Monumen Illegal Fishing di Pantai Pangandaran

Maaf Mba, batu-batu itu nggak boleh dibawa pulang, nanti bisa kesurupan. Kemarin ada orang dari Bandung kesurupan setelah mengambil batu dari sini, kata tukang perahu kepada salah seorang perempuan setengah baya.

Gunung Prau Dieng Suguhkan Pesona Kahyangan

“Bangun,… bangun…, ayo bangun kalau kepengen melihat pamandangan bagus! Udah jauh-jauh bayar. Kalau mau numpang tidur jangan di sini, di rumah nenek saja!,” begitu teriak salah satu petugas (ranger) ketika menjelang subuh.

Menyaksikan Pohon 'Berdarah' di hutan Gunung Halimun

Ketika bedog (golok) itu digoreskan sedikit saja ke kulitnya. Cairan berwarna merah darah itu membuai keluar. Seketika kami terpana melihatnya. Sambil menatap ujung jari telunjuk sang pemandu yang mencolek lelehan cairan itu.

Menikmati Cakrawala Biru di Laut Batu Hiu

“Bulan di Batu Hiu” adalah sebuah judul lagu pop Sunda. Mengisahkan sebuah janji cinta. Disaksikan bulan purnama dikeindahan Batu Hiu. Dari keindahan Batu Hiu itulah telah menginspirasi Doel Sumbang dalam mencipta.

Hari Kartini di Gunung Gede

Lagu Indonesia Raya pun bergema ketika ratusan pencinta alam memperingati hari Kartini di lembah Gunung Gede-Pangrango. Terasa haru, sebuah rasa nasionalisme yang patut ditiru oleh semua penduduk negeri ini.

Wednesday, 14 October 2015

Curug Cikondang Butuh Sentuhan Kreatif


Deru  suara sepeda motor lambat laun mulai menghilang. Kemudian lenyap ditelan suara gemuruh curug Cikondang dari arah lembah pegunungan, dan rasa lelah pun mendadak sirna seketika. Terlihat dari atas bukit sebuah air terjun mengeluarkan buih putih terbawa tiupan angin. Tampak raut wajah ceria dari  para peserta touring. Bahkan ada yang spontan berteriak gembira seolah lupa akan lelah yang mendera sepanjang perjalanan. 




Berawal ketika saya ikut menemani teman-teman yang melakukan perjalan ke Gunung Padang, dan curug Cikondang  di Cianjur, Jawa Barat. Buat saya ini kunjungan untuk kali yang kedua ke situs megalitikum itu. Setelah sebelumnya pada bulan Agustus silam.

Mengawali pemberangkatan dari meeting point di sebuah pom bensin Warung Jambu, Bogor.  Yang semula dijadwalkan sudah berkumpul pukul 07 WIB pagi, ternyata teman-teman datang pada terlambat, alias molor. Maklum macet, jelang libur akhir pekan. Tanpa terkecuali  di Ciawi dan Gadog menuju arah Puncak, lebih macet lagi.


Sekitar pukul 10 WIB rombongan kami tiba di Gunung Padang. Sudah biasa setiap hari Sabtu, dan Minggu situs itu selalu didatangi para wisatawan. Kurang lebih dua jam kami berada di puncak bukit Gunung Padang menikmati hawa dan panorama pegunungan. Setelah merasa cukup berada di situs tersebut,  kemudian perjalanan dilanjutkan mengunjungi air terjun curug Cikondang. Menurut salah satu petugas, dari situs Gunung Padang ke curug tersebut jaraknya sekitar 7 km. 

Secara geografis curug Cikondang berlokasi di Desa Sukadana, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Jarak dari kota Cianjur sekitar 37 km atau waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Untuk menuju ke lokasi air terjun bisa lewat jalur Cianjur-Sukabumi kemudian belok kiri ke jalan Cilaku berlanjut ke Cibeber. Dan bisa juga melalui jalur Warung Kondang, Bebedahan, Lampegan ikuti arah ke situs Gunung Padang. Setelah di pertigaan Lampegan belok kiri.


Sekitar pukul 13.00 WIB rombongan kami berangkat menuju curug Cikondang. Meninggalkan situs Gunung Padang yang terus didatangi para pengunjung. Di sepanjang perjalanan kemana mata memandang selalu disuguhi hamparan hijau perkebunan teh. Sepertinya alam pegunungan turut pula memberi semangat kepada teman-teman saya yang penasaran ingin segera melihat air terjun Cikondang.

Jelang pertigaan jalan di Lampegan kami sedikit ragu arah jalan yang benar menuju curug Cikondang. Karena di pertigaan itu tidak ada petunjuk arah jalan. Tidak mau ambil resiko kesasar, maka kami mencari informasi ke warga kampung setempat. Padahal alangkah  baiknya apabila dari pemerintah Desa Sukadana selaku pengelola curug Cikondang berinisiatif membuat petunjuk arah. Walaupun harus dibuat sederhana akan sangat membantu kepada para pengunjung yang akan berwisata ke air terjun tersebut.


Setelah menempuh hampir 4 km perjalanan. Kami harus berjuang keras menaklukan jalanan yang tidak bersahabat. Sebab kira-kira 3 km jalanan berkelok, menurun, dan berbatu rusak parah. Kondisi permukaan jalan bergelombang dengan batu-batu hampir sebesar dua kali kepalan orang dewasa muncul ke permukaan. Di jalanan ini para pengendara dituntut untuk ekstra hati-hati, dan harus pintar-pintar memilih jalan agar tidak jatuh terpeleset.

Bagi yang membawa kendaraan, baik roda dua atau pun empat disarankan tidak memakai kendaraan ban rodanya pendek-- seperti jenis sedan. Sebab apabila kaki roda pendek, risikonya permukaan gardan akan mentok ke batu jalanan. Begitu pun untuk sepeda motor, sebaiknya tidak memakai roda ceper. Kalau tidak ingin menemui keculitan di perjalanan.

Kalau kondisi jalan rusak terus demikian dibiarkan saja, tidak ada perbaikan sama sekali. Tentu para pengunjung yang akan menikmati wisata alam akan berpikir dua kali untuk datang ke tempat itu. Bahkan bisa kapok. Tentu hal ini akan merugikan pendapatan daerah setempat. Tetapi sebaliknya apabila kondisi jalan itu bagus, paling tidak layak dilalui kendaraan. Mungkin akan lebih banyak lagi para traveling datang. Dan tentu lambat-laun akan membangkitkan potensi wisata itu sehingga berkorelasi dengan kebangkitan ekonomi di pedesaan itu sendiri.



Selepas jalan yang rusak. Teman-teman para biker akhirnya bisa bernapas lega karena telah lolos dari rintangan jalanan yang tidak bersahabat itu. Tidak beberapa lama dari jauh samar-samar terdengar suara gemuruh air terbawa angin pegunungan dari balik bukit. Lambat-laun suara itu semakin keras terdengar bersaing dengan deru suara motor para biker.

Tidak disangka di balik bukit itu ternyata tersembunyi sebuah curug. Dari atas jalan dekat tikungan, air terjun itu terlihat begitu indah. Air yang mengalir dari kali kecil itu jatuh--memberikan pemandangan menarik. Bentuknya yang melebar perkiraan panjangnya 30 meter dengan ketinggian kira-kira 50 meter. Tak berlebihan apabila ada sebagian orang menyebut curug Cikondang sebagai miniatur Niagara di Jawa Barat, karena mungkin mirip.




Di sekitar lokasi tersedia juga areal parkir yang sudah dibuat secara swadaya oleh warga desa Sukadana. Dan pengelolaan air terjun itu pun dilakukan oleh pihak desa setempat. Untuk tarif masuk ke lokasi sebesar Rp 5.000,- per orang. Tetapi ketika hari Sabtu rombongan kami datang, dan juga rombongan dari Bandung sama sekali tidak dipungut biaya, alias gratis. Memang waktu itu tidak terlihat ada petugas berjaga. Atau mungkin tarif masuk hanya berlaku setiap hari Minggu saja? Kami tidak tahu.

Setelah memarkir kendaraan, kami memilih istirahat sambil mencari ganjalan perut di sebuah warung yang berada dekat areal parkir. Maklum, untuk sampai ke curug Cikondang ini cukup banyak menguras tenaga, dan sengatan panas dari terik matahari. Tetapi bersyukur hawa pegunungan tetap memberikan kesegaran bagi kami. Tidak hanya itu suara gemuruh itu pun seolah memberi semangat untuk cepat-cepat melangkahkan kaki menuju air terjun itu.


Setelah istirahat, kami langsung ke lokasi air terjun tersebut. Ternyata untuk menuju lokasi air terjun harus traking kira-kira 1 km, menyusuri jalan setapak di pinggir perkebunan dan persawahan terasering yang terlihat hijau sangat menarik. Curug ini masuk dalam kawasan perkebunan teh PTP VIII Panyairan. Sayang, ketika itu debit air sedikit karena musim kemarau panjang. Seandainya debit air itu banyak pasti semakin memberi keindahan curug itu sendiri.

Ternyata dari dekat pemandangan air terjun itu semakin menarik. Walaupun siang hari, udara di sekitar air terjun itu terasa sejuk. Tak heran para pengunjung betah berlama-lama di tempat itu. Sambil berfoto ria mengabadikan setiap sudut di batu-batu besar. Termasuk teman-teman saya, tidak mau ketinggalan sibuk mencari tempat yang dianggap cocok untuk ikut mejeng diambil gambarnya. Buat dijadikan kenang-kenangan atau pun sekadar foto dokumentasi pribadi. Sayang memang apabila sudah pergi jauh-jauh tidak ada foto kenangan.


Tetapi ingat! Bagi Anda yang akan mengambil gambar di atas batu harus hati-hati ketika melangkah. Karena ada sebagian permukaan batu yang licin. Jika kaki sampai terpeleset ke bawah akibatnya akan patal. Apalagi tepat di bawah air jatuh terdapat jurang berbatu membentuk kolam dengan pusaran air yang dalam. Memang, di atas batu besar itu menjadi tempat favorit untuk berfoto.


Di air terjun itu kami tidak berani untuk mandi. Sebab menurut informasi yang di dapat dari berbagai sumber, aliran air itu mengandung mercury, simbol HG (hydragyrum).  Sebuah zat kimia berbahaya bekas limbah pengelolalaan emas tradisional yang berada di atasnya. Kalau hal ini benar, sangat disesalkan sekali. Seharusnya ini tidak terjadi sebab akan merusak lingkungan di sepanjang aliran kali. Karena zat adiktif ini susah musnah, butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa hilang.

Hanya sekadar sumbang saran. Lokasi air terjun ini sepertinya masih kurang dikelola dengan sungguh-sungguh. Tampak di sekitar air terjun  terkesan kotor, banyak sampah. Kami pun tidak melihat adanya fasilitas pendukung , seperti MCK atau mushola. Rasanya curug ini butuh penataan lebih serius, dan sentuhan kreatif dalam mengelolanya untuk semakin menarik banyak pengunjung. Padahal menurut hemat saya, potensi untuk lebih baik masih ada.




Sekitar pukul 15.00 WIB akhinya kami pulang meninggalkan curug Cikondang. Melalui jalur menuju arah  Campaka atas saran penduduk setempat, katanya kondisi jalan agak bagus. Tidak separah yang dilewati tadi. Yang lebih menarik lagi, ternyata di jalur ini pemandangannya tak kalah bagus dari sebelumnya. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh teman-teman para biker untuk kembali berfoto bersama. Pesona sinar surya sore hari semakin mempercantik view perbukitan perkebunan teh itu.

Setelah tiba di Puncak, Bogor. Kami istirahat sambil menikmati jagung bakar dan seduhan kopi panas, sambil dihibur oleh seniman jalanan. Rasanya kurang pas di tempat udara yang dingin tidak ngopi. Setelah cukup istirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan pulang.

Seluruh peserta touring di antaranya: Pak Yakub, Pak Widodo, Gaston, Sanudd, Anggit, Tomo, Alfa, Dimas, Hendra, Hendar, dan saya pribadi.  Semuanya membawa kesan beragam, banyak cerita tentang situs Gunung Padang, dan curug Cikondang di Cianjur.  Dan beryukur rombongan kami pun tiba di rumah masing-masing dengan selamat.

Tuesday, 15 September 2015

Gunung Padang Masih Banyak Menyimpan Rahasia

Naskah Bujangka Manik abad ke-16 menyebutkan suatu tempat " kabuyutan" (tempat leluhur yang dihormati oleh orang Sunda) berada di hulu  Cisokan, sungai yang diketahui berhulu di sekitar tempat situs tersebut. Menurut legenda, Situs Gunung Padang merupakan tempat pertemuan semua ketua adat dari masyarakat Sunda Kuno.















Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, "Buletin Dinas Kepurbakalaan") tahun 1914 juga melaporkan pertama kali tentang keberadaan situs Gunung Padang. Kemudian, N.J Krom sejarawan Belanda  tahun 1949 sudah menyinggung situs punden berundak itu. Pada tahun 1979 tiga penduduk setempat, Endi, Soma, dan Abidin, melaporkan kepada Edi, Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka, mengenai keberadaan tumpukan batu-batu persegi besar dengan berbagai ukuran yang tersusun dalam suatu tempat berundak mengarah Gunung Gede.

Berada di ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Situs megalitikum ini secara geografis berada di Kampung Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Dari pusat kota berjarak kira-kira 45 km atau waktu tempuh kurang lebih 1,5 jam.
Barsama Bah Dadi












Untuk mengobati rasa penasaran dari banyak cerita dan mitos tentang Gunung Padang. Maka pada suatu kesempatan saya bersama Sanudd --teman yang sama-sama suka traveling dan naik gunung itu memutuskan pergi ke Gunung Padang, Cianjur. Sabtu pagi sekitar pukul 8.20 WIB kami berangkat menggunakan angkutan umum minibus L300 jurusan Cianjur yang biasa mangkal di seberang terminal Baranang Siang Bogor, dengan tarif Rp25.000,- per orang untuk sekali jalan.

Estimasi waktu yang diperkirakan akan sampai di tempat tujuan lebih cepat, ternyata waktu banyak terbuang  di tol Ciawi menuju Puncak. Kendaraan yang kami tumpangi terjebak kemacetan panjang. Maklum  jelang hari libur akhir pekan. Beruntung sang sopir tahu jalan alternatif dengan melewati jalan perkampungan penduduk lumayan sedikit menolong dari kemacetan.

Sekitar pukul  13.00 WIB kendaraan kami tiba di perempatan Asten (Mall), begitu banyak orang menyebut. Perempatan dari arah  Cipanas sebelum kota Cianjur, kami pun turun. Kemudian naik angkot no. 02 warna merah  menuju Ranca Goong. Dilanjutkan naik angkot no. 43 warna abu-abu keputihan jurusan Bebedahan tarif Rp7.000,-.Dari Bebedahan ternyata ke Gunung Padang masih jauh kira-kira 15 km.

Untuk menuju Gunung Padang bisa menempuh dua pilihan.Pertama jalur Pal Dua, yaitu dengan menempuh jalan raya Cianjur-Sukabumi. Tepat di pertigaan Warungkondang, ada tulisan petunjuk arah situs Gunung Padang 20 km lalu mengambil arah kiri menuju arah Bebedahan-Lampegan-Pal Dua dan berakhir di Gunung Padang.Jalur kedua, bisa menggunakan jalur Tegal Sereh, dari Sukaraja belok kiri menuju Cireungas-Rawabesar-Sukamukti-Cipanggulan dan berakhir di Gunung Padang.

Menurut keterangan penduduk sekitar, angkutan menuju Gunung Padang tidak ada yang langsung. Kalaupun ada angkot hanya sampai Pal Dua atau Lampegan, itu juga jarang sekali. Kebanyakan sopir angkot rata-rata bersedia mengantarkan secara borongan. Sedangkan jika menggunakan jasa ojek dari pangkalan Bebedahan berkisar Rp50.000,- per orang.

Sebenarnya bisa juga naik menggunakan angkutan kereta api jurusan Bogor-Cianjur, juga sebaliknya. Menurut sumber situs resmi PT KAI--jadwal perjalanan setiap harinya  hanya dua kali pemberangkatan, yaitusekitar pukul 7.25 WIB, dan pukul 13.55WIB. Harga tiket Bogor-Cianjur Rp70.000,- , tiket harus dipesan terlebih dahulu. Apabila meggunakan jasa kereta api ini, anda bisa turun di stasiun Lampegan.

Sementara hari semakin siang, kami memilih istirahat di warung baso sekadar mengganjal perut dari rasa lapar. Sekaligus mencari tahu alternatif angkutan ke Gunung Padang. Beruntung  di warung itu kami kenal Maman, warga asli kampung Bebedahan. Ia menawarkan diri mau mengantarkan kami ke Pal Dua, katanya bayaran terserah. Tentu, kami menyambut gembira niat baiknya mengingat waktu semakin siang jelang sore. Dan disepakati bersedia dibayar Rp 75.000,- berdua. Akhirnya kami pun bisa berangkat menggunakan sepeda motornya dibonceng berdua.
Deru suara sepeda motor mengiringi perjalanan kami. Suasana perkampungan, perbukitan dan turun naik jalan berliku memberi kesan tersendiri bagi kami. Walaupun kemarau panjang suguhan hijau pemandangan kebun teh yang tumbuh subur tetap memberikan kesegaran pada alam sekitar. Sungguh merupakan anugerah yang luar biasa bagi negeri ini. 

Rupanya Maman tidak sampai Pal Dua, katanya tanggung. Ia berbaik hati mau langsung mengantarkan ke lokasi Gunung Padang. Seandainya sampai di Pal Dua, kami masih menempuh perjalan tiga kilo meter lagi.

Setengah jam perjalanan dari Bebedahan, kami tiba di lokasi. Areal parkir tepat di kaki bukit Gunung Padang tersebut sudah dipenuhi kendaraan bermotor roda dua. Sedangkan untuk parkir kendaraan roda empat lokasinya berada di bawah kira-kira 200 meter dari bukit Gunung Padang. Jadi pengunjung masih harus jalan lumayan jauh atau naik ojek.

Di sekitar areal parkir tampak berjejer warung makan dan kios cenderamata.Tepat di pojok dekat tangga masuk terlihat ada sumber air yang bening, katanya air tersebut dipercaya mempunyai karomah. Dahulunya air tersebut sering dipakai untuk acara ritual. Bahkan sampai sekarang pun masih banyak pengunjung mengambil air tersebut untuk dibawa pulang.
Teras Utama
Setelah membeli tiket masuk Rp3.000,- per orang. Satu demi satu sebanyak 468 anak tangga dari balok batu andesit yang direkonstruksi itu kami lewati. Tanjakan dengan kemiringan kira-kira 45 derajat  lumayan melelahkan. Di sisi kiri dan kanan jalur treking ini pengelola memasang pembatas jalur tangga terbuat dari batangan besi dicat hijau. Sekaligus sebagai pegangan sehingga memberi sedikit nyaman bagi para pengunjung untuk menaiki bukit. Jalur itu merupakan jalan utama yang asli untuk menuju puncak bukit Gunung Padang.

Sampai di bukit tampak pohon campaka berdiri kokoh memberi teduh kepada seorang bapak yang sedang bersender di bawah pohon itu. Berpakaian pangsi serba hitam, di kepala mengenakan kain biru bermotif batik sebagai ikat kepala khas Sunda. Di jari manis lengan kanannya terselip batu cincin jenis pancawarna. Di depannya tergeletak kantong kaneron anyaman khas Baduy. Dadi, begitu namanya sesuai tulisan yang tertera dibajunya,menyambut ramah kepada kami yang baru tiba di bukit.

Kami lebih suka memanggilnya Bah Dadi. Bapak yang sudah mengabdi  puluhan tahun sebagai petugas Dinas Purbakala ini adalah salah satu petugas pemandu situs Gunung Padang. Ia menemani kami keliling sambil menjelaskan fungsi setiap teras. Di mana di bukit tersebut terdapat 5 teras yang setiap teras ruang mempunyai fungsi berbeda yang hanya ditandai jejeran batu balok.
Batu Tapak Harimau
Kami pun diajak melihat batu gamelan, batu gong, batu gendong, ada juga batu bersimbol senjata kujang, dan batu mempunyai tanda tapak kaki harimau, dan lain-lain. Bahkan menurut Asep, tukang ojek yang biasa mangkal di lokasi parkiran Gunung Padang. Dahulu ia pernah melihat batu balok yang panjangnya hampir tiga meter. Tetapi  sekarang tidak ada lagi, mungkin menurutnya sudah diamankan untuk diteliti. Yang mengherankan  rata-rata batu-batu balok itu selain panjang, juga mempunyai 5 sudut (pentagonal). Ada apa dengan sudut pentagonal?

Apakah sudut pentagonal tersebut mungkin ada hubungannya dengan keberadaan 5 gunung yang berjejer? Bisa ia atau bisa tidak. Hanya bah Dadi mempersilakan kami duduk di sebuah batu untuk menghadap ke utara. Dan ditunjukkan garis lurus ke arah dimana terdapat berjejer gunung. Mulai dari Gunung Padang, Pasir Domas, Gunung Kancana, Pasir Pogor, dan Gunung Gede/Pangrango. Ada apa dengan rahasia ini, bah Dadi pun belum tahu.
Batu Tapak Simbol KujBatu Tapak KujBatu Tapak Kujang
Banyak rahasia yang belum terungkap dari Gunung Padang. Dan cerita kearifan lokal yang sudah turun temurun turut memberi warna tersendiri. Seperti dahulu kala pada suatu malam ada sebagian penduduk yang mendengar suara gamelan dari puncak bukit, seperti yang diceritakan bah Dadi.

Banyak artikel dan kajian literatur yang mengupas tentang situs megalitikum Gunung Padang, yang diperkirakan berumur 4.7000-10.000 SM, lebih tua dari piramid Mesir yang hanya 2.500 SM. Namun kebenarannya harus terus dibuktian dengan penelitian secara maksimal. Keberadaan situs Gunung Padang menjadi pembelajaran menarik untuk dikaji, dan diteliti. Suatu tantangan bagi para ahli untuk mengungkap lebih jauh kehidupan masa lalu para leluhur bangsa ini untuk perkembangan ilmu pengetahuan.
Batu sudut pentagonal
Entah sejak zaman kapan situs megalitikum itu dibangun dan siapa penguasanya? Ada yang menduga zaman Prabu Siliwangi atau sebelumnya. Masih belum jelas, butuh waktu dan kerja keras untuk mengungkapkannya. Tetapi dari hasil obrolan dan keterangan sepengetahuan bah Dadi sudah cukup mengobati rasa penasaran kami dari situs punden berundak tersebut. Seandainya tidak mendapat informasi, dan keterangan dari bah Dadi kami datang hanya melihat batu-batu balok berserakan saja tanpa mengetahui latar belakangnya.

Tidak terasa, matahari sudah miring ke barat--hari semakin sore-- dirasa cukup ngobrol bersama bah Dadi sambil keliling menikmati pemandangan dan hawa pegunungan. Sekitar pukul 15.00WIB kami memutuskan pulang diantar Asep sampai pangkalan angkot Bebedahan dengan tarif Rp75.000,-.
Ternyata di pangkalan tersebut angkot tidak tersedia. Hari semakin sore, akhirnya kami memutuskan untuk jalan kaki sebagai backpacker menyusuri jalan beraspal yang sudah mulai rusak butuh perbaikan. Apalagi ini jalur wisata harus benar-benar mendapat perhatian serius untuk menunjang perkembangan wisata di daerah Cianjur tersebut.

Kejadian naik turun ankot diselingi jalan kaki, kami alami sampai tiga kali. Hanya ketika jalan kaki kami sedikit terhibur karena melihat kemeriahan  beranekaragam hiasan di setiap rumah, dan di gang-gang perkampungan. Bahkan yang menarik ada juga warga yang membuat pocong-pocongan bergelantungan di pohon. Jika malam tiba pasti menyeramkan! Suatu semangat dan kreativitas dalam menyambut kemerdekaan Republik Indonesia yang patut diacungi jempol.

Kira-kira pukul 19.00 WIB kami tiba di perempatan Asten. Tampa kesulitan kami mendapati angkutan minibus jurusan Bogor sedang mangkal. Setelah satu jam menunggu, akhirnya minibus berangkat hanya mengangkut empat penumpang, dan kami pun tiba kembali di Bogor sekitar pukul 22.15 WIB.

Monday, 27 October 2014

Atraksi Speed Boat di Keindahan Telaga Sarangan


Jantung saya seperti mau copot. Ketika speedboat berkecepatan tinggi yang saya tumpangi tiba-tiba berputar membentuk setengah lingkaran, dengan posisi miring seperti mau terbalik. Adegan yang memacu adrenalin tersebut terjadi ketika mencoba naik speedboat di Telaga Sarangan.

Berkunjung ke Telaga Sarangan ini memang mendadak setelah mengikuti sebuah acara di Madiun. Sebenarnya banyak obyek wisata lain di kota tersebut. Tetapi teman saya menyarankan pergi ke Telaga Sarangan. Selain menarik, waktu tempuh tidak begitu jauh dari Madiun. Sebab padamalamnya kami harus  berangkat ke Jakarta lagi. 

Sebelum ke Telaga Sarangan, saya bersama teman-teman menyempatkan berkeliling kota Madiun, sambil mencoba wisata kuliner.  Kota yang terkenal dengan peristiwa sejarah G 30 S PKI itu,suananya tenang dan bersih tidak ada kemacetan rasanya ingin sekali berlama-lama menikmati kota tersebut. 



Tidak ketinggalan kami pun menyantap makanan tradisional, pecel Madiun. Ada yang kurang jika ke Madiun tidak mencobanya.  Dari warung pecel dilanjutkan ke tempat pembuatan roti, kata banyak orang punya rasa yang khas.  Sehingga mengundang rasa penasaran kami untuk mencoba olah lidah atau sekadar buat oleh-oleh. Padahal di setiap kota,  roti pasti ada  apalagi di Jakarta.

Walapun sudah makan pecel. Kuatnya kabar tentang rasa khas dari roti tersebut semakin mengundang rasa lapar perut kami. Puas menikmati  roti hangat dan melihat-lihat proses pembuatanya. Kami meluncur menuju obyek wisata Telaga Sarangan  yang berada di kabupaten Magetan Jawa Timur.

Kurang lebih satu jam perjalanan. Di daerah Maospati kami mampir ke sebuah rumah makan. Nasi pulen dengan menu gurame goreng, ayam bakar, jus jeruk hangat  plus lalaban serta sambal terasi menjadi pilihan siang itu. Menikmati makanan dengan suasana alam pedesaan, dan pemandanganlatar belakang Gunung Lawu membangkitkan selera makan.

Sesudah cukup istirahat kami kembali melanjutkan perjalanan. Beruntung cuaca ketika itu sangat cerah. Memasuki kawasan kaki Gunung Lawu jalanan mulai berkelok. Di kiri-kanan jalan tampak hijau hamparan beragam tanaman sayuran dan palawija tumbuh subur. Mirip di daerah Dieng Banjarnegara atau di kawasan Cipanas Cianjur Jawa Barat.

Sebelah barat pesona Gunung Lawu seolah semakin mendekat, berada di ketinggian3.265 (dpl). Rasanya ingin sekali mendaki menggapai puncaknya yang berselimut awan. Seperti menyembunyikan banyak cerita dan misteri.

Di antaranya cerita yang berkembang di masyarakat. Konon di Gunung Lawu dipercaya pernah dijadikan tempat bertapa Raja Majapahit  yang terakhir yaitu Raden Brawijaya V, bahkan sebagian masyarakat  setempat menyebutnya dengan Sunan Lawu.


Selain itu di Gunung Lawu  ada kawah Condrodimuko yang cukup terkenal. Dan ada juga tempat-tempat kramat; seperti Sendang Drajat, Hargo Dalem, Hargo Dumilah, Batu Tugu Punden Berundak, Telaga Kuning dan Lumbung Sayur dan lain-lain. Biasanya Gunung Lawu banyak dikunjungi pada Tahun Baru Islam atau dikenal dengan bulan Suro.

Kira-kira dua jam perjalanan kami tiba di Telaga Sarangan. Suasana sangat ramai sehingga kami agak kesulitan mendapatkan tempat parkir. Maklum, sebelum masuk ke obyek wisata ada pasarsehingga agak semberaut. Di samping itu banyak rombongan turis lokal berdatangan kebetulan ketika itu hari libur.

Di pasar dan sekitar telaga banyak didominasi pedagang sayur-mayur dan buah-buahan. Yang menarik di tempat ini banyak juga dijual buah kesemek, (kulit luarnya menempel seperti bedak warna putih). Saya sendiri sudah lama tidak melihat buah tersebut.

Rasa penasaran akhirnya terobati ketika kami melihat keindahan Telaga Sarangan. Riak air memantulkan cahaya sinar matahari sore hari menambah keindahan telaga. Airnya yang jernih bersih rasanya ingin sekali mandi menyeburkan diri. Sebelah Selatan tampak panorama alam pegunungan yang hijau. Di tengah telaga tampak ada pulau kecil (nusa) diselimuti rimbun pepohonan, semua masih terjaga asri. Di nusa tersebut sampai sekarang diyakini bersemayam roh leluhur pencipta Telaga Sarangan. 

Di sekitar obyek wisata itu juga terdapat hotel berkelas bintang dua dan kelas melati. Sepanjang jalan yang mengintari telaga berjejer warung-warung makan, dan toko cendera mata. Untuk tiket masuk ke obyek wisata Sarangan, dewasa dikenakan Rp7.500,- anak-anak Rp5000,-. kendaraan roda empat Rp5000,-. Pengunjung juga bisa menikmati suasana Telaga Sarangan dengan delman atau keliling naik kuda dengan tarif Rp40,000,-.


Jika nyali Anda berani bisa juga mencoba naik speed boat dengan tarif Rp40.000,- satu kali putaran. Pengunjung akan diajak melihat keindahan seputar telaga. Dan akan merasakan sensasi lain seolah terbang di atas air. Ditambah ada sedikit suguhan atraksi dari pengemudi speedboat. Walaupun mengitari telaga terasa sebentar tetapi cukup menghibur.

Bagi yang ingin rileks dan hobi mancing tidak ada salahnya membawa alat pancingan. Di pinggir tembok telaga pengunjung akan menemukan banyak pemancing berjejer. Saya sendiri melihat ada beberapa pemancing yang beruntung sudah mendapatkan ikan jenis mujaer lumayan besar. Umpanya cukup pelet atau cacing. Mengingat air telaga cukup dalam sebaiknya mancing bawah atau gelosor.

Bagi wisatawan yang suka kuliner, jangan khawatir. Di sekitar telaga banyak pilihan makanan di saung-saung pinggir telaga. Ada hidangan khas Telaga Sarangan yaitu menu sate kelinci yang banyak dijajakan di sekitar telaga. 

Secara geografis Telaga Sarangan berada di wilayah Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Kira-kira 16 km dari arah barat kota Magetan, terletak di kaki Gunung Lawu. Telaga alami ini dikenal telaga pasir, luasnya sekitar 30 hektar dan berkedalaman 28 meter. Dengan suhu udara berkisar 18 hingga 25 celsius.


Tetapi menurut mitos yang beredar di sebagian masyarakat. Telaga Sarangan terbentuk disebabkan sepasang suami istri bernama Kyai Pasir dan Nyai Pasir yang hidup bertahun-tahun tidak mendapatkan keturunan. Maka mereka bersemedi meminta kepada Sang Hyang Widhi. Dan akhirnya mereka diberi keturunan seorang anak laki-laki yang diberi nama Joko Lelung.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mereka bercocok tanam dan berburu. Akan tetapi pekerjaan sehari-seharinya itu dirasakan cukup berat. Lantas pasangan itu meminta kepada Sang Hyang Widhi untuk diberikan kesehatan dan panjang umur. 

Dalam semedinya pasangan suami istri itu mendapat wasiat agar menemukan sebuah telur di dekat ladang mereka. Pasangan ini pun berhasil menemukan telur tersebut. Lantas dibawa pulang untuk dimasak kemudian telur dibagi dua dan dimakannya.


Setelah pergi ke ladang lagi badan mereka menjadi panas dan gatal-gatal. Kyai Pasir dan Nyai Pasir menggaruk-garuk badannya sampai menimbulkan luka dan lecet-lecet. Lama kelamaan pasangan ini berubah menjadi seekor ular naga besar. Dan berguling-guling di pasir sehingga membuat cekungan sampai mengeluarkan air deras. Akhirnya cekungan  itu digenangi air.

Merasa memiliki kemampuan, pasangan itu berniat menenggelamkan Gunung Lawu. Tetapi niat buruknya itu dapat dicegah oleh anaknya Joko Lelung. Setelah meminta pertolongan kepada Sang Hyang Widhi. Sampai sekarang mitos tersebut masih dipercaya oleh sebagian masyarakat setempat.

Biarlah mitos itu beredar sebagai bumbu untuk menarik wisatawan. Yang jelas, kesan kali pertama saya berkunjung ke Telaga Sarangan beberapa waktu lalu sangat menyenangkan. Walapun tidak cukup waktu untuk berlama-lama mengunjungi obyek wisata tersebut. Tetapi sudah dapat mengobati kerinduan tentang keindahan Telaga Sarangan.


Sekitar pukul 5 sore kami pulang menuju stadiun Madiun. Karena ada salah satu teman harus kembali lebih cepat. Sedangkan saya dan  teman yang lain baru pulang sekitar pukul 10 malam, sesuai jadwal tiket kereta yang sudah dipesan. Masih ada sisa waktu  untuk istirahat. 

Bahkan saya pun sempat menikmati suasana kemeriahan malam di alun-alun kota Madiun. Harapan saya,  mudah-mudahan di kemudian hari bisa berkunjung kembali menikmati keindahan ke tempat-tempat wisata lain di kota Madiun. Semoga!

Wednesday, 3 September 2014

Hari Kartini di Gunung Gede

Untuk menghilangkan kejenuhan akibat rutinitas kesibukan sehari-hari. Berapa waktu lalu kami sesama pencinta alam melakukan pendakian ke Gunung Gede. Tercatat 41 peserta dari Jabotabek ikut serta. Pilihan kami Gunung Gede, sebab gunung tersebut ketika itu tidak dalam status bahaya. Lokasinya tidak jauh dari ibukota. Tepatnya berada di antara tiga kota kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi.

Untuk menjaga hal yang tidak diinginkan, kami mengikutkan ranger untuk mendampingi selama pendakian. Mengingat di antara peserta terdapat  beberapa pendaki pemula. Bahkan ada yang belum pernah naik gunung sama sekali.

Gunung Gede berada di ketinggian 2.958 meter di atas permukaan laut (dpl), luas lahan 21.975 hektar. Merupakan Taman Nasional, begitu juga dengan kawasan hutan Gunung Halimun-Salak. sekaligus sebagai salah satu objek wisata.Suhu rata-rata 18 °c. Apabila malam hari berkisar 10 °c. Sedangkan di puncak gunung bisa mencapai 5 °c. Gunung Gede kaya ekosistem. Dipenuhi anekaragam tumbuhan langka dan endemic. Juga dihuni oleh satwa langka dilindungi, seperti Owa dan Elang Jawa.

Di sepanjang jalur pendakian banyak tempat menarik. Di antaranya Tenaga Biru, luasnya sekitar 5 hektar. Jaraknya dari pintu masuk Cibodas sekitar 1,5 km. Ada juga air terjun Cibeureum, yang mempunyai ketinggian sekitar 50 meter, jaraknya 2,8 km. Dan ada Air Panas, terletak sekitar 5,3 km atau dua jam perjalanan dari Cibodas

Pukul 2.00 WIB dini hari rombongan tiba di Cibodas. Disambut pemandangan dua gunung berdiri angkuh berselimut kabut seolah menantang para pendaki. Hawa dingin mulai menusuk pori-pori kulit. Di sekeliling tampak warung-warung makan dan toko cendera mata.  Areal parkir sekitar seluas dua kali lapangan sepak bola itu sudah ramai oleh para pecinta alam. Beruntung  teman kami kenal baik dengan salah satu pemilik warung. Sehingga kami pun bisa numpang tidur dan istirahat melepas lelah dan rasa ngantuk. 
Kira-kira pukul 5.00 WIB pagi, kami berkumpul untuk mendapatkan brifing. Dilanjutkan berdoa bersama. Mengawali pendakian dari Pos Jaga Cibodas. Para pecinta alam begitu percaya diri. Penuh semangat mengayunkan langkah. Menapakan kaki di atas kerasnya batu-batu jalur pendakian.

Tiba di jalur Air Panas kami menyempatkan istirahat. Jalur ini sangat sempit, berjalan harus hati-hati. Sebelah kanan jurang terjal. Pijakan kaki harus tepat di atas batu-batu yang timbul di permukaan aliran air. Tangan harus kuat memegang tambang plastik  dan kawat baja. Sebab dari bawah jurang tiupan angin sangat kencang berputar.  Membawa kabut asap kadang menunupi pandangan.

Target awal, kami berkemah di Kandang Batu. Ternyata lokasi ini ramai oleh banyaknya kehadiran para pendaki. Areal perkemahan ini sudah dipenuhi puluhan tenda. Hampir tidak menyisakan tempat kosong untuk mendirikan tenda lagi. Padahal kalau melihat jumlah rombongan kami memerlukan banyak tenda, tetapi ketika itu tidak memungkinkan.

Hari semakin sore, matahari mulai tenggelam. Langit pun mulai menghitam, pertanda hujan akan segera turun.  Bersyukur dekat kali kecil kami menemukan lokasi sempit. Lumayan  dua tenda darurat bisa berdiri untuk sekadar istirahat terutama untuk para wanita. Sedangkan satu tenda untuk menyimpan barang dan dapur umum.

Belum lama tenda berdiri. Masak belum kelar. Tiba-tiba hujan turun disertai tiupan angin. Sebagian berusaha memegang tenda agar tetap berdiri. Apa daya tiupan angin sangat kencang. Satu  tenda untuk menyimpan barang dan dapur umum roboh.  Kami pun sibuk menyelamatkan barang-barang dan makanan. Tubuh kami semua basah kuyup. Padahal sudah berusaha memakai jas hujan.

Hari semakin gelap.  Hujan belum juga reda, kabut pun mulai muncul. Para peserta merasakan lapar, lelah dan kedinginan membuat fisik kami menurun.Melihat kondisi demikian. Lando (ranger, ketua rombongan) dan Syarif Maulana (korlap) mengumpulkan peserta. Mencari solusi terbaik. Serba dilematis antara melanjutkan pendakian atau kembali pulang. Pilihan sama sulitnya. Perjalanan kami sudah sangat jauh. Akhirnya kami sepakat meneruskan pendakian. Lando dan Syarif pun mengingatkan para peserta untuk tetap menjaga kekompakan.


Mengingat medan pendakian akan semakin berat. keadaan di atas gunung suhu udara  malam semakin ekstrim. Disarankan kami mengenakan pakaian atau jaket rangkap. Tidak lupa kami wajib menggunakan alat penerang headlamp, terpasang di kepala. Kami pun makan bergantian seadanya sambil berdiri di atas genangan air.

Selesai berdoa bersama kami melanjutkan perjalanan. Binatang malam mulai terdengar bersahutan disertai guyuran hujan. Pendakian semakin menanjak. Kaki semakin berat untuk digerakan. Di jalanan sempit rombongan kami terlihat panjang mengular. Tiba-tiba terdengar  teriakan dari atas. “Tahan!”. Salah seorang  pendaki harus mendapat suplai oksigen. “Oksigen bawa ke sini,” teriaknya lagi.
Setelah cukup aman, perjalanan kembali dilanjutkan. Tetapi baru beberapa menit terdengar teriakan lagi dari bawah. “Tahan!.” Rupanya teman kami di bawah ada yang terserang kram kaki. Serentak rombongan kami berhenti. Di perjalan malam itu pun kami beberapa kali bertemu pendaki lain yang terpaksa harus digendong turun.

Sekitar pukul 23.00 WIB rombonan tiba di perkemahan Kandang  Badak. Ternyata  tempat itu juga sudah dipenuhi tenda sampai ke lereng-lereng gunung. Karena sulitnya mendapatkan lokasi untuk mendirikan tenda, terpaksa sebagian peserta numpang tidur di emperan tenda warung penduduk.
Berbeda dengan teman saya, Agus dan Sanuddin. Dengan memakai jas hujan, terpaksa harus istirahat tiduran menyender di batang pohontumbang. Begitu juga Reza Gaston, Anggit, dan Mumu. Nasibnya tidak lebih baik, harus tidur di jalan berbatu beralaskan tas keril. Sedangkan Adam, Ipin dan Ofik berhasil mendirikan tenda kecil di lereng dengan tanah bergelombang.

Pagi hari perjalanan dilanjutkan. Pendakian semakin berat. Banyak rintangan batuan serta akar melintang.  Mendekati puncak pemandangan semakin menarik. Pohon-pohon tropis tumbuh subur.  Daun-daun hijau kemerahan lebat menebar teduh para pendaki.  Sambil berseda gurau kami saling memberi semangat.

Tiba di jalur “setan” begitu para pendaki menyebut. Para pendaki harus berjalan berayap di atas tebing batuan curam. Kira-kira setinggi 40 meter dengan kemiringan sekitar 70 derajat. Jalur ini dianggap angker. Tak heran sebagian dari kami ada yang tidak berani melewati jalur ini. Dan terpaksa harus mencari jalan lain agak memutar.

Di sini kami sedikit agak kecewa melihat ada sampah botol plastik berserakan di dasar jurang yang sulit dijangkau. Kemungkinan dibuang sembarangan oleh oknum pendaki yang tidak bertanggung jawab.

Pukul 14 WIB siang kami tiba di puncak dekat kawah. Terlihat lereng dinding batuan terjal kawah aktif (terakhir meletus pada 1957), mengeluarkan asap putih dan bau belerang. Karena lokasinya bagus dan dirasa aman kami pun istirahat dan makan lesehan bersama di tempat tersebut.

Jelang sore rombongan berhasil menginjakkan kaki di puncak sejati Gunung Gede (puncak utama). Penuh haru dan gembira. Kami saling berjabat tangan. Karena telah berhasil mengalahkan rasa cape, lelah dan lapar dan menahan hawa dingin. Tidak lupa kami pun berfoto bersama mengabadian momen bahagia ini. Dari tempat ini pula kami dapat melihat keindahan ciptaan Ilahi. Pemandangan indah kawasan Gunung Gede-Pangrango. Dan keindahan lembah Suryakencana.

Siang akan berganti malam. Sang surya pun mulai tenggelam. Ketika itu cuaca di puncak Gunung Gede selalu berubah. Kadang puncak tertutup kabut. Kadangkala hawa panas dan dingin. Disertai tiupan angin dari lembah. Sebuah pengalaman berharga yang memacu adrenalin. Setelah menikmati puncak Gunung Gede rombongan kami turun menuju lembah alun-alun Suryakencana. Lokasinya berada di antara lembah Gunung Gede dan Gunung Putri.

Disambut kemeriahan ribuan pendaki dan kelap kelip lampu tenda kami tiba di alun-alun Suryakencana. Tetapi belum lama tiba di Suryakenca hujan turun kembali. Dengan sigap para peserta bergotong royong mendirikan tenda di tengah guyuran hujan. Akhirnya delapan tenda berdiri. Melihat kondisi cuaca buruk. Selain itu ada teman yang sakit. Maka malam itu kami putuskan menginap di lembah Suryakencana.
Berada pada ketinggian 2.750 m. dpl dengan jarak 11,8 km dari Cibodas. Dataran seluas 50 hektar  itu sebagian ditutupi hamparan pohon bunga edelweiss warna putih. Lembah alun-alun Suryakencana itu terlihat begitu indah.

Pagi-pagi kami dibangunkan teriakan pedagang nasi keliling. Rupanya ada penduduk di sekitar gunung mencoba mengais rezeki berjualan memanfaatkan ramainya kehadiran ribuan para pendaki. Padahal jarak lembah Suryakencana dengan perkampungan sangat jauh. Sebagian  para peserta sarapan pagi termasuk saya sendiri. Sayang  satu bungkus wuduk seharga Rp10.000,- dan 1 bawan Rp2000,-, rasanya dingin sekali.  Apa boleh buat perut terasa lapar. Sedikit demi sedikit perut bisa terisi makan.

Sekitar pukul 7.00 WIB, tiba-tiba dari seberang lembah terdengar nyanyian lagu Indonesia Raya berkumandang. Rupanya sekelompok pemuda pecinta alam  sedang memperingati hari Kartini, sambil membentangkan bendara merah putih berukuran besar.

Serentak, tanpa dikomando seluruh penghuni tenda keluar meninggalkan aktivitasnya. Termasuk rombongan dari kami semua berdiri mengikuti lagu kebangsaan. Lagu Indonesia Raya pun bergema di lembah alun-alun Suryakencana. Terasa haru, sebuah rasa nasionalisme yang patut ditiru oleh semua penduduk negeri ini.

Sekitar pukul 8.00 WIB rombongan kami pulang, meninggalkan keindahan hamparan putih pohon Edelwis. Ternyata perjalanan pulang sama beratnya. Turunan terjal bukit Gunung Putri di bawah guyuran hujan harus kami lewati. Bahkan ada beberapa teman kami harus jatuh bangun karena jalanan menurun dan licin, sehingga harus ekstra hati-hati.

Tiba di pos jaga Gunung Putri kami melapor. Sekaligus menyetorkan empat karung sampah bawaan. Ini komitmen kami turut menjaga kelestarian lingkungan. Sebuah perjalan panjang yang menguras tenaga, mulai dari jalur pendakian Cibodas sampai Gunung Putri. Kami bersyukur, dan  dengan senang hati kami pun bisa kembali ke rumah masing-masing dengan selamat.