



Benar juga. Setelah melewati pos 2, pendakian semakin berat. Jalur jalan berbatu serta curam. Dengan tingkat kemiringan antara 45 sampai 75 derajat. Banyak para pendaki berjibaku menaklukkan medan jalur ini. Harus diwaspadai pula ketika kaki-kaki meniti bebatuan. Karena rawan longsor, jatuh membahayakan orang di bawahnya.
Sebenarnya lewat jalur curug Citiis jaraknya tidak terlalu jauh. Tetapi jalurnya lumayan menantang. Membutuhkan adrenalin untuk melewatinya. Tak heran, Gunung Guntur sering disebut Semeru-nya Jawa Barat. Woh..! Dagu ketemu lutut memang terjadi. Sebuah tantangan menarik bagi para pecinta alam.
Hari semakin siang. Mendekati pos 3, pohon-pohon mulai jarang. Sinar matahari mulai terasa menyengat membakar badan. Dari lembah masih terdengar gemuruh suara aliran curug Citiis. Seorah bersorak memberi semangat kepada kami untuk tidak menyerah.





Akhirnya kami tiba di pos 3 sekitar pukul 10.00 WIB siang. Ketua rombongan Ipin dan Gaston, sigap melapor kepada petugas jaga. Ada pesan dari petugas. Yaitu, kami agar tetap menjaga barang bawaan masing-masing. Karena sering terjadi pencurian yang menyamar sebagai pendaki, katanya.
Tampak di sekitar pos dan di lereng gunung sudah banyak tenda berdiri. Pihak pengelola Gunung Guntur melarang para pendaki berkemah di puncak gunung. Sebab apabila turun hujan disertai petir akan sangat berbahaya. Bahkan larangan itu terpasang di spanduk berukuran besar.



Setelah mendapatkan lokasi yang cocok untuk berkemah. Langsung saja kami bersama-sama mendirikan dua tenda. Tidak butuh waktu lama dua kemah pun berdiri saling berhadapan.  Sedangkan Naomi dan Henda, dengan cekatan kompak menjadi juru masak. Sementara Adam dan Anggit kebagian tugas mengambil air di lembah untuk persediaan.
Pada intinya kami selalu saling kerjasama dalam berbagai hal. Memang itu yang seharusnya dilakukan para pendaki. Berkat kerjasama tim, tidak berapa lama kami pun bisa menyantap makanan. Mengisi perut yang sudah keroncongan.
Matahari semakin condong ke barat. Puncak gunung tampak mulai diselimuti kabut putih. Terlihat di sebelah selatan awan hitam mulai mendekat. Benar saja, sekitar pukul 4.00 WIB sore hujan pun turun diiringi suara gemuruh guntur disertai kilatan petir.
Agar tidak ada hal-hal yang diinginkan. Saya meminta kepada teman-teman untuk mematikan handphone. Sebab di tempat terbuka sinyal  handphone rentan mengundang sambaran kilat petir. Ini jelas sangat berbahaya bagi keselamatan jiwa.



Semakin sore hujan semakin lebat. Di tengah guyuran hujan lebat. Salah satu tenda mengalami kebocoran. Kemungkinan ada kesalahan sewaktu pemasangannya. Terpaksa kami berdesak-desakan di dalam tenda satunya lagi.
Siang akan berganti malam. Alam malam mulai hadir membawa hawa dingin. Mulai menusuk ke pori-pori kulit. Sambil nunggu hujan reda kami asyik ngobrol ditemani kopi panas, untuk menghangatkan perut. Sekitar pukul 9.00 WIB malam hujan pun reda.
Pandangan jauh ke lembah sebelah timur. Kota Garut kerlap-kerlip memancarkan kilau cahaya seperti bertabur batu permata. Malam pun semakin larut. Nyanyian binatang malam terdengar bersahutan. Semilir angin menerpa rerumputan. Dia angkasa bulan dan bintang mulai memancarkan cahaya. Alam raya seolah berdoa kepada Sang Pencipta. Sungguh panorama yang indah.
Jelang tengah malam, kami berbagi tugas melakukan ronda. Giliran pertama Anggit dan Ipin mulai pukul 12.00- 02.00 WIB. Dilanjutkan Saya dan Gaston sampai pagi. Sedangkan yang lain pulas untuk menggapai mimpinya masing-masing.




Pagi hari. Satu satu persatu para pendaki mulai bangun, keluar dari tendanya. Untuk menikmati udara pagi dan melihat kemunculan sunrise. Sayang, sang surya sedikit malu-malu bersembunyi di balik awan putih. Tetapi pancaran cahayanya tetap hadir menyapa para pendaki. Sekaligus memberikan kehangatan dan cerah pada alam sekitarnya.
Pukul 9.00 WIB pagi. Koki dadakan, Naomi dan Hardi dibantu Hendra kembali beraksi menyiapkan sarapan pagi. Wahhh..., ternyata racikan masakan mereka pagi itu lebih manyos, meminjam istilah Pak Bondan. Sehingga kami dapat menikmati hidangannya. Sekaligus memberi energi untuk perjalanan pulang.
Selesai sarapan pagi, kami beres-beres untuk turun gunung. Perjalanan pulang ternyata lebih cepat. Walaupun perjalanan turun tidak bisa dibilang enteng. Karakter jalur berbatu yang curam butuh konsentrasi dan kewaspadaan. Bahkan Adam, yang bertubuh bongsor harus kerja keras menuruni batu-batu curam itu. Tetapi ia tetap semangat.


Menjelang tiba di pos 2. Kami melihat pemandangan kurang sedap di jurang dekat pinggir kali. Ada seongok gunukan sampah. Kemungkinan sampah-sampah itu dibuang oleh oknum pendaki. Ini sangat disayangkan. Seharusnya sampah itu dibawa turun ke basecamp. Disimpan ke tempat sampah yang sudah ditentukan.
Kira-kira pukul 11.00 WIB siang. Rombongan kami tiba di basecamp. Lancarnya pendakian dan ketika turun gunung. Ini berkat kerjasama solid antar teman-teman. Saling bantu, saling suport, telah menjadi amunisi. Kekompakan tim sangat berharga bagi kami selama dalam melakuan pendakian. Sehingga kami bisa kembali pulang ke Jakarta dengan selamat. Mantap!!!

Monday, 9 May 2016

Geliat Wisata di Jatigede

...tempat urang daratang neang impian, kokojayan ngudag-ngudag pangharepan, kabagjaan kahayang sing karandapan, lalugina ulah ukur saliwatan... 
(Tempat kita pada datang mencari impian, berenang-renang mengejar-ngejar harapan, kegembiraan kemauan supaya terlaksanakan, kebahagiaan tidak hanya sementara)


Di atas adalah salah satu bait syair tembang pop Sunda yang berjudul “Jatigede” karya Bah Duyeh, salah satu seniman Sunda yang lahir di Cibungur, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang. Latar belakang Waduk Jatigede telah menjadi inspirasinya untuk berkarya mencipta lagu. Ia melihat keberadaan bendungan Waduk Jatigede sekarang dan di masa mendatang akan dikunjungi banyak orang untuk mencari harapan dan mengejar asa.
Setelah resmi dilakukan pengisian air (impounding) pada 31 Agustus 2015. Waduk yang memiliki kapasitas 980 juta meter kubik air. Volume ketinggian air waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat semakin meningkat.


Meningkatnya ketinggian bendungan Waduk Jatigede itu menjadi daya tarik warga untuk datang melihat pemandangannya sekaligus berfoto-foto. Mereka tidak hanya datang dari dekat bendungan. Terutama yang mempunyai hubungan keluarga dengan warga di sekitar. Tetapi ada juga yang datang dari Bandung, Garut, Tasikmalaya, Indramayu, Majalengka, Cirebon, bahkan dari Jakarta.
Kehadiran warga tidak hanya ramai berdatangan ke dekat tembok bendung utama. Terletak di Desa Cijeungjing, Kecamatan Jatigede. Tetapi  ke lokasi lain, misalnya kewilayah Kecamatan Cisitu, Darmaraja dan Wado.

Dari pengamatan penulis ada beberapa tempat yang banyak didatangi pengunjung. Misalnya di Desa Pakualam, Cibogo, Jatibungur, Kecamatan Darmaraja, dan Blok Tanjungduriat di Desa Pajagan, Kecamatan Cisitu. Bahkan di akhir pekan kehadiran pengunjung jumlahnya semakin meningkat.
Antusias pengunjung berdatangan setiap hari. Menjadi peluang bisnis baru bagi warga di sekitar bendungan Jatigede. Salah satunya dengan usaha mendirikan warung-warung dan menyewakan perahu-perahu dan rakit. Misalnya di Jatibungur, kini sudah berjejer warung menjajakan makanan. Bahkan di lokasi ini juga sudah tersedia beberapa perahu, rakit, dan sepeda air yang siap disewakan kepada para pengunjung.
Bahkan setiap hari saya melihat puluhan pemancing berdatangan dari pagi hingga sore. Ada juga yang mancing pada malam hari dengan menyewa rakit bambu. Mereka ada yang datang perorangan dan juga rombongan.

Untuk lebih menarik pengunjung, warga di Jatibungur memberi nama lokasi wisata air ini sebagai “Banyu Bungur”, mengambil  dari nama asli kampung itu yakni, Cibungur. Bagi Anda yang ingin keliling naik perahu cukup membayar Rp 10.000,- sekali putaran. Bagi yang hobi mancing Anda bisa menyewa rakit bambu  Rp 10,000/hari. Sedangkan untuk sewa sepeda air hanya Rp 5,000,- per jam.
Lokasi wisata air di Desa Jatibungur, Kecamatan Darmaraja cukup strategis. Bisa jadi nantinya akan menjadi salah satu spot wisata air yang menarik. Hal ini bukan tanpa alasan, pertama adalah adanya dukungan akses jalan cukup mudah. Menghubungkan dari kota Bandung-Sumedang ke arah Wado, Garut, Tasikmalaya dan Ciamis.
Kedua dari Jatibungur lokasinya cukup terbuka apabila melihat ke arah timur akan terlihat pemandangan alam bentangan pegunungan Cakrabuana dan view Gunung Ciremai bisa menjadi background yang menarik bagi para penikmat wisata alam.

Tidak hanya itu, dari tempat ini di pagi hari apabila udara cerah bisa melihat sunrise. Munculnya sang surya dari balik kemegahan Gunung Ciremai yang berdiri kokoh. Seolah menjadi saksi bisu terusirnya ribuan manusia demi membangun negeri. Dari tanah leluhur kerajaan Tembong Agung, cikal bakalnya kerajaan Sumedang Larang.
Tetapi yang lalu biarlah berlalu dengan waktu. Apabila ada masalah yang belum beres dari dampak sosial bendungan. Pemerintah mempunyai tanggungjawab moral untuk menyelesaikan persoalan sebaik-baiknya. Jika membiarkan masalah warga tidak diselesaikan dengan baik. Maka akan menjadi dosa besar pemerintah terhadap rakyatnya.

Dan yang utama, bendungan terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Jatiluhur. Bisa cepat memberikan manfaat banyak, bernilai positif bagi masyarakat. Sumberdaya airnya tidak saja digunakan untuk pembangkit tenaga listrik atau irigasi dan pesawahan. Tetapi dapat memberi fungsi lain sebagai pemicu kebangkitan ekonomi di kawasan tersebut.
Secara pribadi saya melihat keberadaan Waduk Jatigede mempunyai prospek bagus. Cukup menjanjikan di masa mendatang. Akan memberika pesona baru terurama bagi perkembangan wisata di Kabupaten Sumedang khususnya, Jawa Barat pada umumnya.

Menurut subuah sumber, Perhutani di Puncakdamar Blok Baros akan mengembangkan ekowisata alam  dengan memanfaatkan area hutan di sekitar waduk. Alternatif lain obyek wisata yang direncanakan oleh pengelola waduk antara lain akan dibangun kawasan offroad, camping ground, agrowisata, waterboomm, hotel, zona pancingan, ataupun wisata seni-budaya.
Bahkan beberapa waktu lalu untuk pemanfaatan sumberdaya air bendungan. Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan sudah tebar 2.5 juta benih ikan lokal di bendungan Jatigede. Targetnya akan ditebar 10 juta benih ikan sisanya akan dipenuhi setiap tahun. Adapun jenis-jenis ikan yang ditebarkan diantaranya: Ikan Patin, Ikan Tambakan, Ikan Emas, Ikan Kancra, Ikan Tawes, Ikan Nilem, Ikan Beureun Panon, Ikan Baung, Ikan Grasscrap, Ikan Bandeng dan Udang Galah.
Dengan ditebarnya berbagai jenis ikan di bendungan tersebut diharapkan kelak bisa dipanen. Sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat di sekitar. Sekarang pun masyarakat bisa bebas memancing atau menjala ikan.




Cuma sayang ketika saya mencoba ikut keliling naik perahu bersama Hadri, mantan kokolot (mantan ketua kampung) di Cibungur. Saya melihat ada warga sedang mencari ikan dengan jerat jaring memanjang (horizontal) di dekat Kampung Lameta. Apabila jarak lubang jaringnya rapat-rapat. Tentu akan mempercepat kepunahan ikan-ikan yang baru saja ditebar. Hal ini secara pribadi saya tidak setuju, berbeda dengan cara dipancing atau dengan dikecrik (dijala).

Lokasi di Desa Jatibungur sebelum tergenang

Dengan kejadian itu diharapkan dinas bersangkutan secepatnya membuat Perda yang mengatur  masalah ini. Tidak hanya itu, adanya penyuluhan dan pembinaan kepada warga sekitar dalam mengembangkan potensi wisata tentu sangat dibutuhkan.  
Rute ke Waduk Jatigede
Bagi yang hobi wista alam dan travelling  tidak salahnya berkunjung ke obyek wisata  Waduk Jatigede di Kabupaten  Sumedang, Jawa Barat.  Lokasi wisata baru ini memang menjanjikan walaupun masih dalam tahap pembenahan. Tetapi cukup menarik untuk dijelajah. Jadi tidak salahnya mencoba berkunjung ke tempat baru ini, akses jalan cukup mudah. Berikut rute menuju bendungan Waduk Jatigede:
*dari Jakarta bisa melalui jalan Tol Jakarta-Cikampek, Cipularang-Cileunyi Bandung terus ke arah Sumedang di Jalan 11 April belok kanan menuju Situraja, Darmaraja. Atau lewat jalan lingkar luar kota Sumedang sehabis terminal bus akan menemukan bundaran Alamsari,  ambil jalan lurus menuju Situraja.

*Bisa juga dari Jakarta melalui jalan Tol Cipali. Keluar di daerah Subang terus menuju arah Sumedang. Dilanjutkan ke arah Tomo-Tolengas-berakhir di Cijeungjing.
* Jika naik bus dari Jakarta bisa naik bus besar jurusan Kampung Rambutan-Sumedang,Wado. Turun di Warung Ketan, Kecamatan Situraja terus ke arah Pajagan ada petunjuk arah ke bendungan Jatigede. Anda bisa juga memilih lokasi lain yang berada di Kecamatan Darmaraja, yaitu di Desa Pakualam, Cibogo atau Jatibungur.
* Sedangkan dari Tasikmalayabisa naik bus 3/4 jurusan Tasikmalaya-Wado-Cikampek.
* Jika naik bus dari terminal Bekasi atau Cikarang bisa naik bus ¾,jurusan Wado-Cikarang-Bekasi dengan tarif Rp 45,000,- Rp 50,00-,- melewati Kabupaten Purwakarta dan Subang.
* Dari Cirebon, Kuningan, Majalengka dan Indramayu, bisa memilih jalan arah Tomo-Tolengas dan berlanjut ke Cijeungjing Jatigede. Dari arah ini bisa langsung menuju gerbang utama tembok bendungan.
Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan sedikit informasi dan bisa bermanfaat bagi para travelling. Selalu untuk berdoa dan berhati-hati dalam perjalanan.

Sunday, 6 December 2015

Gunung Prau Dieng Suguhkan Pesona Kahyangan


“Bangun,… bangun…, ayo bangun kalau kepengen melihat pamandangan bagus! Udah jauh-jauh bayar. Kalau mau numpang tidur jangan di sini, di rumah nenek saja!,” begitu teriak salah satu petugas (ranger) ketika menjelang subuh. Membangunkan ratusan para pendaki yang sedang berkemah di puncak Gunung Prau. Suasana masih gelap, para pendaki satu persatu berhamburan menuju lereng sebelah timur. Mencari posisi yang baik untuk berburu keindahan pemandangan alam.


Itulah sepenggal peristiwa dari Gunung Prau.  Ketika saya bersama teman-teman melakukan pendakian ke gunung tersebut beberapa waktu lalu. Sebanyak 18 pecinta alam ikut serta dalam rombongan. Terdiri dari 13 pria dan 5 wanita. Memulai pemberangkatan dari Jakarta pada Jumat malam sekitar pukul 23.00 WIB. Ini sebenarnya waktu pemberangkatan sangat mepet. Padahal target kami Sabtu pagi sudah harus melakukan pendakian.




Kira-kira pukul 11.30 WIB rombongan kami tiba di Banjarnegara. Terlebih dahulu mampir ke rumah salah satu teman untuk istirahat. Perjalanan kami dari Jakarta ke Banjarnegara menempuh waktu hampir 12 jam, cukup melelahkan. Perkiraan pada hari Sabtu pagi sudah sampai di Banjarnegara ternyata meleset. Apa boleh buat pendakian ke Gunung Prau harus tetap terlaksana. Walaupun kami punya waktu libur sedikit. Setelah makan dan cukup istirahat, sekitar pukul 14.00 WIB kami melanjutkan perjalanan menuju Wonosobo.



Perjalanan dari kota Wonosobo sampai kawasan Pegunungan Dieng sempat diguyur hujan. Keadaan ini menjadikan kami sedikit was-was. Jika hujan terus menerus turun, pasti akan menyulitkan pendakian. Maklum, saya dan teman-teman bukan pendaki profesional. Selain itu kami kurang mengenal kondisi medan jalur pendakian Gunung Prau yang sesungguhnya. Walaupun sebelumnya sudah berusaha mencari informasi tentang Gunung Prau. Tetapi kekhawatiran itu tetap ada.



Akibat guyuran hujan menjelang Dieng laju kendaraan agak lambat. Saya lihat teman-teman sangat menikmati perjalanan itu. Canda dan tawa menyertai perjalanan. Tetapi ada juga yang tidur pulas terbawa mimpinya sendiri. Jalanan di kawasan Dieng yang berkelok-kelok. Di sebelah kiri-kanannya menyuguhkan pemandangan pegunungan yang elok. Tampak pula perkebunan terasering memberi warna tersendiri terhadap panorama perbukitan. Walaupun masih musim kemarau, pesona Dieng tetap menarik untuk dinikmati.  


Sekitar pukul 16.00 WIB kami tiba di Patak Banteng. Track ini memang telah menjadi favorit bagi para pendaki. Melewati jalur Patak Banteng pendakian relatif pendek dibandingkan lewat Dieng. Prakiraan waktu tempuh bisa mencapai antara 2-3 jam. Tetapi jalur Patak Banteng mempunyai tingkat elevasi yang curam. Sehingga kami pun, dan para pendaki lain tidak boleh menganggap enteng jalur ini. Sebenarnya Gunung Prau dapat didaki melalui tiga jalur. Yaitu dari Kenjurang, Patak Banteng, dan Dieng.


Secara geografis Gunung Prau berada di daratan tinggi Dieng, Jawa Tengah. Terletak di antara tiga kabupaten yaitu Kendal, Batang dan Wonosobo. Dengan ketinggian 2.565 meter di atas permukaan laut (mdpl). Gunung Prau paling tinggi di antara Gunung Sipandu, Gunung Pangamun-amun, dan Gunung Juranggrawah yang berada di kawasan Dieng. Gunung Prau, telah menjadi salah satu primadona bagi para pendaki. Karena tidak terlalu tinggi untuk didaki dan jarak tempuh yang pendek. Rasanya ada yang kurang apabila belum mencoba mendaki menikmati keindahan alam dari puncak Gunung Prau.




Setelah turun dari kendaraan. Kami mempersiapkan barang bawaan masing-masing. Sementara Gunawal dan Ipin, kordinator rombongan melapor ke pos jaga. Walaupun hari semakin sore dan sebentar lagi malam akan tiba. Kami melihat para pendaki masih ramai berdatangan. Areal parkir dekat pos jaga pun sudah dipenuhi kendaraan mobil dan motor. Padahal ketika itu hari libur biasa, Sabtu dan Minggu. Tak salah memang jika keberadaan Gunung Prau menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki gunung.



Sekitar pukul 17.00 WIB. Diiringi guyuran hujan rintik-rintik, rombongan kami mengawali pendakian. Raut muka kelelahan belum hilang di wajah teman-teman. Tetapi dengan doa dan keyakinan diri dari masing-masing peserta. Untuk menggapai puncak Gunung Prau masih tetap semangat. Semangat kami bukan untuk menaklukkan alam. Tetapi prinsif kami adalah ingin bersahabat dengan alam. Menikmati dan memelihara keindahan alam yang telah diberikan Tuhan kepada umat manusia.



Baru beberapa langkah dari pos jaga. Track Patak Banteng sudah memberikan tantangan. Padahal masih di sekitar perkampungan penduduk. Di jalur jalanan ini tidak ada istilah pemanasan. Langkah kaki para pendaki tanpa kompromi, akan langsung diajak berjuang melawan tanjakan menuju pos 1 Sikut Dewo. Awal yang lumayan menguras tenaga. Tak ayal banyak para pendaki dibuat kerepotan.


Pelan tapi pasti satu per satu para pendaki tiba di pos 1. Ramainya para pendaki yang datang pada hari itu membuat perjalanan harus antri. Karena jalur pendakian sangat sempit. Naik dari pos pertama ini pendaki  harus berpegang pada batangan bambu. Kami melihat beberapa petugas, ranger Gunung Prau mengawasi para pendaki. Para petugas ini dengan sigap siap membantu apabila ada pendaki yang mendapat kesulitan. Bahkan mereka siap menjadi porter untuk membawa barang sampai ke atas.



Beruntung hujan sudah berhenti. Malah cuaca di sekitar gunung berubah menjadi cerah. Keadaan ini membawa gembira kepada para pendaki. Sebaliknya jika hujan terus menerus turun maka tanah jalur pendakian akan licin. Hal ini tentu tidak diinginkan oleh para pendaki. Karena akan menyulitkan perjalanan menuju puncak. Sepertinya hujan rintik-rintik tadi tidak sampai membasahi ke lapisan tanah bagian bawah. Sehingga ada sebagian jalur tanah gembur yang dilewati para pendaki mengakibatkan debu berterbangan. Beruntung kami mempersiapkan masker agar tidak mengirup debu.




Setelah melewati pos 3, hari semakin sore. Keadaan semakin gelap, para pendaki mulai menyiapkan lampu senter dan head lamp. Semakin ke atas jalur pendakian semakin menanjak. Bahkan ada sebagian dari rombongan kami yang kedodoran, tertinggal jauh di bawah. Melihat keadaan ini kami membuat basecamp darurat di pinggir jalur pendakian, untuk menunggu teman lain. Bahkan Hail, salah satu peserta harus kembali turun menjemput. Membantu membawa barang bawaan.




Ada juga yang mengalami kram kaki. Termasuk salah satu dari teman kami mengalami hal serupa. Kondisi demikian memang sering terjadi dialami oleh sebagian para pendaki. Biasanya disebabkan terlalu kecapean dan beban yang berat. Bisa juga karena kurangnya peregangan otot. Memang di sinilah kerjasama antar para pendaki sangat diperlukan. Bersyukur selama pendakian kami tidak mengalami masalah lebih parah. Memang itu sangat tidak diinginkan oleh kami dan para pendaki lain. Setelah rombongan kami komplit dan cukup istirahat perjalanan dilanjutkan. Sedangkan Ilham dan Alfa yang membawa peralatan tenda diminta naik terlebih dahulu untuk mencari lokasi buat mendirikan tenda.


Alam malam mulai terasa seolah memberi cobaan kepada para pendaki. Dengan tiupan angin dan suhu udara yang semakin dingin. Menusuk-nusuk ke pori-pori kulit tubuh. Sementara di lembah pemukiman penduduk terlihat kelap-kelip lampu penerang. Seolah mengobarkan semangat kepada para pendaki untuk tidak menyerah. Diiringi paduan suara binatang malam bersahutan sepertinya turut menyambut kehadiran kami semua. Dan memberi kabar, bahwa sebentar lagi puncak Gunung Prau akan tergapai.



Sekitar pukul  19.00 WIB rombongan kami tiba. Luar biasa! Camping groud  puncak gunung itu sudah dipenuhi tenda-tenda para pendaki. Bahkan di bukit sebelah timur dan utara Gunung Prau banyak juga para pendaki berkemah. Ketika itu suasana sangat ramai, seperti pasar malam. Agar bisa cepat istirahat, kami segera mendirikan tenda. Mengingat udara di puncak Gunung Prau semakin malam semakin dingin.



Ketika akan mendirikan tenda, saya dan teman-teman agak kerepotan. Disebabkan tipuan angin di puncak gunung sangat kencang. Serta suhu udara sangat dingin sedikit menghambat kerja kami. Bahkan saya dan Gaston agak kesulitan memegang tali tenda karena tangan ikut gemetaran. Tetapi dengan saling bahu-membahu tidak berapa lama empat tenda bisa berdiri. Naomi, dibantu teman wanita lain pun dengan sigap menyiapkan masakan. Sehingga seluruh peserta bisa menikmati makanan dan minuman menyegarkan. Berkat kerjasama yang bagus akhirnya kami pun bisa istirahat dan tidur.



Rasanya tidur belum pulas. Kami sudah terbangunkan oleh teriakan petugas yang datang dari arah  Selatan. Rupanya petugas Gunung Prau sengaja membangunkan para pendaki. Agar bisa menikmati keindahan pemandangan. Tidak berapa lama. Walaupun keadaan masih agak gelap. Tidak peduli hawa dingin dan terpaan angin kencang. Para pendaki berhamburan keluar dari tenda masing-masing. Menuju sisi lereng sebelah timur. Mencari posisi bagus untuk melihat pesona alam dan mengabadikannya.



Inilah keunggulan suguhan indah dari atas Gunung Prau. Padahal gunung ini gundul hanya sedikit ditumbuhi pohon pinus. Tetapi dari puncaknya kita bisa melihat pemandangan cantik. Berawal dari kemunculan garis memanjang warna merah dan gradasi kuning keemasan. Disusul kemunculan sunrise serta penampakan indah Gunung Sindoro dan Sumbing seolah muncul dari atas awan. Serta latar belakang puncak Gunung Merapi, Slamet dan Merbabu. Sehingga semakin indah lukisan alam itu.




Melihat penomena alam itu hampir seluruh pengunjung bersorak. Suatu anugrah Tuhan yang harus kita sukuri. Pantas saja ratusan bahkan ribuan orang rela berdatangan ke puncak Gunung Prau. Tidak hanya pengunjung lokal. Ada juga turis asing berbaur menikmati keindahan alam itu. Saya pribadi yang baru kali pertama datang ke puncak Prau merasa terharu dan gembira. Bersyukur masih bisa menikmati karya Ilahi yang tiada tara. Seperti sedang mimpi di negeri dongeng, berada di kahyangan.



Menurut keterangan Suwikno, salah satu angota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) kawasan Dieng. Hampir setiap libur akhir pekan selalu banyak dikunjungi para pecinta alam dari berbagai daerah. Apalagi kalau hari libur panjang. Serta didukung keadaan cuaca yang bagus. Bisa ribuan pendaki berdatangan ke puncak Gunung Prau.


Padahal menurutnya, di kawasan daratan tinggi Dieng terdapat juga obyek wisata lain yang tak kalah menarik. Ada Kawah Sikidang, Telaga Warna, kompleks Candi Arjuna, Semar dan Srikandi. “Saya siap memandu para wisatawan yang akan berkunjung ke kawasan Dieng dan sekitarnya. Sekaligus mencarikan tempat penginapannya,” kata Suwikno menawarkan diri. Namun menurutnya di kawasan Dieng belum ada hotel, ada juga homestay.


Bagi yang mau menginap bisa secara homestay yang banyak tersebar di sekitar Dieng. Bahkan ia siap mencarikan homestay dari yang kelasnya mahal sampai relatif murah. Rumah petakan juga ada, ujar Suwikno berpromosi. Bagi yang berminat berwisata ke daerah Dieng silahkan menghubungi Pak Suwikno, telepon: 085 868 622 716, 085 328 405 267 atau kirim e-mail: ahmadsuwikno@yahoo.com.


Sekitar jam 9.00 WIB kami beres-beres. Bersiap, karena harus segera meninggalkan puncak Gunung Prau. Rasa cape dan lelah terbayar sudah setelah menyaksikan keindahan alam itu. Untuk kembali pulang, kami sepakat memilih jalur Dieng. Melewati jalur Dieng ini bisa menikmati pemandangan perbukitan dan tanah lapang. Seperti di serial film anak Teletubbies dan Bunga Daisy yang malu-malu mekar karena kemarau panjang ketika itu.



Ternyata banyak juga yang melewati jalur ini. Sepanjang perjalanan kita akan berada di atas pegunungan. Tetapi harus hati-hati melalui jalur ini karena di sisi kiri-kanan terdapat jurang.  Melewati jalur Dieng, kita akan disambut hutan pinus yang memberikan teduh. Dengan akar-akar melintang yang timbul ke permukaan. Dari atas di sepanjang jalan ini juga bisa melihat pemandangan lembah Dieng dan pemukiman penduduk.



Walaupun jarak tempuhnya jauh, tetapi track-nya landai. Karakter jalan ini sangat cocok bagi yang hobi hiking. Menjelang mendekati menara tower ada tiga pilihan jalur jalan. Bisa lewat Kalilembu, jalur Dieng lewat menara tower, dan jalur baru menuju Dieng. Sayang ketika itu saya tidak menemukan petunjuk arah. Agar tidak keliru memilih jalan sebaiknya jangan ragu untuk bertanya. Sekadar informasi, sekarang ada jalur shotcut yang baru dibuka. Jalur alternatif ke arah Dieng ini lebih landai berada di bawah jalur menara tower. Menurut Syarif salah satu ranger, jalur ini bahkan akan diperlebar sehingga lebih nyaman dilewati.



Ada yang menarik melewati jalur Dieng ini. Saya melihat semangat kesigapan dua orang pemungut sampah. Entah itu dari petugas atau relawan. Yang jelas semangatnya patut dicontoh. Kedua orang ini terus menyisir jalur agak ke luar. Seorang di sebelah kiri dan satunya lagi di kanan jalur perbukitan. Mereka memungut sampah-sampah yang sempat tertinggal. Memang, pada umumnya para pendaki sudah membawa pulang sampahnya masing-masing. Para pecinta alam menyadari hal ini. Termasuk dari rombongan kami membawa pulang sampah-sampah itu. Karena ini adalah salah satu komitmen pencinta alam mencintai alamnya.




Sekitar pukul 12.00 WIB rombongan kami semua sudah berkumpul di arel parkir Dieng. Untuk memulihkan kondisi badan yang lelah. Kami memilih istirahat terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalan pulang. Sambil membersihkan debu-debu yang menempel di badan. Dan mengisi perut yang mulai keroncongan.  Di sekitar areal itu banyak juga para pendaki lain yang sedang istirahat. Tampak berderet juga warung makan, toko oleh-oleh dan cenderamata.



Baru sekitar pukul 14.00 WIB rombongan kami pulang meninggalkan kawasan Dieng. Kali ini kami memilih pulang lewat Batang, Kalisari, Pekalongan menuju arah Pantura. Berharap bisa memangkas waktu lebih cepat ternyata di Tegal sampai Brebes kendaraan terjebak macet. Disebabkan diberlakukan sistem buka-tutup jalan karena ada pengecoran jalan raya. Tetapi kami bersyukur bisa tiba kembali ke Jakarta sekitar pukul 2.00 WIB pagi dengan selamat.

Formulir Kirim Surat