Sunday, 24 July 2016
Mewaspadai Virus Zika di Sekitar Kita
Merebaknya wabah virus Zika di beberapa negara telah
menjadi perhatian banyak kalangan. Pakar penyakit menular dari Amerika Serikat,
Daniel R Lucey dan Lawrence O Gostin menyerukan kepada WHO agar membentuk
komite darurat untuk penanggulangan wabah virus Zika. WHO harus belajar dari
kasus virus Ebola yang menewaskan 11.000 orang.
Direktur Kedaruratan WHO Dr Bruce Aylward mengatakan
20 persen penduduk dunia tinggal di kawasan terinfeksi Zika.
Apakah virus Zika itu? Virus Zika merupakan sejenis
virus dari keluarga flaviviridae dan genus flavivirus, yang
disebarkan oleh nyamuk Aedes Aegypti yang menjadi pembawa virus Dengue. Penularannya sama seperti virus deman
berdarah yaitu oleh gigitannya.
Awal mulanya Virus Zika ditemuan pada darah seekor
monyet di sebuah hutan Zika di Uganda pada 1947. Kemungkinan nama zika diambil
dari nama hutan itu. Kasus pertama dialami pada manusia terjadi Nigeria pada
tahun 1968. Tetapi diabaikan oleh
komunitas ilmuan karena dianggap tidak menimbulkan ancaman besar.
Penyakit Zika mulai
diketahui di daerah khatulistiwa, Afrika dan Asia. Penyakit ini memiliki kaitan
dengan deman kuning dan virus Nil Barat yang dibawa oleh flavivirus bawaan antropoda.
Penderita yang tertular virus Zika biasanya akan menunjukkan gejala-gejala
seperti demam, pusing, muncul ruam merah pada kulit, sakit pada persendian dan
mata merah
Penderita yang terkena demam dengue biasanya dirawat melalui istirahat.
Belum bisa dicegah melalui obat-obatan atau vaksin. Virus Zika diduga menyebabkan kelainan pada janin. Membuat bayi cacat lahir dengan tengkorak
tidak tumbuh sempurna alias Mikrosefalus.
Kasus ini terjadi di Brazil, tercatat 1,400 kasus. Virus tersebut juga
dikaitkan dengan Guillain-Barre, cacat saraf pada orang dewasa.
Bahkan beberapa waktu lalu pemerintah Brasil kerahkan
220.000 serdadu untuk membasmi nyamuk Aedes Aegypti pembawa virus tersebut. WHO
mengatakan diperkirakan 1,5 juta orang di negara tersebut sudah terkena Zika. Merebaknya kasus Zika menjadi
kewaspadaan nyata bagi penyelenggaraan Olimpiade Rio di Brasil.
Diperkirakan virus Zika kini sudah menyebar ke lebih
20 negara di Amerika Latin. Seperti di Brasil, Barbados, Kolombia, Ekuador, El
Salvador, French Guiana, Guatemala, Guyana, Haiti, Honduras, Martinique,
Meksiko, Panama, Paraguay, Puerto Rico, Saint Martin, Suriname dan Venezuela.
Di Inggris pun, Howard Carter telah menemukan virus Zika yang dibawa seekor
nyamuk.
Sebuah laporan penelitian di tahun 2003 oleh
J.G. Olson, T.G. Ksiazek, Suhandiman, dan Triwibowo menyebutkan bahwa
virus Zika pun telah masuk Indonesia sejak tahun 1977-1978. Saat itu peneliti
‘menemukan’ adanya 30 pasien di RS Tegalyoso, Klaten, Jawa Tengah, yang
menunjukkan gejala tertular virus zika.
Sedangkan Dr. Herawati Sudoyo Ph.D, Deputi Direktur
Eikjman Institute mengatakan, pihaknya menemukan virus ini saat terjadi wabah
deman berdarah di Jambi pada Desember 2014 - April 2015.
Cara pencegahannya
* Hindarkan diri Anda dari gigitan nyamuk dengan
memakai krim anti nyamuk.
* Selubungi tempat tidur bayi dengan kelambu agar
terhindar dari gigitan nyamuk.
* Lengkapi lubang ventilasi rumah dengan kawat kasa.
* Ganti air di vas bunga atau bak mandi secara teratur.
* Minum banyak air putih dan cukup istirahat.
* Segera berkonsultasi
ke dokter jika tubuh Anda menunjukkan gejala terjangkit virus.
Diolah dari berbagai sumber
Sunday, 19 June 2016
Rahasia Kode Horizontal di Keyboard
Sejak ditemukannya komputer pertama kali oleh seorang
Banker yang ahli Matematika di Southwark, London-Inggris, yaitu Charless Babbage (1946 – 1959). Sampai sekarang
perkembangan teknologi komputer sangat pesat.
Hampir di setiap aktivitas pekerjaan perangkat
komputer selalu ada. Terutama di perkantoran
dan rumahan sudah tidak asing lagi.
Keberadaannya sangat membantu dalam memudahkan dan mempercepat berbagai macam
pekerjaan.
Kita pasti tahu di setiap unit komputer biasanya
didukung oleh alat ketik yaitu keyboard. Setiap data atau dokumen dimasukan
lewat alat ketik itu. Tetapi mungkin tidak banyak orang yang memperhatikan
detail alat ketik itu. Karena mungkin saking sibuknya bekerja atau brosing di
internet. Banyak yang tidak menyadari ternyata di keyboard itu terdapat kode
tonjolan. Kode strip horizontal ini terdapat di dua huruf F dan J.
Jika sekilas memang tidak terlalu terlihat. Tetapi
kalau diraba di kedua huruf itu akan terasa ada sesuatu yang lain dibanding
dengan huruf lainnya. Coba saja perhatikan dan raba di kedua huruf tersebut.
Tahukan Anda kode apakah itu? Ternyata kode itu mempunyai tujuan tertentu.
Yaitu sebagai kode memudahkan mengawali proses pengetikan.
Adalah Frank
Edward McGurrin, yang menemukan teori metode touch
typing pada tahun 1888. Metode touch typing ini, merupakan
sebuah metode tentang cara mengetik tanpa melihat tombol di keyboard. Bertujuan
untuk lebih memudahkan seseorang dalam proses pengetikan sebuah dokumen atau
memasukan data.
Metode McGurrin ini dikenal dengan nama metode
mengetik menggunakan 10 jari. Yakni meletakkan jari-jari tangan kiri sejajar pada
huruf A - S - D - F dan J - K - L - ; pada
jari-jari tangan kanan. Kemudian kedua jempol diletakkan pada tombol space
bar dalam mengambil posisi untuk memulai mengetik. Praktik metodei ni
sering pula dipakai di tempat-tempat kursus mengetik.
Selama proses pengetikan posisi jari-jari yang sejajar
tetap menjadi patokan. Menurut McGurrin, Meletakkan jari telunjuk kiri di huruf
F dan jari telunjuk kanan di huruf J pada tombol keyboard, merupakan cara yang
paling efektif dalam proses pengetikan. Sehingga hal demikian bisa mempermudah
dan mempercepat seseorang ketika mengetik dokumen yang dikerjakan.
*diolah dari berbagai sumber
Friday, 20 May 2016
Ronda Malam di Gunung Guntur
Bres...bres... bres... linggis itu terus ditugarkan ke dinding batuan
berpasir. Bapak setengah baya itu hirau terhadap lalu lalang para pejalan kaki.
Ia tetap berada di bawah lubang galian. Sesekali ia jongkok memisahkan antara batu
kerikil dan pasir. Sepertinya ia sedang mencoba mengais rezeki dengan menambang
pasir.
Itulah sisi lain pemandangan dari kegiatan salah satu warga di kaki Gunung Guntur
pagi itu. Ketika kami akan melakukan pendakian melalui jalur curug Citiis,
beberapa waktu lalu. Aktivitas penambangan pasir kerap terjadi di kawasan itu.
Bahkan telah menjadi mata pencaharian sebagian warga.
Pada awalnya rencana melakukan pendakian ke gunung yang berada di Kabupaten
Garut, Jawa Barat hampir saja batal. Karena sebagian mengundurkan diri. Alasannya
merasa khawatir oleh kondisi cuaca buruk yang terus terjadi antara bulan Januari-Februari.
Memang pada bulan itu intensitas hujan disertai petir cukup tinggi.
Hanya bertiga memutuskan tetap berangkat. Yaitu, Gaston, Hardi dan saya
sendiri. Pertimbangannya sudah jauh-jauh hari, prepentif mempersiapkan segalanya.
Keputusan tetap berangkat itu bukan bertujuan menantang alam. Tetapi menikmati
alam. Karena alam tidak untuk ditantang.
Wajar saja timbul rasa khawatir yang disebabkan kondisi cuaca buruk. Gunung
dengan ketinggian 2.249 mdpl itu. Dari lereng sampai puncak gunung jarang ditumbuhi
pohon. Arealnya cukup terbuka. Apabila hujan sangat berisiko terhadap sambaran
petir. Tetapi yang terpenting adalah tetap waspada dan berdoa.
Seiring berjalannya waktu. Ternyata yang berangkat bertambah menjadi
sembilan orang. Keikutsertaan teman-teman lain memberikan semangat kepada kami
bertiga. Jujur saja, saya pribadi merasa was-was. Oleh seringnya hujan turun
disertai petir pada bulan itu. Memang musibah bisa terjadi kapan, dan di mana saja.
Yang terpenting adalah keyakinan pada diri sendiri, dan percaya kepada Yang
Maha Kuasa.
Diiringi doa, sekitar pukul 11.00 WIB pada Kamis malam. Dua mini bus
meluncur menuju Kabupaten Garut. Melalui jalan Cibubur, Cilengsi, Jonggol terus
ke Cianjur. Kami sengaja tidak lewat jalan tol karena dikhawatirkan terjebak
kemacetan. Sebab jelang libur akhir pekan biasanya banyak warga Jabotabek liburan
ke luar kota.
Memasuki daerah Cariu, Kabupaten Bogor kondisi jalanan sedikit
bergelombang. Tetapi laju kendaraan masih dapat dipacu kencang. Tak terasa kota
Cianjur dan Padalarang pun sudah terlewati. Kami tiba di Cimahi dan langsung
masuk tol menuju arah Cilenyi, Bandung.
Di Cileunyi kami berhenti dua kali. Pertama kami istirahat di rest area tol Cileunyi sekitar pukul 2.00 WIB dini hari.
Kami kembali mampir ke sebuah mini market setelah keluar tol menuju arah Garut.
Sambil menikmati tahu hangat. Salah satu makanan khas Sumedang yang banyak dijajakan
di sepanjang jalan.
Kira-kira pukul 5.00 WIB pagi rombongan kami memasuki Tarogong, Garut. Dari
jalan raya sudah terlihat panorama Gunung Guntur. Walaupun gunung sudah kelihatan.
Kami masih harus bolak-balik mencari tahu menuju jalur pendakian. Maklum belum
pernah ke Gunung Guntur. Tak butuh waktu lama kami tiba di Kampung Citiis atau
disebut jalan PLP.
Sebenarnya untuk menuju jalur pendakian ke Gunung Guntur ada dua pilihan. Pertama
lewat jalur curug Citiis. Berada di Kampung Citiis/PLP, Kecamatan Tarogong
Kaler, Kabupaten Garut. Sedangkan jalur kedua, bisa melewati jalur Cikahuripan
dari Desa Pakuhaji daerah Samarang.
Untuk lewat jalur Citiis bisa berpatokan pada POM bensin yang berada di
Desa Tanjung. Kalau dari arah Bandung berada di sebelah kanan. Sedangkan dari
Garut kota berada di sebelah kiri. Jarak dari alun-alun Kota Garut ke Gunung Guntur sekitar 10 km.
Apabila dari Jakarta, Bekasi bisa naik bus jurusan Garut. Kemudian turun di
terminal, dilanjutkan naik angkot jurusan Cipanas. Turun di Desa Tanjung dekat
POM bensin. Atau di gerbang Kampung Citiis. Jika tidak membawa kendaraan bisa langsung
naik ojek ke basecamp di rumah ketua Rt/Rw, sama saja.
Di basecamp ini pendaki wajib melaporkan diri. Dengan menuliskan nama-nama
yang akan naik gunung. Meninggalkan foto copy KTP, serta mencatat nomor HP. Untuk
koordinasi, pendaki juga akan membawa selembar kertas untuk melapor kembali ke
petugas di pos 3.
Kira-kira pukul 6.00 WIB pagi akhirnya rombongan kami tiba di Kampung Citiis.
Kami langsung lapor minta ijin kepada Nandang, ketua Rt 02. Ternyata di rumah
kediaman ketua Rt sudah dipenuhi para pendaki lain. Bahkan di mesjid juga banyak
pendaki yang sedang istirahat dan numpang tidur.
Bagi yang membawa kendaraan motor atau mobil. Bisa diparkir dititipkan
dekat mesjid dan di basecamp rumah kediaman ketua Rt dan Rw setempat. Cukup
aman katanya, walaupun harus nginep seperti diutarakan Nandang kepada kami.
Setelah berdoa bersama dipimpin Ipin dan Gaston. Sekitar pukul 7.00 WIB
kami berangkat. Perjalanan normal menuju puncak Gunung Guntur bisa ditempuh 1
sampai 2 jam. Untuk mempercepat waktu tempuh para pendaki bisa numpang truk
penambang pasir yang sering lalu lalang.
Begitu pun rombongan kami, dapat sedikit ngirit energi diantar mendekati areal galian pasir. Sayang, kendaraan sejenis mini bus tidak bisa melanjutkan perjalanan lebih jauh. Disebabkan kondisi jalan sangat buruk. Kecuali truk pasir karena mempunyai roda ban tinggi.
Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki. Menyusuri jalanan
berbatu bercampur pasir. Di jalur ini akan dijumpai batu-batu besar dan bekas galian
pasir. Di kaki gunung, sebelah selatan tampak dinding lempengan lapisan batuan.
Memanjang nyambung ke lereng Gunung
Guntur. Kemungkinan bekas aliran lahar letusan pada masa lalu.
Yang menarik pemandangan ke atas gunung semakin terbuka. Kabut putih yang menyelimuti
puncak gunung lambat laun mulai sirna. Sang surya pagi itu cukup cerah
menyinari puncak Gunung Guntur. Rerumputan membentuk padang savana mulai
terlihat indah. Sehingga teman-teman semakin bersemangat melangkahkan kaki agar
cepat bisa menggapai puncaknya.
Tak lama kami memasuki jalur menuju hutan. Di sepanjang jalur ini banyak
ditumbuhi pohon rindang. Daun-daunnya yang hijau memberi teduh kepada para
pendaki. Di jalur ini juga akan dijumpai pula warung-warung dan tempat untuk
istirahat.
Menjelang tiba di pos 2 gemuruh aliran curug Citiis mulai terdengar
mengiringi perjalanan kami. Dari rimbunya pohon terdengar suara kicau burung-burung.
Seperti turut menyambut kehadiran kami. Sekaligus memberitahukan tentang
perjalanan akan lebih sulit. Padahal rasa lelah mulai mendera. Keringat pun
terus bercucuran membasahi sekujur tubuh.
Benar juga. Setelah melewati pos 2, pendakian semakin berat. Jalur jalan berbatu
serta curam. Dengan tingkat kemiringan antara 45 sampai 75 derajat. Banyak para
pendaki berjibaku menaklukkan medan jalur ini. Harus diwaspadai pula ketika kaki-kaki
meniti bebatuan. Karena rawan longsor, jatuh membahayakan orang di bawahnya.
Sebenarnya lewat jalur curug Citiis jaraknya tidak terlalu jauh. Tetapi
jalurnya lumayan menantang. Membutuhkan adrenalin untuk melewatinya. Tak heran,
Gunung Guntur sering disebut Semeru-nya Jawa Barat. Woh..! Dagu ketemu lutut memang terjadi. Sebuah tantangan menarik
bagi para pecinta alam.
Hari semakin siang. Mendekati pos 3, pohon-pohon mulai jarang. Sinar matahari
mulai terasa menyengat membakar badan. Dari lembah masih terdengar gemuruh
suara aliran curug Citiis. Seorah bersorak memberi semangat kepada kami untuk
tidak menyerah.
Akhirnya kami tiba di pos 3 sekitar pukul 10.00 WIB siang. Ketua rombongan
Ipin dan Gaston, sigap melapor kepada petugas jaga. Ada pesan dari petugas.
Yaitu, kami agar tetap menjaga barang bawaan masing-masing. Karena sering
terjadi pencurian yang menyamar sebagai pendaki, katanya.
Tampak di sekitar pos dan di lereng gunung sudah banyak tenda berdiri. Pihak
pengelola Gunung Guntur melarang para pendaki berkemah di puncak gunung. Sebab apabila
turun hujan disertai petir akan sangat berbahaya. Bahkan larangan itu terpasang
di spanduk berukuran besar.
Setelah mendapatkan lokasi yang cocok untuk berkemah. Langsung saja kami bersama-sama
mendirikan dua tenda. Tidak butuh waktu lama dua kemah pun berdiri saling
berhadapan. Sedangkan Naomi dan Henda, dengan
cekatan kompak menjadi juru masak. Sementara Adam dan Anggit kebagian tugas
mengambil air di lembah untuk persediaan.
Pada intinya kami selalu saling kerjasama dalam berbagai hal. Memang itu
yang seharusnya dilakukan para pendaki. Berkat kerjasama tim, tidak berapa lama
kami pun bisa menyantap makanan. Mengisi perut yang sudah keroncongan.
Matahari semakin condong ke barat. Puncak gunung tampak mulai diselimuti
kabut putih. Terlihat di sebelah selatan awan hitam mulai mendekat. Benar saja,
sekitar pukul 4.00 WIB sore hujan pun turun diiringi suara gemuruh guntur disertai
kilatan petir.
Agar tidak ada hal-hal yang diinginkan. Saya meminta kepada teman-teman untuk
mematikan handphone. Sebab di tempat terbuka sinyal handphone rentan mengundang sambaran kilat
petir. Ini jelas sangat berbahaya bagi keselamatan jiwa.
Semakin sore hujan semakin lebat. Di tengah guyuran hujan lebat. Salah satu
tenda mengalami kebocoran. Kemungkinan ada kesalahan sewaktu pemasangannya. Terpaksa
kami berdesak-desakan di dalam tenda satunya lagi.
Siang akan berganti malam. Alam malam mulai hadir membawa hawa dingin. Mulai
menusuk ke pori-pori kulit. Sambil nunggu hujan reda kami asyik ngobrol ditemani
kopi panas, untuk menghangatkan perut. Sekitar pukul 9.00 WIB malam hujan pun
reda.
Pandangan jauh ke lembah sebelah timur. Kota Garut kerlap-kerlip memancarkan
kilau cahaya seperti bertabur batu permata. Malam pun semakin larut. Nyanyian
binatang malam terdengar bersahutan. Semilir angin menerpa rerumputan. Dia
angkasa bulan dan bintang mulai memancarkan cahaya. Alam raya seolah berdoa
kepada Sang Pencipta. Sungguh panorama yang indah.
Jelang tengah malam, kami berbagi tugas melakukan ronda. Giliran pertama
Anggit dan Ipin mulai pukul 12.00- 02.00 WIB. Dilanjutkan Saya dan Gaston
sampai pagi. Sedangkan yang lain pulas untuk menggapai mimpinya masing-masing.
Pagi hari. Satu satu persatu para pendaki mulai bangun, keluar dari tendanya.
Untuk menikmati udara pagi dan melihat kemunculan sunrise. Sayang, sang surya sedikit malu-malu bersembunyi di balik
awan putih. Tetapi pancaran cahayanya tetap hadir menyapa para pendaki.
Sekaligus memberikan kehangatan dan cerah pada alam sekitarnya.
Pukul 9.00 WIB pagi. Koki dadakan, Naomi dan Hardi dibantu Hendra kembali beraksi
menyiapkan sarapan pagi. Wahhh..., ternyata racikan masakan mereka pagi itu lebih
manyos, meminjam istilah Pak Bondan.
Sehingga kami dapat menikmati hidangannya. Sekaligus memberi energi untuk perjalanan
pulang.
Selesai sarapan pagi, kami beres-beres untuk turun gunung. Perjalanan
pulang ternyata lebih cepat. Walaupun perjalanan turun tidak bisa dibilang
enteng. Karakter jalur berbatu yang curam butuh konsentrasi dan kewaspadaan. Bahkan
Adam, yang bertubuh bongsor harus kerja keras menuruni batu-batu curam itu.
Tetapi ia tetap semangat.
Menjelang tiba di pos 2. Kami melihat pemandangan kurang sedap di jurang
dekat pinggir kali. Ada seongok gunukan sampah. Kemungkinan sampah-sampah itu dibuang
oleh oknum pendaki. Ini sangat disayangkan. Seharusnya sampah itu dibawa turun
ke basecamp. Disimpan ke tempat sampah yang sudah ditentukan.
Kira-kira pukul 11.00 WIB siang. Rombongan kami tiba di basecamp. Lancarnya
pendakian dan ketika turun gunung. Ini berkat kerjasama solid antar
teman-teman. Saling bantu, saling suport, telah menjadi amunisi. Kekompakan tim
sangat berharga bagi kami selama dalam melakuan pendakian. Sehingga kami bisa kembali
pulang ke Jakarta dengan selamat. Mantap!!!
Monday, 9 May 2016
Geliat Wisata di Bendungan Waduk Jatigede Sumedang
...tempat urang daratang neang impian, kokojayan ngudag-ngudag pangharepan, kabagjaan kahayang sing
karandapan, lalugina ulah ukur saliwatan...
(Tempat kita pada datang mencari
impian, berenang-renang mengejar-ngejar harapan, kegembiraan kemauan supaya
terlaksanakan, kebahagiaan tidak hanya sementara)
Bait di atas adalah salah satu syair tembang pop Sunda yang berjudul “Jatigede” karya Bah Duyeh, salah satu
seniman Sunda yang lahir di Cibungur, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang.
Latar belakang Waduk Jatigede telah menjadi inspirasinya untuk berkarya
mencipta lagu. Ia melihat keberadaan bendungan Waduk Jatigede sekarang dan di
masa mendatang akan dikunjungi banyak orang untuk mencari harapan dan mengejar asa.
Setelah resmi dilakukan pengisian air (impounding) pada 31 Agustus
2015. Waduk yang memiliki
kapasitas 980 juta meter kubik air. Kini volume ketinggian air
waduk Jatigede sudah mencapai batas yang telah ditentukan.
Meningkatnya genangan air bendungan Waduk Jatigede itu menjadi daya tarik warga
untuk datang melihat pemandangannya sekaligus berfoto-foto. Mereka tidak hanya
datang dari dekat bendungan. Terutama yang mempunyai hubungan keluarga dengan warga
di sekitar. Tetapi ada juga yang datang dari Bandung, Garut, Tasikmalaya,
Indramayu, Majalengka, Cirebon, bahkan dari Jakarta.
Kehadiran warga tidak hanya ramai berdatangan ke dekat tembok bendung utama. Terletak di Desa Cijeungjing, Kecamatan Jatigede. Tetapi ke lokasi lain, misalnya kewilayah Kecamatan
Cisitu, Darmaraja dan Wado.
Dari pengamatan penulis ada beberapa tempat yang banyak didatangi
pengunjung. Misalnya di Desa Pakualam, Cibogo, Jatibungur, Kecamatan Darmaraja,
dan Blok Tanjungduriat di
Desa Pajagan, Kecamatan Cisitu. Bahkan di akhir pekan kehadiran
pengunjung jumlahnya semakin meningkat.
Antusias pengunjung berdatangan setiap hari. Menjadi peluang bisnis baru bagi
warga di sekitar bendungan Jatigede. Salah satunya dengan usaha mendirikan
warung-warung dan menyewakan perahu-perahu dan rakit. Misalnya di Jatibungur,
kini sudah berjejer warung menjajakan makanan. Bahkan di lokasi ini juga sudah tersedia
beberapa perahu, rakit, dan sepeda air yang siap disewakan kepada para
pengunjung.
Bahkan setiap hari saya melihat puluhan pemancing berdatangan dari pagi hingga
sore. Ada juga yang mancing pada malam hari dengan menyewa rakit bambu. Mereka
ada yang datang perorangan dan juga rombongan.
Untuk lebih menarik pengunjung, warga di Jatibungur memberi nama lokasi
wisata air ini sebagai “Banyu Bungur”, mengambil dari nama asli kampung itu yakni, Cibungur. Bagi
Anda yang ingin keliling naik perahu cukup membayar Rp 10.000,- sekali putaran.
Bagi yang hobi mancing Anda bisa menyewa rakit bambu Rp 10,000/hari. Sedangkan untuk sewa sepeda
air hanya Rp 5,000,- per jam.
Lokasi wisata air di Desa Jatibungur, Kecamatan Darmaraja cukup strategis. Bisa
jadi nantinya akan menjadi salah satu spot wisata air yang menarik. Hal ini
bukan tanpa alasan, pertama adalah adanya dukungan akses jalan cukup mudah.
Menghubungkan dari kota Bandung-Sumedang ke arah Wado, Garut,
Tasikmalaya dan Ciamis.

Kedua dari Jatibungur lokasinya cukup terbuka apabila melihat ke arah timur
akan terlihat pemandangan alam bentangan Gunung Jagat/Cakrabuana dan view
Gunung Ciremai bisa menjadi background yang menarik bagi para penikmat
wisata alam.
Tidak hanya itu, dari tempat ini di pagi hari apabila udara cerah bisa
melihat sunrise. Munculnya sang surya dari balik kemegahan Gunung
Ciremai yang berdiri kokoh. Seolah menjadi saksi bisu terusirnya ribuan manusia
demi membangun negeri. Dari tanah leluhur kerajaan Tembong Agung, cikal bakalnya
kerajaan Sumedang Larang.
Tetapi yang lalu biarlah berlalu dengan waktu. Apabila ada masalah yang belum beres dari
dampak sosial bendungan. Pemerintah mempunyai tanggungjawab moral
untuk menyelesaikan persoalan sebaik-baiknya. Jika membiarkan masalah warga tidak
diselesaikan dengan baik. Maka akan menjadi dosa besar pemerintah terhadap rakyatnya.
Dan yang utama, bendungan terbesar kedua di Asia Tenggara setelah
Jatiluhur. Bisa cepat memberikan manfaat banyak, bernilai positif bagi
masyarakat. Sumberdaya airnya tidak saja digunakan untuk pembangkit tenaga
listrik atau irigasi dan pesawahan. Tetapi dapat memberi fungsi lain sebagai
pemicu kebangkitan ekonomi di kawasan tersebut.
Secara pribadi saya melihat keberadaan Waduk Jatigede mempunyai prospek
bagus. Cukup menjanjikan di masa mendatang. Akan memberika pesona baru terurama
bagi perkembangan wisata di Kabupaten Sumedang khususnya, Jawa Barat pada
umumnya.
Menurut subuah sumber, Perhutani di Puncakdamar Blok Baros akan mengembangkan
ekowisata alam dengan memanfaatkan area
hutan di sekitar waduk. Alternatif lain obyek wisata yang direncanakan oleh pengelola waduk antara lain akan
dibangun kawasan offroad, camping ground, agrowisata, waterboomm, hotel, zona pancingan, ataupun wisata
seni-budaya.
Bahkan beberapa waktu lalu untuk pemanfaatan sumberdaya air bendungan. Gubernur Jawa
Barat, Ahmad Heryawan sudah tebar 2.5 juta benih
ikan lokal di bendungan Jatigede. Targetnya akan
ditebar 10 juta benih ikan sisanya akan dipenuhi setiap tahun. Adapun jenis-jenis ikan
yang ditebarkan diantaranya: Ikan Patin, Ikan Tambakan, Ikan Emas, Ikan Kancra,
Ikan Tawes, Ikan Nilem, Ikan Beureun Panon, Ikan Baung, Ikan Grasscrap, Ikan
Bandeng dan Udang Galah.
![]() |
Abah Hadri, mantan kokolot (ketua
kampung) Cibungur.
|
Dengan ditebarnya berbagai jenis ikan di bendungan tersebut diharapkan
kelak bisa dipanen. Sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat di sekitar. Sekarang
pun masyarakat bisa bebas memancing atau menjala ikan.
Cuma sayang ketika saya mencoba ikut keliling naik perahu bersama Hadri, mantan
kokolot (ketua kampung) di Cibungur. Saya melihat ada warga
sedang mencari ikan dengan jerat jaring memanjang (horizontal) di dekat
Kampung Lameta. Apabila jarak lubang jaringnya rapat-rapat. Tentu akan
mempercepat kepunahan ikan-ikan yang baru saja ditebar. Hal ini secara pribadi
saya tidak setuju, berbeda dengan cara dipancing atau dengan dikecrik (dijala).
Bagi yang hobi wista alam dan travelling tidak salahnya berkunjung ke obyek
wisata Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Lokasi wisata baru ini memang menjanjikan
walaupun masih dalam tahap pembenahan. Tetapi cukup menarik untuk dijelajah. Jadi
tidak salahnya mencoba berkunjung ke tempat baru ini, akses jalan cukup mudah.
Berikut rute menuju bendungan Waduk Jatigede:
*dari Jakarta bisa melalui jalan Tol Jakarta-Cikampek, Cipularang-Cileunyi Bandung
terus ke arah Sumedang di Jalan 11 April belok kanan menuju Situraja,
Darmaraja. Atau lewat jalan lingkar luar kota Sumedang sehabis terminal bus akan
menemukan bundaran Alamsari, ambil jalan
lurus menuju Situraja.
*Bisa juga dari Jakarta melalui jalan Tol Cipali. Keluar di daerah Subang
terus menuju arah Sumedang. Dilanjutkan ke arah Tomo-Tolengas-berakhir di
Cijeungjing.
* Jika naik bus dari Jakarta bisa naik bus besar jurusan Kampung Rambutan-Sumedang,Wado.
Turun di Warung Ketan, Kecamatan Situraja terus ke arah Pajagan ada petunjuk
arah ke bendungan Jatigede. Anda bisa juga memilih lokasi lain yang berada di Kecamatan
Darmaraja, yaitu di Desa Pakualam, Cibogo atau Jatibungur.
* Sedangkan dari Tasikmalayabisa naik bus 3/4 jurusan Tasikmalaya-Wado-Cikampek.
* Jika naik bus dari terminal Bekasi atau Cikarang bisa naik bus ¾,jurusan
Wado-Cikarang-Bekasi dengan tarif Rp 45,000,- Rp 50,00-,- melewati Kabupaten Purwakarta dan Subang.
* Dari Cirebon, Kuningan, Majalengka dan Indramayu, bisa memilih jalan arah
Tomo-Tolengas dan berlanjut ke Cijeungjing Jatigede. Dari arah ini bisa
langsung menuju gerbang utama tembok bendungan.
Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan sedikit informasi dan bisa
bermanfaat bagi para travelling.
Selalu untuk berdoa dan berhati-hati dalam perjalanan.









































