menu

Tuesday, 13 September 2016

Saksikan Pohon 'Berdarah' di hutan Gunung Halimun

Ketika bedog (golok) itu digoreskan sedikit saja ke kulitnya. Cairan berwarna merah darah itu membuai keluar. Seketika kami terpana melihatnya. Sambil menatap ujung jari telunjuk sang pemandu yang mencolek lelehan cairan itu. Kami coba mengamati dan mengusap-ngusap yang masih tersisa.

Kejadian itu pada saat ranger mengenalkan salah satu pohon. Yaitu pohon Kimokla. Pohon yang getahnya berwarna merah, percis seperti darah. Bagi yang awam seperti kami tentu mengherankan. Sebab baru kali pertama melihat pohon ‘berdarah’ seperti itu.

Itulah salah satu pengalaman ketika mengisi libur akhir pekan beberapa waktu lalu. Saya penulis, Pak Widodo dan Kang Sanudd -- mencoba menjauh dari hiruk-pikuk keramaian ibukota. Dengan melakukan trekking ekowisata ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Yaitu hutan dataran rendah terbesar di pulau Jawa yang masih tersisa.


Kawasan hutan lebat yang berlokasi di tiga Kabupaten. Meliputi Kabupeten Bogor, Sukabumi, Provinsi Jawa Barat dan Kabupeten Lebak, Provinsi Banten. Hutan tropis itu sudah dijadikan Taman Nasional  sejak tahun 1992. Memiliki keragaman flora dan fauna yang tinggi. Hutan seluas 113.357 hektar itu merupakan rumah bagi 23 spesies mamalia, 200 spesies burung. Serta lebih dari 500 spesies tumbuhan.

Tepatnya kami mengunjungi Kampung Citalahab, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor. Sebuah kampung wisata, atau disebut juga Citalahab Central. Berada di pinggir hutan kawasan Gunung Halimun. Ke kampung yang masih asiri ini sering didatangi para wisatasan, baik lokal maupun asing. Dari berbagai latar belakang profesi.

Sedangkan mayoritas warga Citalahab bekerja sebagai petani penggarap di perkebunan teh Nirmala. Tidak hanya itu. Sebagian warganya juga diberdayakan sebagai mitra kerja. Bersama Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Untuk turut menjaga keseimbangan dan melestarikan hutan itu.
Bahkan rumah penduduk sering dijadikan home stay. Bagi pengunjung yang akan melakukan kegiatan ekowisata. Tetapi jika ingin berkemah. Tersedia juga Camping Ground, lokasinya tidak jauh dari perkampungan itu.



Di Citalahab Central pengunjung bisa melakukan kegiatan jungle trekking, hiking, tea walk, atau mandi di sungai yang airnya masih jernih. Untuk kegiatan jungle trekking ada dua pilihan. Pertama yaitu trekking menuju Curug Macan melewati hutan hujan tropis, canopy trail, pusat penelitian Cikaniki. Kemudian kembali ke penginapan.
Pilihan kedua trekking menuju Curug Cikudapaeh melewati hutan hujan tropis kemudian kembali ke penginapan. Selain itu pengunjung bisa juga hiking ke gunung Kendeng dan puncak Gunung Halimun. Namun dibutuhkan waktu yang lebih lama dan idealnya menginap sekitar 3-5 hari.



Menuju Gunung Halimun
Memulai pemberangkatan dari titik pertemuan di Cimanggu, Bogor. Sekitar pukul 1.00 siang menggunakan dua sepeda motor. Melalui rute Leuwiliang melewati Desa Nanggung,  Desa Curug Bitung, Desa Malasari. Diteruskan ke perkebunan teh Nirmala dan berakhir di Kampung Citalahab. Melalui rute ini jalan beraspal naik turun dan berkelok.  Hati-hati saja sebagian jalan rusak dan berlubang.

Setelah tiba di Desa Malasari akan menemukan pintu gerbang. Sebagai pintu masuk ke Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Hanya saja, mulai dari pintu gerbang sampai ke Kampung Citalahab. Kondisi jalanan berbatu dan tidak rata. Kira-kira sejauh 16 km melewati pemandangan perkebunanan teh.


Di sisa perjalanan itu kami harus berjuang menaklukkan jalanan berbatu. Tidak sedikit kami melewati batu jalan berlumut dan licin. Bahkan sepeda motor yang saya kendarai beberapa kali terpeleset dan sempat terjatuh. Beruntung tidak sampai mencederai badan. Hal yang sama dialami teman saya.
Jalan berbatu itu benar-benar menguras tenaga. Kami harus hati-hati dan berjuang ekstra mengendalikan laju kendaraan. Maklum saya memakai sepeda motor jenis metic. Dengan ban roda pendek. Disamping itu kami tidak mengenal medan jalan yang akan dilalui. Karena baru kali ini berkunjung ke kawasan Gunung Halimun. Lumayan merepotkan, tetapi menarik dan seru.



Ke Citalahab juga bisa melalui jalur Ciawi. Melewati jalan Raya Sukabumi, masuk Desa Parung Kuda, Desa Kabandungan, Desa Cipeteuy. Diteruskan menuju kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Berakhir di Desa Citalahab.
Sekitar pukul 5.00 WIB sore kami tiba di perkampungan Citalahab. Setelah menempuh perjalanan hampir 4 jam dari Bogor. Suasana kampung tampak sepi dan tenang. Langsung saja kami melapor ke Suryana. Dan sekaligus mencari penginapan untuk semalam. Ia adalah sebagai koordinator pengelola lingkungan kampung wisata Citalahab Central.

Tidak butuh waktu lama. Kami pun diantar ke salah satu rumah. Yaitu rumah Ade, yang memang sudah biasa dijadikan sebagai home stay. Dengan ramah pemilik rumah menyambut kami dan mempersilakan masuk. Akhirnya kami bisa istirahat tenang. Memulihkan kondisi badan yang kecapean.
Matahari mulai tenggelam di upuk barat. Tampak kabut putih mulai menyelimuti sebagian hutan Gunung Halimun. Semakin malam udara semakin dingin. Maklum kampung Citalahab berada di pegunungan. Dengan ketinggian sekitar 950 dpl. Saking dinginnya air, pada sore itu kami pun tidak berani mandi.




Selepas magrib, kampung itu ternyata ramai oleh anak-anak bermain. Jauh dari kesan sebuah kampung yang sepi -- berada di hutan yang jauh kesana-kemari. Mereka ada yang belajar mengaji. Ada juga yang latihan bernyanyi, sambil belajar menabuh rebana mengiringi lagu-lagu kosidah.
Tetapi sebaliknya sekitar pukul 8.00 malam. Kampung itu berubah menjadi hening. Hanya terdengar gemercik aliran air dari kali kecil di samping rumah. Diiringi paduan suara binatang malam bersahutan. Diselingi semilir tiupan angin dari arah hutan. Menerpa pepohonan. Daun-daunnya seolah melambai-lambai menyambut kehadiran kami.





Hawa dingin semakin merasuk ke sekujur tubuh. Sambil duduk di bale-bale rumah. Kami coba menghangatkan badan ditemani secangkir kopi. Terlihat bulan hanya sedikit memberi sinar remang. Suasana pada saat itu benar-benar kami nikmati. Malam pun semakin larut. Dan rasa ngantuk pun datang menyerang. Akhirnya kami pun ngeloyor tidur supaya besok pagi bisa segar kembali.
Trekking ke Hutan Halimun
Pagi hari tiba. Sebelum melakukan trekking ke Curug Macan. Kami memilih jalan-jalan berkeliling. Melihat suasana seputar kampung sambil menikmati udara segar jauh dari polusi. Terlihat sebagian warga Citalahab kembali melakukan aktivitasnya.  



Setelah sarapan pagi. Sekitar pukul 8.00, kami berangkat menuju Curug Macan. Diperkirakan jaraknya sekitar 3,5 km dari home stay. Ditemani Ade, pemandu kami bertiga. Melewati hutan lebat Gunung Halimun. Menyusuri jalur jalan setapak yang tertutup rerumputan dan pepohonan.
Hutan yang ditumbuhi beragam pepohonan itu sungguh mengagumkan. Pohon-pohonnya berdiri kokoh menjulang tinggi. Seperti pohon Puspa (Schima wallichii), Rasamala (Altingia excelsa), Tangkur gunung (Lophatherum gracile) -- umbinya dipercaya masarakat setempat dapat dimanfaatkan untuk obat kuat. Diperkirakan pohon-pohon itu sudah berumur puluhan tahun. Bahkan ada yang sudah berumur ratusan tahun.
Sepanjang perjalanan menyusuri hutan. Kami belajar mengenal keberbagai jenis tumbuhan. Seperti berbagai jenis pakis, palem hingga pohon Damar yang dilindungi. Dan mengenal yang bisa dikonsumsi maupun tidak. Misalnya tumbuhan Begonia bisa untuk survival, karena batangnya bisa dikonsumsi. Setelah saya coba, rasanya sedikit asam tapi menyegarkan.
Sebaliknya  pohon Reungas (Parartocarpus venenosus) sebaiknya dihindari. Karena getahnya apabila terkena kulit bisa gatal-gatal hingga menyebabkan luka korengan. Begitu juga tumbuhan Pulus daunnya bisa menyebabkan gatal-gatal. Masih banyak hal lain yang bisa dijadikan pelajaran dan pembelajaran di hutan itu.



Hanya saja pada saat itu kami tidak menemukan Owa. Padahal ketika sedang berkeliling kampung. Kami sempat mendengar lenglingan suara Owa. Menurut keterangan pemandu. Beberapa pohon di sepanjang jalur yang dilalui kami. Biasanya tempat Owa singgah  dan mencari makan. Hal itu ditandai pita putih oleh para peneliti di setiap pohonnya. Untuk memudahkan dalam melakukan riset.
Yang menjadi ironi kami. Ternyata yang sering melakukan penelitian itu orang luar. Misalnya dari Korea Selatan. Terutama para mahasiswa dari Korea Selatan paling rajin. Bahkan mereka rela tinggal berbulan-bulan di Citalahab. Untuk melakukan riset di kawasan hutan Gunung Halimun.

Ketika sampai di lokasi jembatan gantung (Canopy Trail). Sayang sekali kami tidak bisa naik ke atas jembatan tersebut. Karena Canopy Trail sepanjang 125 meter dengan ketinggian 30 meter itu rusak. Tidak bisa dipakai. Disebabkan tiga pohon penopangnya tumbang.
Padahal kami ingin sekali naik untuk menikmati pemandangan dari atas. Melihat kehidupan satwa liar dan burung-burung. Entah kapan jembatan yang sudah menjadi favorit para pengunjung itu diperbaiki lagi? Belum jelas.

Sedikit kecewa tidak bisa naik ke Canopy Trail. Trekking diteruskan ke Stasiun Penelitian Cikaniki. Lokasinya berada di tengah hutan. Balai Penelitian itu dibangun atas kerjasama Pemerintah Indonesia dan Jepang. Di tempat itu kita bisa melihat-lihat beragam tanaman obat dan hias. Tercatat tanaman obat 92 jenis, tanaman hias 70 jenis.
Seandainya punya waktu banyak. Selepas magrib bisa melakukan pengamatan glowing mushroom. Yaitu sebuah penomena unik dari jamur kecil, yang bisa mengeluarkan cahaya hijau berpendar. Biasanya cahaya itu keluar pada malam hari. Cahaya itu adalah akibat proses reaksi kimia. Karena jamur itu memiliki kemampuan bioluminescent.

Dari Balai Penelitian. Dilanjutkan menuju Curug Macan, yang berjarak sekitar 500 meter. Tiba di curug itu, tampak sorak ceria anak-anak muda sedang mandi. Menikmati kucuran air terjun yang jernih. Curug itu tidak terlalu besar, tingginya kira-kira 8 meter. Airnya jatuh mengalir ke kali kecil yang lain. Dimana terdapat batu-batu besar-besar di dalamnya. Jernihnya air kali membuat penasaran ingin mandi berendam.
Selesai dari Curug Macan kemudian kami pulang. Sekaligus trekking melewati perkebunan teh. Pemandangannya cukup menarik. Di perjalanan ini kami bisa menikmati panorama perbukitan kebun teh. Sejauh mata memandang terlihat pegunungan dengan hamparan hijau sungguh menyegarkan.
Perjalanan Pulang
Selesai menikmati petualangan di Gunung Halimun. Kami sampai di penginapan sekitar pukul 12.00 siang. Sebelum pulang, kami menyempatkan  istirahat. Maklum akan menempuh perjalanan jauh. Dalam menentukan perjalanan pulang itu kami sempat bingung.  Antara pulang lewat jalan semula. Atau pulang lewat Desa Cipeuteuy, Kabupaten Sukabumi. Sama-sama jauh, tetapi medannya berbeda karakter.
Akhirnya diputuskan lewat arah Cipeuteuy, Kabupaten Sukabumi, walaupun agak jauh. Tetapi pertimbangannya, jalanan berbatu jaraknya hanya sekitar 8 km. Cuma harus melewati hutan lebat sepanjang itu. Konstur jalan agak landai, naik turunnya sedikit. Sedangkan lewat jalan semula 16 km berbatu, tidak rata, naik turunnya tinggi. Pertimbangan lain adalah, kami ingin mencari suasana berbeda.



Tidak terasa. Terik matahari siang semakin menyengat. Kami pun pamitan pulang kepada tuan rumah, Ade. Sekaligus mengucapkan terima kasih telah menerima dengan baik. Dan mendampingi kami pada liburan singkat di kawasan hutan Gunung Halimun.  Begitu juga ke Suryana, selaku koordinator lingkungan di Citalahab Central.
Sekitar pukul 1.00 siang. Kami meluncur pulang, menyusuri jalan berbatu ke arah Cipeuteuy. Benar juga melalui jalan ini kondisi jalan tidak seberat ketika berangkat. Menariknya, biar perjalanan siang hari tetapi tidak terasa panas. Sebab sepanjang jalan pohon-pohon lebat hutan Gunung Halimun itu memberi teduh kepada kami.
Hanya butuh waktu sekitar satu jam kami sampai di pintu gerbang Desa Cipeuteuy. Dan merasa plong ketika sampai di perkampungan penduduk. Kesempatan itu kami gunakan untu mencari tahu arah jalan. Setelah merasa yakin. Perjalanan pun dilanjutkan menuju Desa Kabandungan terus ke Parung Kuda. Hingga sampailah di jalan utama Sukabumi-Bogor. Bagi kami jalur jalan raya itu sudah tak asing lagi. Dan langsung saja kami meluncur ke arah Bogor.

Menjelang Caringin, perjalanan kami diguyur hujan lebat sampai Bogor. Sekitar pukul 9.00 malam  kami  sampai di rumahnya Sanudd, dan istirahat sebentar. Setelah hujan agak reda, saya meneruskan perjalanan lagi ke Bekasi. Sedangkan Widodo ke Jatiwaringin. Dan bersyukur kami sampai dengan selamat di rumah masing-masing.
Sebuah liburan menarik dan menantang. Walaupun harus menempuh berjalanan jauh. Tetapi suguhan keindahan kawasan hutan lebat Gunung Halimun. Cukup mengobati rasa rindu di keheningan alas bersejarah itu. Bagaimana memaknai hidup yang selaras antara manusia, alam dan Sang Pencipta.

Sebenarnya masih banyak obyek wisata yang tidak kalah menarik di kawasan itu. Tinggal pilih  dan atur saja waktunya. Jika ingin liburan ‘menyepi’ tidak salahnya mencoba ke kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Informasi lebih lengkap silakan bisa menghubungi  Suryana di nomor: 0857 1681 8469, 0858 1494 1502, 0813 1115 0165, ata Ade di nomor: 085720873694.
Berikut daftar harga di home stay Citalahab Central: kamar 1; Rp 100,000/malam, kamar 2; Rp 75,000/malam, extrabed ; Rp 30,000/malam, tenda; Rp 30,000/malam per tenda. Sarapan pagi, makan siang, makan malam @Rp 30,000. Sedangkan guide (pemandu) Rp 120,000 – Rp 150,000. Disarankan jika ingin trekking ke hutan sebaiknya ditemani guide agar tidak kesasar di tengah hutan.

Tuesday, 26 July 2016

Menikmati Cakrawala Biru di Laut Batu Hiu

Bulan di Batu Hiu” adalah sebuah judul lagu pop Sunda. Mengisahkan sebuah janji cinta. Disaksikan bulan purnama dikeindahan Batu Hiu. Dari keindahan Batu Hiu itulah telah menginspirasi Doel Sumbang dalam mencipta. Memang lokasi wisata itu cukup menarik untuk dikunjungi. Rasanya menyesal apabila ke Pangandaran tidak menyempatkan datang ke tempat yang satu ini.

Di sela kesibukan bersilahturahmi, pada hari kedua libur Hari Raya Idul Fitri. Kami berkesempatan mengunjungi Batu Hiu. Obyek wisata yang berlokasi di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi. Salah satu dari beberapa destinasi wisata yang ada di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Padahal waktu itu ingin sekali ke Cukang Taneuh (Green Canyon). Tetapi di tempat itu sangat ramai. Antrian panjang wisatawan lokal maupun asing mengular sampai ke jalan raya. Bagi saya, tak heran pengunjung Green Canyon bakal membludak. Karena obyek wisata yang satu ini sudah menjadi tempat favorit para travaller. Baik lokal maupun asing.

Melihat kondisi demikian. Kami memutuskan ke Batu Hiu. Tidak butuh waktu lama kami pun sampai di lokasi sekitar pukul 10.00 WIB. Dan langsung membeli tiket di pos gerbang utama. Berikut harganya: untuk Sepeda Motor Rp 7,500,-, kendaraan sejenis Mini Bus antara Rp 36,000-, s/d Rp 86,000,-, Bus Sedang Rp 106,000,-, Bus Besar Rp 172, 000,- (harga ini tentatif, sewaktu-waktu bisa berubah).

Setelah melewati pintu gerbang itu. Akan disambut gemuruh gelombang dan deburan ombak pantai laut selatan. Dan akan menemukan bukit batu karang besar. Di sini kesan pertama panorama Batu Hiu belum terlihat. Baru setelah naik ke atas bukit. Suguhan keindahan sebenarnya akan terlihat nyata.


Memasuki kawasan wisata itu ternyata ada dua areal parkir. Di sebelah timur dan barat bukit. Tak jauh dari situ berjejer juga kios-kios. Yang menjual barang-barang cendramata. Seperti kerajinan khas laut, hasil laut, pakaian dan pernak-pernik lain. 

Di kedua tempat parkir itu pun sudah dipenuhi berbagai jenis kendaraan. Baik roda dua maupun empat. Para petugas tampak sibuk mengatur keluar masuk kendaraan yang datang silih berganti.


Untuk menuju ke areal wisata bukit Batu Hiu. Wisatawan terlebih dahulu akan disambut oleh sebuah patung ikan hiu dengan mulut menganga. Para pengunjung masuk melewati lorong berupa mulut ikan itu. Lorong itu pun sekaligus sebagai pintu utama. Posisinya berada di sebelah barat bukit tidak jauh dari tempat parkir.

Bukit yang luasnya kira-kira 6 kali lapangan bola itu, banyak ditumbuhi sejenis pohon Pandan. Pohon segolongan tumbuhan monokotil dari genus Pandanus. Tingginya sekitar 10 meter. Akarnya tinggi-tinggi bersilangan sedikit berduri. Bahkan ada beberapa pohon yang akarnya terlihat unik. Mempunyai nilai seni artistik, ini bisa dijadikan backgrund alternatif untuk berfoto.

Adanya pohon-pohon pandan di sekitar bukit itu. Telah memberikan teduh kepada wisatawan.  Dan melengkapi keindahan Batu Hiu. Disamping keindahan panorama laut lepas Samudra Indonesia. Birunya air laut dan deburan ombak bergulung-gulung. Datang silih berganti meninggalkan buih putih di tepian pantai. Disertai tiupan angin, rasanya ingin sekali berlama-lama di tempat itu.


Di pantai Batu Hiu banyak spot menarik untuk menikmati keindahan. Jika Anda sedang berkunjung ke sini, cobalah berkeliling ke seluruh bukit. Silakan tinggal memilih dari sudut mana ingin menikmati panorama laut. Banyak pilihan.  Misalnya di salah satu tempat mirip tanah Lot di Bali, yang ada gazebo-nya di pinggir tebing. Dari sini sangat ideal untuk melihat cakrawala laut lepas.

Jika melongok ke sebelah timur berjarak sekitar 200 meter ke laut. Ada pemandangan sebuah batu karang menyerupai sirip ikan hiu. Maka lokasi di sini pun disebut Batu Hiu. Sayang, kuatnya terjangan ombak lambat laun mengikis batu karang itu. Tetapi akibat terjangan ombak pula. Menimbulkan semburat cipratan buih putih. Moment ini pun menjadi pemandangan menarik untuk diabadikan.


Ternyata menikmati pemandangan di Batu Hiu tidak selalu dari atas bukit. Bisa juga dari bawah bukit. Jika air laut sedang surut. Tepat di bawah bukit sebelah timur. Ada bongkahan batu karang juga. Tekstur gurat lempengan batu bisa menjadi latar menarik untuk mengambil gambar. Karakter unik obyek wisata di Batu Hiu. Yang didominasi batu karang dan laut lepas. Tempat cocok bagi yang hobi berburu foto.

Bagi yang tidak membawa kamera. Jangan khawatir kehilangan moment penting. Sekadar untuk foto kenang-kenangan di kemudian hari. Di lokasi wisata ini ada jasa foto keliling. Siap membantu mengabadikan diri Anda. Bahkan mereka lebih mengenal spot-spot bagus untuk berfoto.

Untuk memberikan kenyamanan dan keamanan wisatawan. Ketika jalan-jalan mengitari bukit. Penglola membuat jalan konblok sepanjang bukit, lebarnya sekitar dua meter. Di sekeliling bukit pinggir tebing, dibuat juga pagar batas zona aman. Sehingga pengunjung bisa aman dalam menikmati pemandangan.

walaupun sudah dibuat pagar pembatas. Tetapi banyak pengunjung lebih memilih menikmati laut lepas dari pinggir tebing. Padahal tebing itu cukup curam. Bahkan terjangan ombaknya bisa tinggi. Bisa menjangkau bibir tebing. Sangat berbahaya, berisiko terhadap keselamatan jiwa pengunjung.


Sarana pendukung lain di Batu Hiu. Tersedia sebuah mushola dan sarana untuk mandi, cuci, kakus (MCK). Malahan dalam mengantisipasi meningkatnya kehadiran wisatawan ke Batu Hiu. Pengelola mendirikan sebuah tenda darurat sebagai posko kesehatan.

Pada saat kami tiba di bukit Batu Hiu itu. Sudah banyak pengunjung yang datang lebih dulu. Semakin siang kehadiran pengunjung bertambah banyak. Sepertinya ketika itu, peningkatan kunjungan wisatawan tidak hanya ke Batu Hiu saja. Tetapi ke tempat wisata lain di Kabupten Pangandaran mengalami peningkatan.

Memang, destinasi wisata menjadi andalan Kabupaten Pangandaran. Karena di kabupaten pemekaran dari Kabupaten Ciamis itu. Banyak tempat-tempat wisata potensial. Seperti pantai Pangandaran dan Cagar Alamnya yang sudah banyak dikenal. Ada juga lokasi wisata Cukang Taneuh (Green Canyon), Batu Hiu, Goa Citumang, Sinjang Lawang, Batu Karas, Karang Nini, Pantai Karapyak, Wisata Alam Hutan Bakau dan lain-lain.

Tidak terasa refresshing di Batu Hiu. Matahari pun sudah mulai condong ke barat. Tapi masih ada kesempatan untuk meneruskan jalan-jalan bersama keluarga. Langsung saja kami menuju pantai Pangandaran. Walaupun ke pantai Pangandaan sudah beberapa kali berkunjung. Tetapi rasanya tidak pernah bosan menikmati keindahannya. Menjelang sore kami pun pulang, meninggalkan pantai itu. Cerita tentang Pangandaran, tunggu saja di tulisan berikutnya.

Rute ke Batu Hiu
Untuk menuju Batu Hiu mudah terjangkau. Baik oleh kendaraan umum maupun pribadi. Dari Pangandaran ke Batu Hiu berjarak sekitar 14 km menuju arah Cijulang. Apabila sudah di Pangandaran arahkan kendaraan Anda ke barat menuju Parigi-Cijulang. Di Desa Ciliang, dekat jembatan akan menjumpai tugu dengan dua tiang bertuliskan “Batu Hiu”. Di atasnya terdapat patung ikan hiu. Langsung belok kiri.

Apabila membawa kendaraan pribadi dari Jabodetabek. Bisa melewati Bandung-Garut-Tasikmalaya-Ciamis dan Banjar. Sebelum masuk kota Banjar. Bisa belok kanan motong jalan melewati arah terminal. Diteruskan menuju arah Pangandaran, berlanjut ke arah Parigi.


Jika ingin menggunakan bus dari Jakarta. Bisa  di terminal Kampung Rambutan dan Grogol. Langsung naik bus jurusan Pangandaran. Turun di terminal Pangandaran diteruskan naik bus ukuran sedang jurusan Cijulang. Turun di Desa Ciliang, Parigi. Hal yang sama dari Bandung terminal Leuwipanjang, terminal Bekasi, Cikarang dan Karawang. Dari Bogor, Depok dan terminal Cimone, Tangerang.

Waktu tempuh normal dari Jakarta ke Pangandaran diperkirakan 9 jam. Jika menggunakan kendaraan pribadi kira-kira 7 jam. Sedangkan dari Pangandaran ke Batu Hiu sekitar 20 menit. Sekadar gambaran ongkos dari terminal Bekasi sekitar Rp 95.000,-, sedangkan dari Cikarang sekitar Rp 85.000,-.

Selepas Kota Banjar. Jalan menuju ke Pangandaran Batu Hiu tidak begitu lebar. Kondisi aspal cukup bagus. Hati-hati saja menjelang Emplak dan Karang Nini akan melewati jalanan tikungan tajam, turun-naik. Melewati hutan Jati dan jurang. Tetapi jangan khawatir di sepanjang jalur jalanan banyak rambu-rambu dan petunjuk arah.

Bagi yang berkantong tebal bisa naik pesawat terbang carteran dari Husen Sastranegara Bandung. Atau Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Langsung ke lapangan terbang Sukawiru, Parigi.

Agar tidak penasaan. Silakan mencoba liburan ke Batu Hiu. Atau destinati wisata lain di sekitar Pangandaran banyak pilihan. Siapkan saja koceknya. Mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat. Menginspirasi sekaligus sebagai referensi liburan Anda.

Labels

Formulir Kirim Surat