Monumen Illegal Fishing di Pantai Pangandaran

Maaf Mba, batu-batu itu nggak boleh dibawa pulang, nanti bisa kesurupan. Kemarin ada orang dari Bandung kesurupan setelah mengambil batu dari sini, kata tukang perahu kepada salah seorang perempuan setengah baya.

Gunung Prau Dieng Suguhkan Pesona Kahyangan

“Bangun,… bangun…, ayo bangun kalau kepengen melihat pamandangan bagus! Udah jauh-jauh bayar. Kalau mau numpang tidur jangan di sini, di rumah nenek saja!,” begitu teriak salah satu petugas (ranger) ketika menjelang subuh.

Menyaksikan Pohon 'Berdarah' di hutan Gunung Halimun

Ketika bedog (golok) itu digoreskan sedikit saja ke kulitnya. Cairan berwarna merah darah itu membuai keluar. Seketika kami terpana melihatnya. Sambil menatap ujung jari telunjuk sang pemandu yang mencolek lelehan cairan itu.

Menikmati Cakrawala Biru di Laut Batu Hiu

“Bulan di Batu Hiu” adalah sebuah judul lagu pop Sunda. Mengisahkan sebuah janji cinta. Disaksikan bulan purnama dikeindahan Batu Hiu. Dari keindahan Batu Hiu itulah telah menginspirasi Doel Sumbang dalam mencipta.

Hari Kartini di Gunung Gede

Lagu Indonesia Raya pun bergema ketika ratusan pencinta alam memperingati hari Kartini di lembah Gunung Gede-Pangrango. Terasa haru, sebuah rasa nasionalisme yang patut ditiru oleh semua penduduk negeri ini.

Thursday, 20 October 2016

Membuat Halaman Layout di Indesign Cs 6


Perkembangan teknologi sekarang ini semakin maju. Salah satu contoh kemajuan di bidang publishing. Perkembangannya sangat pesat. Berbeda ketika pada tahun 1980-an. Jika akan membuat disain/layout halaman majalah memerlukan beberapa tahapan pengerjaan.

Pertama naskah diketik redaksi. Kemudian diserahkan ke bagian produksi untuk disetting. Oleh bagian setter ini dicari jenis huruf dan ukurannya. Misalnya huruf untuk upperdeck, judul, body teks dan lain-lain. Setelah dirasa cukup terus diprint. 

Tahap berikutnya. Kertas print hasil setting tadi diserahkan ke bagian artistik untuk di layout (paste up). Terus dipotong-potong sesuai kebutuhan disain. Kemudian ditempelkan di kertas master halaman. Jika ada gambar/foto ikut ditempelkan juga. 

Selanjutnya di atas kertas hasil kertas disain/layout itu ditempelkan kertas tipis. Kertas tipis itu gunanya untuk menuliskan kode untuk proses sparasi warna atau montase. Misalnya untuk kode pewarnaan, background, gradasi dan perintah lain. Kemudian diproses disparasi dijadikan filem. Setelah jadi lembaran filem kemudiian dikirim ke percetakan untuk dicetak. 

Itulah sekadar ilustrasi singkat proses mengerjakan disain/layout di media cetak pada tahun 1980-an. Tentu sangat berdeda dengan sekarang. Dimana mengerjakan proses disain/layout cukup dikerjakan oleh seorang. Hanya duduk di depan komputer dengan menyentuh nat-nat keyboard. 

Pesatnya perkembangan teknologi digital publishing, memudahkan dan mempercepat proses produksi. Hal itu  tidak terlepas dari adanya dukungan program-program disain grafis. Misalnya aplikasi PageMaker, Quax Expres, FreeHand, CorelDraw, Pothoshop, In Design dan lain-lain
.
Nah, pada kesempatan ini penulis ingin sedikit berbagi ilmu. Bagaimana menyiapkan halaman untuk disain/layout memakai program InDesign Cs 6. Walaupun penulis bukan seorang pakar. Tetapi paling tidak tulisan berikut ini dapat membawa manfaat. Langsung saja. 

Anggap saja di komputer Anda sudah ada program InDesign CS6. Silakan buka aplikasi InDesign. Sebelum membuat halaman sebaiknya tentukan dulu satuan ukurannya. Bisa dalam mm atau cm sama saja.


1.  Langkah pertama, arahkan panah ke menu Edit. Sorot ke bawah, cari Preferences. Terus cari arahkan kursor ke tulisan Units & Increments. Maka akan muncul dialog box (lihat gambar-1a dan  1b ). Silakan ganti satuan ukuran ke mm atau cm.


gambar-1a

gambar-1b

2.  Setelah itu, arahkan ke File New, atau Ctrl+N (lihat gambar-2 di bawah ini)

gambar-2

3. Kemudian akan terlihat dialog box seperti di bawah ini.  Angka-angka dapat diubah sesuai dengan kebutuhan (lihat gambar-3). Setelah dianggap cocok, klik OK.

gambar-3

4. Selanjutnya akan muncul halaman seperti di bawah ini (gambar-4) sesuai yang diinginkan. Perhatikan garis warna merah. Itu adalah batas keseluruhan areal kerja satu kolom.

gambar-4

5. Selanjutnya menambah jumlah kolom. Arahkan panah ke layout, (lihat gambar lingkaran merah). Maka akan muncul dialog box, Margins and Colomns. Di box itu terdapat angka-angka.  Margins: Top = 10 mm; Button = 15 mm; Inside = 10 mm ; Outside= 10 mm. Itu menunjukan batas areal kerja di dalam satu halaman. Dan tulisan Columns: Number = 3 mm, yaitu untuk jumlah kolom; Gutter = 5 mm, yaitu untuk jarak antar kolom (lihat gambar-5a dan 5b).

gambar-5a

gambar-5b

6. Setelah di klik OK, maka akan muncul  tiga kolom dalam satu halaman. Dan siap untuk mengerjakan layout atau mendisain naskah (gambar-6).


gambar-6

Sampai di sini dulu cara membuat areal kerja di InDesign Cs 6. Selamat mencoba. Mudah-mudahan dapat dimengerti dan bermanfaat. Dan tulisan berikutnya dilanjutkan dengan bagaimana mengambil images foto atau tulisan ke dalam halaman kerja.

Sunday, 16 October 2016

Mengenal Pohon Jarak dan Manfaatnya

Masyarakat Indonesia pada umumnya sudah mengenal pohon jarak (Ricinus communis). Yaitu sejenis tanaman perdu. Merupakan spesies tanaman dari Euphorbiaceae dan tergolong ke dalam genus Ricinus, subtribe Ricininae.

Ada bebera jenis kandungan yang biasa ditemukan pada pohon jarak yaitu; Quercetin, Kaaemperol, Nocotiflorin, Astragalin. Pohon jarak mengandung juga zat ricin, sejenis racun mematikan. Mempunyai rasa pahit, astrigent, sejuk. Kaya akan asam lemak hidroksi, yaitu asam ricinoleat. Mempunyai kekentalan yang stabil sangat baik untuk campuran pelumas.

Penyebutan nama pohon jarak di beberapa daerah berbeda. Misalnya di Jawa Barat di sebut Kaliki, Jarak jitun. Di Madura dikenal dengan nama Kalek. Di Sumatra menyebutnya Dulang dan Gloah atau Nawaih nawas. Orang Sulawesi menyebut, Kalalei, Alale, Tangang jara, Peleng kaliki jera. Sedangkan di Timor disebut Paku penuai, dan Balacai tamekot di Halmahera. Serta, Tetanga di Bima, Lulu nau di Nusa Tenggara, dan Muun mav di Maluku.

Pada zaman penjajahan konon pohon jarak sudah menjadi rebutan. Sebagai komoditi untuk bahan bakar dan pelumas. Bahkan di beberapa negara pohon ini sudah dikembangkan. Misalnya di India sudah diadopsi sebagai bahan bakar untuk kereta api. Sebagai energi alternatif terbarukan.


Pohon ini biasanya ditanam sebagai pagar pekarangan rumah. Banyak tumbuh di daerah pesisir pantai. Pohon jarak merupakan tumbuhan yang berasal dari kawasan tropis dan subtropis, dan tumbuh subur di kawasan Amerika Selatan, Amerika Utara, Afrika, dan di Asia.

Pohon jarak tingginya berkisar 4-5 meter. Memiliki batang berbentuk bulat. Daun batang tunggal, berseling berbentuk bulat. Ujungnya runcing, berwarna hijau. Buahnya bulat berkumpul dalam satu tandan. Buah muda warnanya hijau muda. Sedangkan buah yang sudah tua hijau tua agak kehitaman.

Banyak manfaat yang bisa didapat dari pohon jarak atau Ma feng shu, nama China-nya. Kandungan senyawa yang terdapat pada pohon jarak bisa dijadikan herbal. Sebagai obat bagi kesehatan. Misalnya untuk mengobati; Gigi berlubang, mengobati radang telinga, mengobati sariawan, mengobati sakit perut, Susah buang air besar (Constipation) dan lain-lain.

Maka dengan demikian jangan sepelekan pohon yang satu ini. Ternyata tidak hanya sekedar buat pagar pembatas saja. Ternyata pohon jarak mempunyai banyak manfaatnya juga.

Tuesday, 13 September 2016

Menyaksikan Pohon 'Berdarah' di hutan Gunung Halimun


Ketika bedog (golok) itu digoreskan sedikit saja ke kulitnya. Cairan berwarna merah darah itu membuai keluar. Seketika kami terpana melihatnya. Sambil menatap ujung jari telunjuk sang pemandu yang mencolek lelehan cairan itu. Kami coba mengamati dan mengusap-ngusap yang masih tersisa.















Kejadian itu pada saat ranger mengenalkan salah satu pohon. Yaitu pohon Kimokla. Pohon yang getahnya berwarna merah, percis seperti darah. Bagi yang awam seperti kami tentu mengherankan. Sebab baru kali pertama melihat pohon ‘berdarah’ seperti itu.


Itulah salah satu pengalaman ketika mengisi libur akhir pekan beberapa waktu lalu. Saya penulis, Pak Widodo dan Kang Sanudd -- mencoba menjauh dari hiruk-pikuk keramaian ibukota. Dengan melakukan trekking ekowisata ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Yaitu hutan dataran rendah terbesar di pulau Jawa yang masih tersisa.


Kawasan hutan lebat yang berlokasi di tiga Kabupaten. Meliputi Kabupeten Bogor, Sukabumi, Provinsi Jawa Barat dan Kabupeten Lebak, Provinsi Banten. Hutan tropis itu sudah dijadikan Taman Nasional  sejak tahun 1992. Memiliki keragaman flora dan fauna yang tinggi. Hutan seluas 113.357 hektar itu merupakan rumah bagi 23 spesies mamalia, 200 spesies burung. Serta lebih dari 500 spesies tumbuhan.

Tepatnya kami mengunjungi Kampung Citalahab, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor. Sebuah kampung wisata, atau disebut juga Citalahab Central. Berada di pinggir hutan kawasan Gunung Halimun. Ke kampung yang masih asiri ini sering didatangi para wisatasan, baik lokal maupun asing. Dari berbagai latar belakang profesi.


Sedangkan mayoritas warga Citalahab bekerja sebagai petani penggarap di perkebunan teh Nirmala. Tidak hanya itu. Sebagian warganya juga diberdayakan sebagai mitra kerja. Bersama Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Untuk turut menjaga keseimbangan dan melestarikan hutan itu.
Bahkan rumah penduduk sering dijadikan home stay. Bagi pengunjung yang akan melakukan kegiatan ekowisata. Tetapi jika ingin berkemah. Tersedia juga Camping Ground, lokasinya tidak jauh dari perkampungan itu.
Di Citalahab Central pengunjung bisa melakukan kegiatan jungle trekking, hiking, tea walk, atau mandi di sungai yang airnya masih jernih. Untuk kegiatan jungle trekking ada dua pilihan. Pertama yaitu trekking menuju Curug Macan melewati hutan hujan tropis, canopy trail, pusat penelitian Cikaniki. Kemudian kembali ke penginapan.
Pilihan kedua trekking menuju Curug Cikudapaeh melewati hutan hujan tropis kemudian kembali ke penginapan. Selain itu pengunjung bisa juga hiking ke gunung Kendeng dan puncak Gunung Halimun. Namun dibutuhkan waktu yang lebih lama dan idealnya menginap sekitar 3-5 hari.



Menuju Gunung Halimun
Memulai pemberangkatan dari titik pertemuan di Cimanggu, Bogor. Sekitar pukul 1.00 siang menggunakan dua sepeda motor. Melalui rute Leuwiliang melewati Desa Nanggung,  Desa Curug Bitung, Desa Malasari. Diteruskan ke perkebunan teh Nirmala dan berakhir di Kampung Citalahab. Melalui rute ini jalan beraspal naik turun dan berkelok.  Hati-hati saja sebagian jalan rusak dan berlubang.


Setelah tiba di Desa Malasari akan menemukan pintu gerbang. Sebagai pintu masuk ke Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Hanya saja, mulai dari pintu gerbang sampai ke Kampung Citalahab. Kondisi jalanan berbatu dan tidak rata. Kira-kira sejauh 16 km melewati pemandangan perkebunanan teh.



Di sisa perjalanan itu kami harus berjuang menaklukkan jalanan berbatu. Tidak sedikit kami melewati batu jalan berlumut dan licin. Bahkan sepeda motor yang saya kendarai beberapa kali terpeleset dan sempat terjatuh. Beruntung tidak sampai mencederai badan. Hal yang sama dialami teman saya.
Jalan berbatu itu benar-benar menguras tenaga. Kami harus hati-hati dan berjuang ekstra mengendalikan laju kendaraan. Maklum saya memakai sepeda motor jenis metic. Dengan ban roda pendek. Disamping itu kami tidak mengenal medan jalan yang akan dilalui. Karena baru kali ini berkunjung ke kawasan Gunung Halimun. Lumayan merepotkan, tetapi menarik dan seru.


Ke Citalahab juga bisa melalui jalur Ciawi. Melewati jalan Raya Sukabumi, masuk Desa Parung Kuda, Desa Kabandungan, Desa Cipeteuy. Diteruskan menuju kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Berakhir di Desa Citalahab.
Sekitar pukul 5.00 WIB sore kami tiba di perkampungan Citalahab. Setelah menempuh perjalanan hampir 4 jam dari Bogor. Suasana kampung tampak sepi dan tenang. Langsung saja kami melapor ke Suryana. Dan sekaligus mencari penginapan untuk semalam. Ia adalah sebagai koordinator pengelola lingkungan kampung wisata Citalahab Central.


Tidak butuh waktu lama. Kami pun diantar ke salah satu rumah. Yaitu rumah Ade, yang memang sudah biasa dijadikan sebagai home stay. Dengan ramah pemilik rumah menyambut kami dan mempersilakan masuk. Akhirnya kami bisa istirahat tenang. Memulihkan kondisi badan yang kecapean.
Matahari mulai tenggelam di upuk barat. Tampak kabut putih mulai menyelimuti sebagian hutan Gunung Halimun. Semakin malam udara semakin dingin. Maklum kampung Citalahab berada di pegunungan. Dengan ketinggian sekitar 950 dpl. Saking dinginnya air, pada sore itu kami pun tidak berani mandi.




Selepas magrib, kampung itu ternyata ramai oleh anak-anak bermain. Jauh dari kesan sebuah kampung yang sepi -- berada di hutan yang jauh kesana-kemari. Mereka ada yang belajar mengaji. Ada juga yang latihan bernyanyi, sambil belajar menabuh rebana mengiringi lagu-lagu kosidah.
Tetapi sebaliknya sekitar pukul 8.00 malam. Kampung itu berubah menjadi hening. Hanya terdengar gemercik aliran air dari kali kecil di samping rumah. Diiringi paduan suara binatang malam bersahutan. Diselingi semilir tiupan angin dari arah hutan. Menerpa pepohonan. Daun-daunnya seolah melambai-lambai menyambut kehadiran kami.



Hawa dingin semakin merasuk ke sekujur tubuh. Sambil duduk di bale-bale rumah. Kami coba menghangatkan badan ditemani secangkir kopi. Terlihat bulan hanya sedikit memberi sinar remang. Suasana pada saat itu benar-benar kami nikmati. Malam pun semakin larut. Dan rasa ngantuk pun datang menyerang. Akhirnya kami pun ngeloyor tidur supaya besok pagi bisa segar kembali.
Trekking ke Hutan Halimun
Pagi hari tiba. Sebelum melakukan trekking ke Curug Macan. Kami memilih jalan-jalan berkeliling. Melihat suasana seputar kampung sambil menikmati udara segar jauh dari polusi. Terlihat sebagian warga Citalahab kembali melakukan aktivitasnya.  



Setelah sarapan pagi. Sekitar pukul 8.00, kami berangkat menuju Curug Macan. Diperkirakan jaraknya sekitar 3,5 km dari home stay. Ditemani Ade, pemandu kami bertiga. Melewati hutan lebat Gunung Halimun. Menyusuri jalur jalan setapak yang tertutup rerumputan dan pepohonan.
Hutan yang ditumbuhi beragam pepohonan itu sungguh mengagumkan. Pohon-pohonnya berdiri kokoh menjulang tinggi. Seperti pohon Puspa (Schima wallichii), Rasamala (Altingia excelsa), Tangkur gunung (Lophatherum gracile) -- umbinya dipercaya masarakat setempat dapat dimanfaatkan untuk obat kuat. Diperkirakan pohon-pohon itu sudah berumur puluhan tahun. Bahkan ada yang sudah berumur ratusan tahun.
Sepanjang perjalanan menyusuri hutan. Kami belajar mengenal keberbagai jenis tumbuhan. Seperti berbagai jenis pakis, palem hingga pohon Damar yang dilindungi. Dan mengenal yang bisa dikonsumsi maupun tidak. Misalnya tumbuhan Begonia bisa untuk survival, karena batangnya bisa dikonsumsi. Setelah saya coba, rasanya sedikit asam tapi menyegarkan.
Sebaliknya  pohon Reungas (Parartocarpus venenosus) sebaiknya dihindari. Karena getahnya apabila terkena kulit bisa gatal-gatal hingga menyebabkan luka korengan. Begitu juga tumbuhan Pulus daunnya bisa menyebabkan gatal-gatal. Masih banyak hal lain yang bisa dijadikan pelajaran dan pembelajaran di hutan itu.



Hanya saja pada saat itu kami tidak menemukan Owa. Padahal ketika sedang berkeliling kampung. Kami sempat mendengar lenglingan suara Owa. Menurut keterangan pemandu. Beberapa pohon di sepanjang jalur yang dilalui kami. Biasanya tempat Owa singgah  dan mencari makan. Hal itu ditandai pita putih oleh para peneliti di setiap pohonnya. Untuk memudahkan dalam melakukan riset.
Yang menjadi ironi kami. Ternyata yang sering melakukan penelitian itu orang luar. Misalnya dari Korea Selatan. Terutama para mahasiswa dari Korea Selatan paling rajin. Bahkan mereka rela tinggal berbulan-bulan di Citalahab. Untuk melakukan riset di kawasan hutan Gunung Halimun.


Ketika sampai di lokasi jembatan gantung (Canopy Trail). Sayang sekali kami tidak bisa naik ke atas jembatan tersebut. Karena Canopy Trail sepanjang 125 meter dengan ketinggian 30 meter itu rusak. Tidak bisa dipakai. Disebabkan tiga pohon penopangnya tumbang.
Padahal kami ingin sekali naik untuk menikmati pemandangan dari atas. Melihat kehidupan satwa liar dan burung-burung. Entah kapan jembatan yang sudah menjadi favorit para pengunjung itu diperbaiki lagi? Belum jelas.


Sedikit kecewa tidak bisa naik ke Canopy Trail. Trekking diteruskan ke Stasiun Penelitian Cikaniki. Lokasinya berada di tengah hutan. Balai Penelitian itu dibangun atas kerjasama Pemerintah Indonesia dan Jepang. Di tempat itu kita bisa melihat-lihat beragam tanaman obat dan hias. Tercatat tanaman obat 92 jenis, tanaman hias 70 jenis.
Seandainya punya waktu banyak. Selepas magrib bisa melakukan pengamatan glowing mushroom. Yaitu sebuah penomena unik dari jamur kecil, yang bisa mengeluarkan cahaya hijau berpendar. Biasanya cahaya itu keluar pada malam hari. Cahaya itu adalah akibat proses reaksi kimia. Karena jamur itu memiliki kemampuan bioluminescent.


Dari Balai Penelitian. Dilanjutkan menuju Curug Macan, yang berjarak sekitar 500 meter. Tiba di curug itu, tampak sorak ceria anak-anak muda sedang mandi. Menikmati kucuran air terjun yang jernih. Curug itu tidak terlalu besar, tingginya kira-kira 8 meter. Airnya jatuh mengalir ke kali kecil yang lain. Dimana terdapat batu-batu besar-besar di dalamnya. Jernihnya air kali membuat penasaran ingin mandi berendam.
Selesai dari Curug Macan kemudian kami pulang. Sekaligus trekking melewati perkebunan teh. Pemandangannya cukup menarik. Di perjalanan ini kami bisa menikmati panorama perbukitan kebun teh. Sejauh mata memandang terlihat pegunungan dengan hamparan hijau sungguh menyegarkan.
Perjalanan Pulang
Selesai menikmati petualangan di Gunung Halimun. Kami sampai di penginapan sekitar pukul 12.00 siang. Sebelum pulang, kami menyempatkan  istirahat. Maklum akan menempuh perjalanan jauh. Dalam menentukan perjalanan pulang itu kami sempat bingung.  Antara pulang lewat jalan semula. Atau pulang lewat Desa Cipeuteuy, Kabupaten Sukabumi. Sama-sama jauh, tetapi medannya berbeda karakter.
Akhirnya diputuskan lewat arah Cipeuteuy, Kabupaten Sukabumi, walaupun agak jauh. Tetapi pertimbangannya, jalanan berbatu jaraknya hanya sekitar 8 km. Cuma harus melewati hutan lebat sepanjang itu. Konstur jalan agak landai, naik turunnya sedikit. Sedangkan lewat jalan semula 16 km berbatu, tidak rata, naik turunnya tinggi. Pertimbangan lain adalah, kami ingin mencari suasana berbeda.



Tidak terasa. Terik matahari siang semakin menyengat. Kami pun pamitan pulang kepada tuan rumah, Ade. Sekaligus mengucapkan terima kasih telah menerima dengan baik. Dan mendampingi kami pada liburan singkat di kawasan hutan Gunung Halimun.  Begitu juga ke Suryana, selaku koordinator lingkungan di Citalahab Central.
Sekitar pukul 1.00 siang. Kami meluncur pulang, menyusuri jalan berbatu ke arah Cipeuteuy. Benar juga melalui jalan ini kondisi jalan tidak seberat ketika berangkat. Menariknya, biar perjalanan siang hari tetapi tidak terasa panas. Sebab sepanjang jalan pohon-pohon lebat hutan Gunung Halimun itu memberi teduh kepada kami.
Hanya butuh waktu sekitar satu jam kami sampai di pintu gerbang Desa Cipeuteuy. Dan merasa plong ketika sampai di perkampungan penduduk. Kesempatan itu kami gunakan untu mencari tahu arah jalan. Setelah merasa yakin. Perjalanan pun dilanjutkan menuju Desa Kabandungan terus ke Parung Kuda. Hingga sampailah di jalan utama Sukabumi-Bogor. Bagi kami jalur jalan raya itu sudah tak asing lagi. Dan langsung saja kami meluncur ke arah Bogor.


Menjelang Caringin, perjalanan kami diguyur hujan lebat sampai Bogor. Sekitar pukul 9.00 malam  kami  sampai di rumahnya Sanudd, dan istirahat sebentar. Setelah hujan agak reda, saya meneruskan perjalanan lagi ke Bekasi. Sedangkan Widodo ke Jatiwaringin. Dan bersyukur kami sampai dengan selamat di rumah masing-masing.
Sebuah liburan menarik dan menantang. Walaupun harus menempuh berjalanan jauh. Tetapi suguhan keindahan kawasan hutan lebat Gunung Halimun. Cukup mengobati rasa rindu di keheningan alas bersejarah itu. Bagaimana memaknai hidup yang selaras antara manusia, alam dan Sang Pencipta.


Sebenarnya masih banyak obyek wisata yang tidak kalah menarik di kawasan itu. Tinggal pilih  dan atur saja waktunya. Jika ingin liburan ‘menyepi’ tidak salahnya mencoba ke kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Informasi lebih lengkap silakan bisa menghubungi  Suryana di nomor: 0857 1681 8469, 0858 1494 1502, 0813 1115 0165, ata Ade di nomor: 085720873694.
Berikut daftar harga di home stay Citalahab Central: kamar 1; Rp 100,000/malam, kamar 2; Rp 75,000/malam, extrabed ; Rp 30,000/malam, tenda; Rp 30,000/malam per tenda. Sarapan pagi, makan siang, makan malam @Rp 30,000. Sedangkan guide (pemandu) Rp 120,000 – Rp 150,000. Disarankan jika ingin trekking ke hutan sebaiknya ditemani guide agar tidak kesasar di tengah hutan.

(silakan baca; Hari Kartini di Gunung Gede)