Monumen Illegal Fishing di Pantai Pangandaran

Maaf Mba, batu-batu itu nggak boleh dibawa pulang, nanti bisa kesurupan. Kemarin ada orang dari Bandung kesurupan setelah mengambil batu dari sini, kata tukang perahu kepada salah seorang perempuan setengah baya.

Gunung Prau Dieng Suguhkan Pesona Kahyangan

“Bangun,… bangun…, ayo bangun kalau kepengen melihat pamandangan bagus! Udah jauh-jauh bayar. Kalau mau numpang tidur jangan di sini, di rumah nenek saja!,” begitu teriak salah satu petugas (ranger) ketika menjelang subuh.

Menyaksikan Pohon 'Berdarah' di hutan Gunung Halimun

Ketika bedog (golok) itu digoreskan sedikit saja ke kulitnya. Cairan berwarna merah darah itu membuai keluar. Seketika kami terpana melihatnya. Sambil menatap ujung jari telunjuk sang pemandu yang mencolek lelehan cairan itu.

Menikmati Cakrawala Biru di Laut Batu Hiu

“Bulan di Batu Hiu” adalah sebuah judul lagu pop Sunda. Mengisahkan sebuah janji cinta. Disaksikan bulan purnama dikeindahan Batu Hiu. Dari keindahan Batu Hiu itulah telah menginspirasi Doel Sumbang dalam mencipta.

Hari Kartini di Gunung Gede

Lagu Indonesia Raya pun bergema ketika ratusan pencinta alam memperingati hari Kartini di lembah Gunung Gede-Pangrango. Terasa haru, sebuah rasa nasionalisme yang patut ditiru oleh semua penduduk negeri ini.

Tuesday, 26 July 2016

Menikmati Cakrawala Biru di Laut Batu Hiu



Bulan di Batu Hiu” adalah sebuah judul lagu pop Sunda. Mengisahkan sebuah janji cinta. Disaksikan bulan purnama dikeindahan Batu Hiu. Dari keindahan Batu Hiu itulah telah menginspirasi Doel Sumbang dalam mencipta. Memang lokasi wisata itu cukup menarik untuk dikunjungi. Rasanya menyesal apabila ke Pangandaran tidak menyempatkan datang ke tempat yang satu ini.

Di sela kesibukan bersilahturahmi, pada hari kedua libur Hari Raya Idul Fitri. Kami berkesempatan mengunjungi Batu Hiu. Obyek wisata yang berlokasi di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi. Salah satu dari beberapa destinasi wisata yang ada di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Pada awalnya kami ingin sekali ke Cukang Taneuh (Green Canyon). Tetapi di tempat itu sangat ramai. Antrian panjang wisatawan lokal maupun asing mengular sampai ke jalan raya. Buat saya tidak heran, pengunjung Green Canyon bakal membludak. Karena obyek wisata yang satu ini sudah menjadi tempat favorit para travaller baik lokal maupun asing.

Melihat kondisi demikian. Kami memutuskan ke Batu Hiu, tidak butuh waktu lama kami pun sampai di lokasi sekitar pukul 10.00 WIB. Dan langsung membeli tiket di pos gerbang utama. Berikut harganya: untuk Sepeda Motor Rp 7,500,-, kendaraan sejenis Mini Bus antara Rp 36,000-, s/d Rp 86,000,-, Bus Sedang Rp 106,000,-, Bus Besar Rp 172, 000,- (harga ini tentatif, sewaktu-waktu bisa berubah).

Setelah melewati pintu gerbang itu. Akan disambut gemuruh gelombang dan deburan ombak pantai laut selatan. Dan akan menemukan bukit batu karang besar. Di sini kesan pertama panorama Batu Hiu belum terlihat. Baru setelah naik ke atas bukit. Suguhan keindahan sebenarnya akan terlihat nyata.


Memasuki kawasan wisata itu ternyata ada dua areal parkir. Di sebelah timur dan barat bukit. Tak jauh dari situ berjejer juga kios-kios. Yang menjual barang-barang cendramata. Seperti kerajinan khas laut, hasil laut, pakaian dan pernak-pernik lain. 

Di kedua tempat parkir itu pun sudah dipenuhi berbagai jenis kendaraan. Baik roda dua maupun empat. Para petugas tampak sibuk mengatur keluar masuk kendaraan yang datang silih berganti.


Untuk menuju ke areal wisata bukit Batu Hiu. Wisatawan terlebih dahulu akan disambut oleh sebuah patung ikan hiu dengan mulut menganga. Para pengunjung masuk melewati lorong berupa mulut ikan itu. Lorong itu pun sekaligus sebagai pintu utama. Posisinya berada di sebelah barat bukit tidak jauh dari tempat parkir.

Bukit yang luasnya kira-kira 6 kali lapangan bola itu, banyak ditumbuhi sejenis pohon Pandan. Pohon segolongan tumbuhan monokotil dari genus Pandanus. Tingginya sekitar 10 meter. Akarnya tinggi-tinggi bersilangan sedikit berduri. Bahkan ada beberapa pohon yang akarnya terlihat unik. Mempunyai nilai seni artistik, ini bisa dijadikan backgrund alternatif untuk berfoto.

Adanya pohon-pohon pandan di sekitar bukit itu. Telah memberikan teduh kepada wisatawan.  Dan melengkapi keindahan Batu Hiu. Disamping keindahan panorama laut lepas Samudra Indonesia. Birunya air laut dan deburan ombak bergulung-gulung. Datang silih berganti meninggalkan buih putih di tepian pantai. Disertai tiupan angin, rasanya ingin sekali berlama-lama di tempat itu.


Di pantai Batu Hiu banyak spot menarik untuk menikmati keindahan. Jika Anda sedang berkunjung ke sini, cobalah berkeliling ke seluruh bukit. Silakan tinggal memilih dari sudut mana ingin menikmati panorama laut. Banyak pilihan.  Misalnya di salah satu tempat mirip tanah Lot di Bali, yang ada gazebo-nya di pinggir tebing. Dari sini sangat ideal untuk melihat cakrawala laut lepas.

Jika melongok ke sebelah timur berjarak sekitar 200 meter ke laut. Ada pemandangan sebuah batu karang menyerupai sirip ikan hiu. Maka lokasi di sini pun disebut Batu Hiu. Sayang, kuatnya terjangan ombak lambat laun mengikis batu karang itu. Tetapi akibat terjangan ombak pula. Menimbulkan semburat cipratan buih putih. Moment ini pun menjadi pemandangan menarik untuk diabadikan.


Ternyata menikmati pemandangan di Batu Hiu tidak selalu dari atas bukit. Bisa juga dari bawah bukit. Jika air laut sedang surut. Tepat di bawah bukit sebelah timur. Ada bongkahan batu karang juga. Tekstur gurat lempengan batu bisa menjadi latar menarik untuk mengambil gambar. Karakter unik obyek wisata di Batu Hiu. Yang didominasi batu karang dan laut lepas. Tempat cocok bagi yang hobi berburu foto.

Bagi yang tidak membawa kamera. Jangan khawatir kehilangan moment penting. Sekadar untuk foto kenang-kenangan di kemudian hari. Di lokasi wisata ini ada jasa foto keliling. Siap membantu mengabadikan diri Anda. Bahkan mereka lebih mengenal spot-spot bagus untuk berfoto.

Untuk memberikan kenyamanan dan keamanan wisatawan. Ketika jalan-jalan mengitari bukit. Penglola membuat jalan konblok sepanjang bukit, lebarnya sekitar dua meter. Di sekeliling bukit pinggir tebing, dibuat juga pagar batas zona aman. Sehingga pengunjung bisa aman dalam menikmati pemandangan.

walaupun sudah dibuat pagar pembatas. Tetapi banyak pengunjung lebih memilih menikmati laut lepas dari pinggir tebing. Padahal tebing itu cukup curam. Bahkan terjangan ombaknya bisa tinggi. Bisa menjangkau bibir tebing. Sangat berbahaya, berisiko terhadap keselamatan jiwa pengunjung.


Sarana pendukung lain di Batu Hiu. Tersedia sebuah mushola dan sarana untuk mandi, cuci, kakus (MCK). Malahan dalam mengantisipasi meningkatnya kehadiran wisatawan ke Batu Hiu. Pengelola mendirikan sebuah tenda darurat sebagai posko kesehatan.

Pada saat kami tiba di bukit Batu Hiu itu. Sudah banyak pengunjung yang datang lebih dulu. Semakin siang kehadiran pengunjung bertambah banyak. Sepertinya ketika itu, peningkatan kunjungan wisatawan tidak hanya ke Batu Hiu saja. Tetapi ke tempat wisata lain di Kabupten Pangandaran mengalami peningkatan.

Memang, destinasi wisata menjadi andalan Kabupaten Pangandaran. Karena di kabupaten pemekaran dari Kabupaten Ciamis itu. Banyak tempat-tempat wisata potensial. Seperti pantai Pangandaran dan Cagar Alamnya yang sudah banyak dikenal. Ada juga lokasi wisata Cukang Taneuh (Green Canyon), Batu Hiu, Goa Citumang, Sinjang Lawang, Batu Karas, Karang Nini, Pantai Karapyak, Wisata Alam Hutan Bakau dan lain-lain.

Tidak terasa refreshing di Batu Hiu. Matahari pun sudah mulai condong ke barat. Tapi masih ada kesempatan untuk meneruskan jalan-jalan bersama keluarga. Langsung saja kami menuju pantai Pangandaran. Walaupun ke pantai Pangandaan sudah beberapa kali berkunjung. Tetapi rasanya tidak pernah bosan menikmati keindahannya. Menjelang sore kami pun pulang, meninggalkan pantai itu. Cerita tentang Pangandaran, tunggu saja di tulisan: Monumen Illegal Fishing di Pantai Pangandaran

Rute ke Batu Hiu
Untuk menuju Batu Hiu mudah terjangkau. Baik oleh kendaraan umum maupun pribadi. Dari Pangandaran ke Batu Hiu berjarak sekitar 14 km menuju arah Cijulang. Apabila sudah di Pangandaran arahkan kendaraan Anda ke barat menuju Parigi-Cijulang. Di Desa Ciliang, dekat jembatan akan menjumpai tugu dengan dua tiang bertuliskan “Batu Hiu”. Di atasnya terdapat patung ikan hiu. Langsung belok kiri.

Apabila membawa kendaraan pribadi dari Jabodetabek. Bisa melewati Bandung-Garut-Tasikmalaya-Ciamis dan Banjar. Sebelum masuk kota Banjar. Bisa belok kanan motong jalan melewati arah terminal. Diteruskan menuju arah Pangandaran, berlanjut ke arah Parigi.



















Jika ingin menggunakan bus dari Jakarta. Bisa  di terminal Kampung Rambutan dan Grogol. Langsung naik bus jurusan Pangandaran. Turun di terminal Pangandaran diteruskan naik bus ukuran sedang jurusan Cijulang. Turun di Desa Ciliang, Parigi. Hal yang sama dari Bandung terminal Leuwipanjang, terminal Bekasi, Cikarang dan Karawang. Dari Bogor, Depok dan terminal Cimone, Tangerang.
Waktu tempuh normal dari Jakarta ke Pangandaran diperkirakan 9 jam. Jika menggunakan kendaraan pribadi kira-kira 7 jam. Sedangkan dari Pangandaran ke Batu Hiu sekitar 20 menit. Sekadar gambaran ongkos dari terminal Bekasi sekitar Rp 95.000,-, sedangkan dari Cikarang sekitar Rp 85.000,-.

Selepas Kota Banjar. Jalan menuju ke Pangandaran Batu Hiu tidak begitu lebar. Kondisi aspal cukup bagus. Hati-hati saja menjelang Emplak dan Karang Nini akan melewati jalanan tikungan tajam, turun-naik. Melewati hutan Jati dan jurang. Tetapi jangan khawatir di sepanjang jalur jalanan banyak rambu-rambu dan petunjuk arah.

Bagi yang berkantong tebal bisa naik pesawat terbang carteran dari Husen Sastranegara Bandung. Atau Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Langsung ke lapangan terbang Sukawiru, Parigi.

Agar tidak penasaan. Silakan mencoba liburan ke Batu Hiu. Atau destinati wisata lain di sekitar Pangandaran banyak pilihan. Siapkan saja koceknya. Mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat. Menginspirasi sekaligus sebagai referensi liburan Anda.

Sunday, 24 July 2016

Mewaspadai Virus Zika di Sekitar Kita

Merebaknya wabah virus Zika di beberapa negara telah menjadi perhatian banyak kalangan. Pakar penyakit menular dari Amerika Serikat, Daniel R Lucey dan Lawrence O Gostin menyerukan kepada WHO agar membentuk komite darurat untuk penanggulangan wabah virus Zika. WHO harus belajar dari kasus virus Ebola yang menewaskan 11.000 orang.

Direktur Kedaruratan WHO Dr Bruce Aylward mengatakan 20 persen penduduk dunia tinggal di kawasan terinfeksi Zika.


Apakah virus Zika itu? Virus Zika merupakan sejenis virus dari keluarga flaviviridae dan genus flavivirus, yang disebarkan oleh nyamuk Aedes Aegypti yang menjadi pembawa virus Dengue Penularannya sama seperti virus deman berdarah yaitu oleh gigitannya.

Awal mulanya Virus Zika ditemuan pada darah seekor monyet di sebuah hutan Zika di Uganda pada 1947. Kemungkinan nama zika diambil dari nama hutan itu. Kasus pertama dialami pada manusia terjadi Nigeria pada tahun 1968. Tetapi diabaikan oleh komunitas ilmuan karena dianggap tidak menimbulkan ancaman besar.

Penyakit Zika  mulai diketahui di daerah khatulistiwa, Afrika dan Asia. Penyakit ini memiliki kaitan dengan deman kuning dan virus Nil Barat yang dibawa oleh flavivirus bawaan antropoda. Penderita yang tertular virus Zika biasanya akan menunjukkan gejala-gejala seperti demam, pusing, muncul ruam merah pada kulit, sakit pada persendian dan mata merah

ilustrasi/istimewa





















Penderita yang terkena demam dengue biasanya dirawat melalui istirahat. Belum bisa dicegah melalui obat-obatan atau vaksin. Virus Zika diduga menyebabkan kelainan pada janin. Membuat bayi cacat lahir dengan tengkorak tidak tumbuh sempurna alias Mikrosefalus. Kasus ini terjadi di Brazil, tercatat 1,400 kasus. Virus tersebut juga dikaitkan dengan Guillain-Barre, cacat saraf pada orang dewasa. 


Bahkan beberapa waktu lalu pemerintah Brasil kerahkan 220.000 serdadu untuk membasmi nyamuk Aedes Aegypti pembawa virus tersebut. WHO mengatakan diperkirakan 1,5 juta orang di negara tersebut sudah terkena Zika. Merebaknya kasus Zika menjadi kewaspadaan nyata bagi penyelenggaraan Olimpiade Rio di Brasil.

Diperkirakan virus Zika kini sudah menyebar ke lebih 20 negara di Amerika Latin. Seperti di Brasil, Barbados, Kolombia, Ekuador, El Salvador, French Guiana, Guatemala, Guyana, Haiti, Honduras, Martinique, Meksiko, Panama, Paraguay, Puerto Rico, Saint Martin, Suriname dan Venezuela. Di Inggris pun, Howard Carter telah menemukan virus Zika yang dibawa seekor nyamuk.

Sebuah laporan penelitian di tahun 2003 oleh  J.G. Olson, T.G. Ksiazek, Suhandiman, dan Triwibowo menyebutkan bahwa virus Zika pun telah masuk Indonesia sejak tahun 1977-1978. Saat itu peneliti ‘menemukan’ adanya 30 pasien di RS Tegalyoso, Klaten, Jawa Tengah, yang menunjukkan gejala tertular virus zika.

Sedangkan Dr. Herawati Sudoyo Ph.D, Deputi Direktur Eikjman Institute mengatakan, pihaknya menemukan virus ini saat terjadi wabah deman berdarah di Jambi pada Desember 2014 - April 2015.

Cara pencegahannya
* Hindarkan diri Anda dari gigitan nyamuk dengan memakai krim anti nyamuk.
* Selubungi tempat tidur bayi dengan kelambu agar terhindar dari gigitan nyamuk.
* Lengkapi lubang ventilasi rumah dengan kawat kasa.
* Ganti air di vas bunga atau bak mandi secara teratur.
* Minum banyak air putih dan cukup istirahat.

* Segera berkonsultasi ke dokter jika tubuh Anda menunjukkan gejala terjangkit virus.



Diolah dari berbagai sumber

Sunday, 19 June 2016

Rahasia Kode Horizontal di Keyboard

Sejak ditemukannya komputer pertama kali oleh seorang Banker yang ahli Matematika di Southwark, London-Inggris, yaitu Charless Babbage (1946­ – 1959). Sampai sekarang perkembangan teknologi komputer sangat pesat.


Hampir di setiap aktivitas pekerjaan perangkat komputer selalu ada. Terutama di perkantoran dan rumahan sudah tidak asing lagi. Keberadaannya sangat membantu dalam memudahkan dan mempercepat berbagai macam pekerjaan.


Kita pasti tahu di setiap unit komputer biasanya didukung oleh alat ketik yaitu keyboard. Setiap data atau dokumen dimasukan lewat alat ketik itu. Tetapi mungkin tidak banyak orang yang memperhatikan detail alat ketik itu. Karena mungkin saking sibuknya bekerja atau brosing di internet. Banyak yang tidak menyadari ternyata di keyboard itu terdapat kode tonjolan. Kode strip horizontal ini terdapat di dua huruf  F dan J.




Jika sekilas memang tidak terlalu terlihat. Tetapi kalau diraba di kedua huruf itu akan terasa ada sesuatu yang lain dibanding dengan huruf lainnya. Coba saja perhatikan dan raba di kedua huruf tersebut. Tahukan Anda kode apakah itu? Ternyata kode itu mempunyai tujuan tertentu. Yaitu sebagai kode memudahkan mengawali proses pengetikan.

Adalah Frank Edward McGurrin, yang menemukan teori metode touch typing pada tahun 1888. Metode touch typing ini,  merupakan sebuah metode tentang cara mengetik tanpa melihat tombol di keyboard. Bertujuan untuk lebih memudahkan seseorang dalam proses pengetikan sebuah dokumen atau memasukan data. 

Metode McGurrin ini dikenal dengan nama metode mengetik menggunakan 10 jari. Yakni meletakkan jari-jari tangan kiri sejajar pada huruf A - S - D - F dan J - K - L - ; pada jari-jari tangan kanan. Kemudian kedua jempol diletakkan pada tombol space bar dalam mengambil posisi untuk memulai mengetik. Praktik metodei ni sering pula dipakai di tempat-tempat kursus mengetik.

Selama proses pengetikan posisi jari-jari yang sejajar tetap menjadi patokan. Menurut McGurrin, Meletakkan jari telunjuk kiri di huruf F dan jari telunjuk kanan di huruf J pada tombol keyboard, merupakan cara yang paling efektif dalam proses pengetikan. Sehingga hal demikian bisa mempermudah dan mempercepat seseorang ketika mengetik dokumen yang dikerjakan. 

Pada tahun 2002, June E Botich dari Naples-Florida, mematenkan dan memodifikasi tonjolan di huruf F dan J pada tombol keyboard. Sehingga bisa membantu meningkatkan kemampuan dari metode touch typing itu sendiri. Selain itu, tonjolan pada huruf F dan J tersebut juga berfungsi untuk mengidentifikasi pada huruf yang ditekan. Tanpa perlu memperhatikan atau melihat tombol pada keyboard. Dan pemberian tonjolan tersebut hingga sekarang sudah menjadi standart keyboard yang ada di dunia.



*diolah dari berbagai sumber

Friday, 20 May 2016

Ronda Malam di Gunung Guntur

Bres...bres... bres... linggis itu terus ditugarkan ke dinding batuan berpasir. Bapak setengah baya itu hirau terhadap lalu lalang para pejalan kaki. Ia tetap berada di bawah lubang galian. Sesekali ia jongkok memisahkan antara batu kerikil dan pasir. Sepertinya ia sedang mencoba mengais rezeki dengan menambang pasir.

Itulah sisi lain pemandangan dari kegiatan salah satu warga di kaki Gunung Guntur pagi itu. Ketika kami akan melakukan pendakian melalui jalur curug Citiis, beberapa waktu lalu. Aktivitas penambangan pasir kerap terjadi di kawasan itu. Bahkan telah menjadi mata pencaharian sebagian warga.
Pada awalnya rencana melakukan pendakian ke gunung yang berada di Kabupaten Garut, Jawa Barat hampir saja batal. Karena sebagian mengundurkan diri. Alasannya merasa khawatir oleh kondisi cuaca buruk yang terus terjadi antara bulan Januari-Februari. Memang pada bulan itu intensitas hujan disertai petir cukup tinggi.

Hanya bertiga memutuskan tetap berangkat. Yaitu, Gaston, Hardi dan saya sendiri. Pertimbangannya sudah jauh-jauh hari, prepentif mempersiapkan segalanya. Keputusan tetap berangkat itu bukan bertujuan menantang alam. Tetapi menikmati alam. Karena alam tidak untuk ditantang.
Wajar saja timbul rasa khawatir yang disebabkan kondisi cuaca buruk. Gunung dengan ketinggian 2.249 mdpl itu. Dari lereng sampai puncak gunung jarang ditumbuhi pohon. Arealnya cukup terbuka. Apabila hujan sangat berisiko terhadap sambaran petir. Tetapi yang terpenting adalah tetap waspada dan berdoa.



Seiring berjalannya waktu. Ternyata yang berangkat bertambah menjadi sembilan orang. Keikutsertaan teman-teman lain memberikan semangat kepada kami bertiga. Jujur saja, saya pribadi merasa was-was. Oleh seringnya hujan turun disertai petir pada bulan itu. Memang musibah bisa terjadi kapan, dan di mana saja. Yang terpenting adalah keyakinan pada diri sendiri, dan percaya kepada Yang Maha Kuasa.



Diiringi doa, sekitar pukul 11.00 WIB pada Kamis malam. Dua mini bus meluncur menuju Kabupaten Garut. Melalui jalan Cibubur, Cilengsi, Jonggol terus ke Cianjur. Kami sengaja tidak lewat jalan tol karena dikhawatirkan terjebak kemacetan. Sebab jelang libur akhir pekan biasanya banyak warga Jabotabek liburan ke luar kota.
Memasuki daerah Cariu, Kabupaten Bogor kondisi jalanan sedikit bergelombang. Tetapi laju kendaraan masih dapat dipacu kencang. Tak terasa kota Cianjur dan Padalarang pun sudah terlewati. Kami tiba di Cimahi dan langsung masuk tol menuju arah Cilenyi, Bandung.


Di Cileunyi kami berhenti dua kali. Pertama kami istirahat di rest area  tol Cileunyi sekitar pukul 2.00 WIB dini hari. Kami kembali mampir ke sebuah mini market setelah keluar tol menuju arah Garut. Sambil menikmati tahu hangat. Salah satu makanan khas Sumedang yang banyak dijajakan di sepanjang jalan.
Kira-kira pukul 5.00 WIB pagi rombongan kami memasuki Tarogong, Garut. Dari jalan raya sudah terlihat panorama Gunung Guntur. Walaupun gunung sudah kelihatan. Kami masih harus bolak-balik mencari tahu menuju jalur pendakian. Maklum belum pernah ke Gunung Guntur. Tak butuh waktu lama kami tiba di Kampung Citiis atau disebut jalan PLP.


Sebenarnya untuk menuju jalur pendakian ke Gunung Guntur ada dua pilihan. Pertama lewat jalur curug Citiis. Berada di Kampung Citiis/PLP, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut. Sedangkan jalur kedua, bisa melewati jalur Cikahuripan dari Desa Pakuhaji daerah Samarang.
Untuk lewat jalur Citiis bisa berpatokan pada POM bensin yang berada di Desa Tanjung. Kalau dari arah Bandung berada di sebelah kanan. Sedangkan dari Garut kota berada di sebelah kiri. Jarak dari alun-alun Kota Garut ke Gunung Guntur sekitar 10 km.

Apabila dari Jakarta, Bekasi bisa naik bus jurusan Garut. Kemudian turun di terminal, dilanjutkan naik angkot jurusan Cipanas. Turun di Desa Tanjung dekat POM bensin. Atau di gerbang Kampung Citiis. Jika tidak membawa kendaraan bisa langsung naik ojek ke basecamp di rumah ketua Rt/Rw, sama saja.
Di basecamp ini pendaki wajib melaporkan diri. Dengan menuliskan nama-nama yang akan naik gunung. Meninggalkan foto copy KTP, serta mencatat nomor HP. Untuk koordinasi, pendaki juga akan membawa selembar kertas untuk melapor kembali ke petugas di pos 3.




Kira-kira pukul 6.00 WIB pagi akhirnya rombongan kami tiba di Kampung Citiis. Kami langsung lapor minta ijin kepada Nandang, ketua Rt 02. Ternyata di rumah kediaman ketua Rt sudah dipenuhi para pendaki lain. Bahkan di mesjid juga banyak pendaki yang sedang istirahat dan numpang tidur.
Bagi yang membawa kendaraan motor atau mobil. Bisa diparkir dititipkan dekat mesjid dan di basecamp rumah kediaman ketua Rt dan Rw setempat. Cukup aman katanya, walaupun harus nginep seperti diutarakan Nandang kepada kami.





Setelah berdoa bersama dipimpin Ipin dan Gaston. Sekitar pukul 7.00 WIB kami berangkat. Perjalanan normal menuju puncak Gunung Guntur bisa ditempuh 1 sampai 2 jam. Untuk mempercepat waktu tempuh para pendaki bisa numpang truk penambang pasir yang sering lalu lalang.


Begitu pun rombongan kami, dapat sedikit ngirit energi diantar mendekati areal galian pasir. Sayang, kendaraan sejenis mini bus tidak bisa melanjutkan perjalanan lebih jauh. Disebabkan kondisi jalan sangat buruk. Kecuali truk pasir karena mempunyai roda ban tinggi.


Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki. Menyusuri jalanan berbatu bercampur pasir. Di jalur ini akan dijumpai batu-batu besar dan bekas galian pasir. Di kaki gunung, sebelah selatan tampak dinding lempengan lapisan batuan. Memanjang nyambung ke lereng  Gunung Guntur. Kemungkinan bekas aliran lahar letusan pada masa lalu.  
Yang menarik pemandangan ke atas gunung semakin terbuka. Kabut putih yang menyelimuti puncak gunung lambat laun mulai sirna. Sang surya pagi itu cukup cerah menyinari puncak Gunung Guntur. Rerumputan membentuk padang savana mulai terlihat indah. Sehingga teman-teman semakin bersemangat melangkahkan kaki agar cepat bisa menggapai puncaknya.



Tak lama kami memasuki jalur menuju hutan. Di sepanjang jalur ini banyak ditumbuhi pohon rindang. Daun-daunnya yang hijau memberi teduh kepada para pendaki. Di jalur ini juga akan dijumpai pula warung-warung dan tempat untuk istirahat.
Menjelang tiba di pos 2 gemuruh aliran curug Citiis mulai terdengar mengiringi perjalanan kami. Dari rimbunya pohon terdengar suara kicau burung-burung. Seperti turut menyambut kehadiran kami. Sekaligus memberitahukan tentang perjalanan akan lebih sulit. Padahal rasa lelah mulai mendera. Keringat pun terus bercucuran membasahi sekujur tubuh.


Benar juga. Setelah melewati pos 2, pendakian semakin berat. Jalur jalan berbatu serta curam. Dengan tingkat kemiringan antara 45 sampai 75 derajat. Banyak para pendaki berjibaku menaklukkan medan jalur ini. Harus diwaspadai pula ketika kaki-kaki meniti bebatuan. Karena rawan longsor, jatuh membahayakan orang di bawahnya.
Sebenarnya lewat jalur curug Citiis jaraknya tidak terlalu jauh. Tetapi jalurnya lumayan menantang. Membutuhkan adrenalin untuk melewatinya. Tak heran, Gunung Guntur sering disebut Semeru-nya Jawa Barat. Woh..! Dagu ketemu lutut memang terjadi. Sebuah tantangan menarik bagi para pecinta alam.
Hari semakin siang. Mendekati pos 3, pohon-pohon mulai jarang. Sinar matahari mulai terasa menyengat membakar badan. Dari lembah masih terdengar gemuruh suara aliran curug Citiis. Seorah bersorak memberi semangat kepada kami untuk tidak menyerah.


Akhirnya kami tiba di pos 3 sekitar pukul 10.00 WIB siang. Ketua rombongan Ipin dan Gaston, sigap melapor kepada petugas jaga. Ada pesan dari petugas. Yaitu, kami agar tetap menjaga barang bawaan masing-masing. Karena sering terjadi pencurian yang menyamar sebagai pendaki, katanya.
Tampak di sekitar pos dan di lereng gunung sudah banyak tenda berdiri. Pihak pengelola Gunung Guntur melarang para pendaki berkemah di puncak gunung. Sebab apabila turun hujan disertai petir akan sangat berbahaya. Bahkan larangan itu terpasang di spanduk berukuran besar.

Setelah mendapatkan lokasi yang cocok untuk berkemah. Langsung saja kami bersama-sama mendirikan dua tenda. Tidak butuh waktu lama dua kemah pun berdiri saling berhadapan.  Sedangkan Naomi dan Henda, dengan cekatan kompak menjadi juru masak. Sementara Adam dan Anggit kebagian tugas mengambil air di lembah untuk persediaan.
Pada intinya kami selalu saling kerjasama dalam berbagai hal. Memang itu yang seharusnya dilakukan para pendaki. Berkat kerjasama tim, tidak berapa lama kami pun bisa menyantap makanan. Mengisi perut yang sudah keroncongan.
Matahari semakin condong ke barat. Puncak gunung tampak mulai diselimuti kabut putih. Terlihat di sebelah selatan awan hitam mulai mendekat. Benar saja, sekitar pukul 4.00 WIB sore hujan pun turun diiringi suara gemuruh guntur disertai kilatan petir.
Agar tidak ada hal-hal yang diinginkan. Saya meminta kepada teman-teman untuk mematikan handphone. Sebab di tempat terbuka sinyal  handphone rentan mengundang sambaran kilat petir. Ini jelas sangat berbahaya bagi keselamatan jiwa.


Semakin sore hujan semakin lebat. Di tengah guyuran hujan lebat. Salah satu tenda mengalami kebocoran. Kemungkinan ada kesalahan sewaktu pemasangannya. Terpaksa kami berdesak-desakan di dalam tenda satunya lagi.
Siang akan berganti malam. Alam malam mulai hadir membawa hawa dingin. Mulai menusuk ke pori-pori kulit. Sambil nunggu hujan reda kami asyik ngobrol ditemani kopi panas, untuk menghangatkan perut. Sekitar pukul 9.00 WIB malam hujan pun reda.
Pandangan jauh ke lembah sebelah timur. Kota Garut kerlap-kerlip memancarkan kilau cahaya seperti bertabur batu permata. Malam pun semakin larut. Nyanyian binatang malam terdengar bersahutan. Semilir angin menerpa rerumputan. Dia angkasa bulan dan bintang mulai memancarkan cahaya. Alam raya seolah berdoa kepada Sang Pencipta. Sungguh panorama yang indah.
Jelang tengah malam, kami berbagi tugas melakukan ronda. Giliran pertama Anggit dan Ipin mulai pukul 12.00- 02.00 WIB. Dilanjutkan Saya dan Gaston sampai pagi. Sedangkan yang lain pulas untuk menggapai mimpinya masing-masing.




Pagi hari. Satu satu persatu para pendaki mulai bangun, keluar dari tendanya. Untuk menikmati udara pagi dan melihat kemunculan sunrise. Sayang, sang surya sedikit malu-malu bersembunyi di balik awan putih. Tetapi pancaran cahayanya tetap hadir menyapa para pendaki. Sekaligus memberikan kehangatan dan cerah pada alam sekitarnya.
Pukul 9.00 WIB pagi. Koki dadakan, Naomi dan Hardi dibantu Hendra kembali beraksi menyiapkan sarapan pagi. Wahhh..., ternyata racikan masakan mereka pagi itu lebih manyos, meminjam istilah Pak Bondan. Sehingga kami dapat menikmati hidangannya. Sekaligus memberi energi untuk perjalanan pulang.
Selesai sarapan pagi, kami beres-beres untuk turun gunung. Perjalanan pulang ternyata lebih cepat. Walaupun perjalanan turun tidak bisa dibilang enteng. Karakter jalur berbatu yang curam butuh konsentrasi dan kewaspadaan. Bahkan Adam, yang bertubuh bongsor harus kerja keras menuruni batu-batu curam itu. Tetapi ia tetap semangat.

Menjelang tiba di pos 2. Kami melihat pemandangan kurang sedap di jurang dekat pinggir kali. Ada seongok gunukan sampah. Kemungkinan sampah-sampah itu dibuang oleh oknum pendaki. Ini sangat disayangkan. Seharusnya sampah itu dibawa turun ke basecamp. Disimpan ke tempat sampah yang sudah ditentukan.
Kira-kira pukul 11.00 WIB siang. Rombongan kami tiba di basecamp. Lancarnya pendakian dan ketika turun gunung. Ini berkat kerjasama solid antar teman-teman. Saling bantu, saling suport, telah menjadi amunisi. Kekompakan tim sangat berharga bagi kami selama dalam melakuan pendakian. Sehingga kami bisa kembali pulang ke Jakarta dengan selamat. Mantap!!!