Sunday, 6 December 2015
Gunung Prau Dieng Suguhkan Pesona Kahyangan
“Bangun,…
bangun…, ayo bangun kalau kepengen melihat pamandangan bagus! Udah jauh-jauh
bayar. Kalau mau numpang tidur jangan di sini, di rumah nenek saja!,” begitu
teriak salah satu petugas (ranger) ketika
menjelang subuh. Membangunkan ratusan para pendaki yang sedang berkemah di
puncak Gunung Prau. Suasana masih gelap, para pendaki satu persatu berhamburan
menuju lereng sebelah timur. Mencari posisi yang baik untuk berburu keindahan
pemandangan alam.
Itulah sepenggal peristiwa dari
Gunung Prau. Ketika saya bersama
teman-teman melakukan pendakian ke gunung tersebut beberapa waktu lalu. Sebanyak
18 pecinta alam ikut serta dalam rombongan. Terdiri dari 13 pria dan 5 wanita. Memulai
pemberangkatan dari Jakarta pada Jumat malam sekitar pukul 23.00 WIB. Ini
sebenarnya waktu pemberangkatan sangat mepet. Padahal target kami Sabtu pagi sudah
harus melakukan pendakian.
Kira-kira pukul 11.30 WIB rombongan
kami tiba di Banjarnegara. Terlebih dahulu mampir ke rumah salah satu teman untuk
istirahat. Perjalanan kami dari Jakarta ke Banjarnegara menempuh waktu hampir
12 jam, cukup melelahkan. Perkiraan pada hari Sabtu pagi sudah sampai di
Banjarnegara ternyata meleset. Apa boleh buat pendakian ke Gunung Prau harus
tetap terlaksana. Walaupun kami punya waktu libur sedikit. Setelah makan dan
cukup istirahat, sekitar pukul 14.00 WIB kami melanjutkan perjalanan menuju
Wonosobo.
Perjalanan dari kota Wonosobo
sampai kawasan Pegunungan Dieng sempat diguyur hujan. Keadaan ini menjadikan kami
sedikit was-was. Jika hujan terus menerus turun, pasti akan menyulitkan
pendakian. Maklum, saya dan teman-teman bukan pendaki profesional. Selain itu
kami kurang mengenal kondisi medan jalur pendakian Gunung Prau yang
sesungguhnya. Walaupun sebelumnya sudah berusaha mencari informasi tentang Gunung
Prau. Tetapi kekhawatiran itu tetap ada.
Akibat guyuran hujan menjelang
Dieng laju kendaraan agak lambat. Saya lihat teman-teman sangat menikmati
perjalanan itu. Canda dan tawa menyertai perjalanan. Tetapi ada juga yang tidur
pulas terbawa mimpinya sendiri. Jalanan di kawasan Dieng yang berkelok-kelok. Di
sebelah kiri-kanannya menyuguhkan pemandangan pegunungan yang elok. Tampak pula
perkebunan terasering memberi warna tersendiri terhadap panorama perbukitan. Walaupun
masih musim kemarau, pesona Dieng tetap menarik untuk dinikmati.
Sekitar pukul 16.00 WIB kami tiba
di Patak Banteng. Track ini memang telah
menjadi favorit bagi para pendaki. Melewati jalur Patak Banteng pendakian relatif
pendek dibandingkan lewat Dieng. Prakiraan waktu tempuh bisa mencapai antara 2-3
jam. Tetapi jalur Patak Banteng mempunyai tingkat elevasi yang curam. Sehingga
kami pun, dan para pendaki lain tidak boleh menganggap enteng jalur ini.
Sebenarnya Gunung Prau dapat didaki melalui tiga jalur. Yaitu dari Kenjurang,
Patak Banteng, dan Dieng.
Secara geografis Gunung Prau berada
di daratan tinggi Dieng, Jawa Tengah. Terletak di antara tiga kabupaten yaitu
Kendal, Batang dan Wonosobo. Dengan ketinggian 2.565 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Gunung Prau paling tinggi di antara Gunung Sipandu, Gunung Pangamun-amun, dan Gunung
Juranggrawah yang berada di kawasan Dieng. Gunung Prau, telah menjadi salah satu primadona bagi para
pendaki. Karena tidak terlalu tinggi untuk didaki dan jarak tempuh yang pendek.
Rasanya ada yang kurang apabila belum mencoba mendaki menikmati keindahan alam dari
puncak Gunung Prau.
Setelah turun dari kendaraan. Kami
mempersiapkan barang bawaan masing-masing. Sementara Gunawal dan Ipin,
kordinator rombongan melapor ke pos jaga. Walaupun hari semakin sore dan sebentar
lagi malam akan tiba. Kami melihat para pendaki masih ramai berdatangan. Areal
parkir dekat pos jaga pun sudah dipenuhi kendaraan mobil dan motor. Padahal
ketika itu hari libur biasa, Sabtu dan Minggu. Tak salah memang jika keberadaan
Gunung Prau menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki gunung.
Sekitar pukul 17.00 WIB. Diiringi
guyuran hujan rintik-rintik, rombongan kami mengawali pendakian. Raut muka
kelelahan belum hilang di wajah teman-teman. Tetapi dengan doa dan keyakinan
diri dari masing-masing peserta. Untuk menggapai puncak Gunung Prau masih tetap
semangat. Semangat kami bukan untuk menaklukkan alam. Tetapi prinsip kami adalah
ingin bersahabat dengan alam. Menikmati dan memelihara keindahan alam yang
telah diberikan Tuhan kepada umat manusia.
Baru beberapa langkah dari pos
jaga. Track Patak Banteng sudah memberikan
tantangan. Padahal masih di sekitar perkampungan penduduk. Di jalur jalanan ini
tidak ada istilah pemanasan. Langkah kaki para pendaki tanpa kompromi, akan
langsung diajak berjuang melawan tanjakan menuju pos 1 Sikut Dewo. Awal yang lumayan
menguras tenaga. Tak ayal banyak para pendaki dibuat kerepotan.
Pelan tapi pasti satu per satu
para pendaki tiba di pos 1. Ramainya para pendaki yang datang pada hari itu
membuat perjalanan harus antri. Karena jalur pendakian sangat sempit. Naik dari
pos pertama ini pendaki harus berpegang
pada batangan bambu. Kami melihat beberapa petugas, ranger Gunung Prau mengawasi para pendaki. Para petugas ini dengan
sigap siap membantu apabila ada pendaki yang mendapat kesulitan. Bahkan mereka
siap menjadi porter untuk membawa barang sampai ke atas.
Beruntung hujan sudah berhenti.
Malah cuaca di sekitar gunung berubah menjadi cerah. Keadaan ini membawa
gembira kepada para pendaki. Sebaliknya jika hujan terus menerus turun maka
tanah jalur pendakian akan licin. Hal ini tentu tidak diinginkan oleh para
pendaki. Karena akan menyulitkan perjalanan menuju puncak. Sepertinya hujan rintik-rintik
tadi tidak sampai membasahi ke lapisan tanah bagian bawah. Sehingga ada
sebagian jalur tanah gembur yang dilewati para pendaki mengakibatkan debu berterbangan.
Beruntung kami mempersiapkan masker agar tidak mengirup debu.
Setelah melewati pos 3, hari
semakin sore. Keadaan semakin gelap, para pendaki mulai menyiapkan lampu senter
dan head lamp. Semakin ke atas jalur
pendakian semakin menanjak. Bahkan ada sebagian dari rombongan kami yang
kedodoran, tertinggal jauh di bawah. Melihat keadaan ini kami membuat basecamp darurat di pinggir jalur
pendakian, untuk menunggu teman lain. Bahkan Hail, salah satu peserta harus
kembali turun menjemput. Membantu membawa barang bawaan.
Ada juga yang mengalami kram
kaki. Termasuk salah satu dari teman kami mengalami hal serupa. Kondisi
demikian memang sering terjadi dialami oleh sebagian para pendaki. Biasanya disebabkan
terlalu kecapean dan beban yang berat. Bisa juga karena kurangnya peregangan
otot. Memang di sinilah kerjasama antar para pendaki sangat diperlukan.
Bersyukur selama pendakian kami tidak mengalami masalah lebih parah. Memang itu
sangat tidak diinginkan oleh kami dan para pendaki lain. Setelah rombongan kami
komplit dan cukup istirahat perjalanan dilanjutkan. Sedangkan Ilham dan Alfa
yang membawa peralatan tenda diminta naik terlebih dahulu untuk mencari lokasi
buat mendirikan tenda.
Alam malam mulai terasa seolah memberi
cobaan kepada para pendaki. Dengan tiupan angin dan suhu udara yang semakin
dingin. Menusuk-nusuk ke pori-pori kulit tubuh. Sementara di lembah pemukiman
penduduk terlihat kelap-kelip lampu penerang. Seolah mengobarkan semangat kepada
para pendaki untuk tidak menyerah. Diiringi paduan suara binatang malam
bersahutan sepertinya turut menyambut kehadiran kami semua. Dan memberi kabar,
bahwa sebentar lagi puncak Gunung Prau akan tergapai.
Sekitar pukul 19.00 WIB rombongan kami tiba. Luar biasa! Camping groud puncak gunung itu sudah dipenuhi tenda-tenda para
pendaki. Bahkan di bukit sebelah timur dan utara Gunung Prau banyak juga para
pendaki berkemah. Ketika itu suasana sangat ramai, seperti pasar malam. Agar
bisa cepat istirahat, kami segera mendirikan tenda. Mengingat udara di puncak
Gunung Prau semakin malam semakin dingin.
Ketika akan mendirikan tenda, saya
dan teman-teman agak kerepotan. Disebabkan tipuan angin di puncak gunung sangat
kencang. Serta suhu udara sangat dingin sedikit menghambat kerja kami. Bahkan
saya dan Gaston agak kesulitan memegang tali tenda karena tangan ikut gemetaran.
Tetapi dengan saling bahu-membahu tidak berapa lama empat tenda bisa berdiri.
Naomi, dibantu teman wanita lain pun dengan sigap menyiapkan masakan. Sehingga seluruh
peserta bisa menikmati makanan dan minuman menyegarkan. Berkat kerjasama yang
bagus akhirnya kami pun bisa istirahat dan tidur.
Rasanya tidur belum pulas. Kami
sudah terbangunkan oleh teriakan petugas yang datang dari arah Selatan. Rupanya petugas Gunung Prau sengaja
membangunkan para pendaki. Agar bisa menikmati keindahan pemandangan. Tidak
berapa lama. Walaupun keadaan masih agak gelap. Tidak peduli hawa dingin dan
terpaan angin kencang. Para pendaki berhamburan keluar dari tenda masing-masing.
Menuju sisi lereng sebelah timur. Mencari posisi bagus untuk melihat pesona
alam dan mengabadikannya.
Inilah keunggulan suguhan indah
dari atas Gunung Prau. Padahal gunung ini gundul hanya sedikit ditumbuhi pohon
pinus. Tetapi dari puncaknya kita bisa melihat pemandangan cantik. Berawal dari
kemunculan garis memanjang warna merah dan gradasi kuning keemasan. Disusul
kemunculan sunrise serta penampakan indah
Gunung Sindoro dan Sumbing seolah muncul dari atas awan. Serta latar belakang
puncak Gunung Merapi, Slamet dan Merbabu. Sehingga semakin indah lukisan alam
itu.
Melihat penomena alam itu hampir
seluruh pengunjung bersorak. Suatu anugrah Tuhan yang harus kita sukuri. Pantas
saja ratusan bahkan ribuan orang rela berdatangan ke puncak Gunung Prau. Tidak
hanya pengunjung lokal. Ada juga turis asing berbaur menikmati keindahan alam
itu. Saya pribadi yang baru kali pertama datang ke puncak Prau merasa terharu
dan gembira. Bersyukur masih bisa menikmati karya Ilahi yang tiada tara. Seperti
sedang mimpi di negeri dongeng, berada di kahyangan.
Menurut keterangan Suwikno, salah
satu angota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) kawasan Dieng. Hampir setiap
libur akhir pekan selalu banyak dikunjungi para pecinta alam dari berbagai
daerah. Apalagi kalau hari libur panjang. Serta didukung keadaan cuaca yang bagus.
Bisa ribuan pendaki berdatangan ke puncak Gunung Prau.
Padahal menurutnya, di kawasan
daratan tinggi Dieng terdapat juga obyek wisata lain yang tak kalah menarik.
Ada Kawah Sikidang, Telaga Warna, kompleks Candi Arjuna, Semar dan Srikandi.
“Saya siap memandu para wisatawan yang akan berkunjung ke kawasan Dieng dan sekitarnya.
Sekaligus mencarikan tempat penginapannya,” kata Suwikno menawarkan diri. Namun
menurutnya di kawasan Dieng belum ada hotel, ada juga homestay.
Bagi yang mau menginap bisa
secara homestay yang banyak tersebar di sekitar Dieng.
Bahkan ia siap mencarikan homestay
dari yang kelasnya mahal sampai relatif murah. Rumah petakan juga ada, ujar Suwikno
berpromosi. Bagi yang berminat berwisata ke daerah Dieng silahkan menghubungi Pak
Suwikno, telepon: 085 868 622 716, 085 328 405 267 atau kirim e-mail:
ahmadsuwikno@yahoo.com.
Sekitar jam 9.00 WIB kami beres-beres. Bersiap, karena harus segera
meninggalkan puncak Gunung Prau. Rasa cape dan lelah terbayar sudah setelah
menyaksikan keindahan alam itu. Untuk kembali pulang, kami sepakat memilih
jalur Dieng. Melewati jalur Dieng ini bisa menikmati pemandangan perbukitan dan
tanah lapang. Seperti di serial film anak Teletubbies
dan Bunga Daisy yang malu-malu mekar karena
kemarau panjang ketika itu.
Ternyata banyak juga yang melewati jalur ini. Sepanjang perjalanan kita
akan berada di atas pegunungan. Tetapi harus hati-hati melalui jalur ini karena
di sisi kiri-kanan terdapat jurang. Melewati
jalur Dieng, kita akan disambut hutan pinus yang memberikan teduh. Dengan
akar-akar melintang yang timbul ke permukaan. Dari atas di sepanjang jalan ini
juga bisa melihat pemandangan lembah Dieng dan pemukiman penduduk.
Walaupun jarak tempuhnya jauh, tetapi track-nya
landai. Karakter jalan ini sangat cocok bagi yang hobi hiking. Menjelang mendekati menara tower ada tiga pilihan jalur
jalan. Bisa lewat Kalilembu, jalur Dieng lewat menara tower, dan jalur baru
menuju Dieng. Sayang ketika itu saya tidak menemukan petunjuk arah. Agar tidak
keliru memilih jalan sebaiknya jangan ragu untuk bertanya. Sekadar informasi,
sekarang ada jalur shotcut yang baru
dibuka. Jalur alternatif ke arah Dieng ini lebih landai berada di bawah jalur
menara tower. Menurut Syarif salah satu ranger,
jalur ini bahkan akan diperlebar sehingga lebih nyaman dilewati.
Ada yang menarik melewati jalur Dieng ini. Saya melihat semangat kesigapan
dua orang pemungut sampah. Entah itu dari petugas atau relawan. Yang jelas
semangatnya patut dicontoh. Kedua orang ini terus menyisir jalur agak ke luar. Seorang
di sebelah kiri dan satunya lagi di kanan jalur perbukitan. Mereka memungut
sampah-sampah yang sempat tertinggal. Memang, pada umumnya para pendaki sudah
membawa pulang sampahnya masing-masing. Para pecinta alam menyadari hal ini.
Termasuk dari rombongan kami membawa pulang sampah-sampah itu. Karena ini
adalah salah satu komitmen pencinta alam mencintai alamnya.
Sekitar pukul 12.00 WIB rombongan kami semua sudah berkumpul di arel parkir
Dieng. Untuk memulihkan kondisi badan yang lelah. Kami memilih istirahat terlebih
dahulu sebelum melanjutkan perjalan pulang. Sambil membersihkan debu-debu yang
menempel di badan. Dan mengisi perut yang mulai keroncongan. Di sekitar areal itu banyak juga para pendaki
lain yang sedang istirahat. Tampak berderet juga warung makan, toko oleh-oleh
dan cenderamata.
Baru sekitar pukul 14.00 WIB rombongan kami pulang meninggalkan kawasan
Dieng. Kali ini kami memilih pulang lewat Batang, Kalisari, Pekalongan menuju
arah Pantura. Berharap bisa memangkas waktu lebih cepat ternyata di Tegal
sampai Brebes kendaraan terjebak macet. Disebabkan diberlakukan sistem buka-tutup
jalan karena ada pengecoran jalan raya. Tetapi kami bersyukur bisa tiba kembali ke Jakarta sekitar pukul 2.00 WIB pagi dengan
selamat.
Sunday, 15 November 2015
Waduk Jatigede Destinasi Wisata Potensial di Sumedang
Di bawah pohon
rindang di pinggir jalan berdebu. Orang tua itu seolah tak peduli oleh lalu
lalang mobil dan motor yang ramai melintasi jalan itu. Ia sibuk sendiri menggali
lubang untuk mendirikan tiang bambu. Sepertinya ia akan membuat sebuah saung
sebagai tempat jualan -- mencoba mengais rezeki dari ramainya hilir mudik kedatangan
para wisatawan ke lokasi bendungan Jatigede.
Waduk Jatigede.
Proyek bendungan yang digagas era Soekarno sejak tahun 1963 lalu. Akhirnya pada
31 Agustus 2015 diresmikan oleh Basuki Hadimuljono, Menteri Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat. Pada awalnya akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo,
tetapi batal datang. Sepertinya pemerintah mengejar pencapaian target listrik 35.000
Megawatt harus terpenuhi. Dengan diresmikannya bendungan Waduk Jatigede
diharapkan dapat mengurangi krisis energi di negeri ini.
Bendungan Serbaguna
Jatigede ini membendung aliran air Kali Cimanuk. Terletak di Kampung Jatigede
Kulon, Desa Cijeungjing, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang Jawa Barat.
Bendungan terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Jatiluhur ini, menelan
dana tak kurang dari 7 triliun. Menurut
sumber dari Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral, total nilai kontrak proyek adalah US$239,573 dengan kontraktor dari Indonesia
yaitu Wika, Waskita dan PP bersama China Sinohydro Corp.
Direncanakan bendungan
ini akan menghasilkan energi listrik sebesar 110 Megawatt. Kemudian listrik
yang dihasilkan Waduk Jatigede akan masuk ke sistem tranmisi Jawa-Bali. Selain
itu akan
mengairi sawah seluas 130.000 hektar di Kabupaten Indramayu, Majalengka dan
Cirebon. Juga sebagai pengendali banjir di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Tidak
hanya itu air bendungan Waduk Jatigede bisa dimanfaatkan untuk kegiatan sarana olahraga,
parawisata, budidaya ikan air tawar dan lain sebagainya.
![]() |
| Kondisi awal penggenangan |
Tetapi dampak sosial yang diakibatkan proyek Jatigede tidaklah kecil. Adalah
harus menenggelamkan areal seluas 6.738 hektar. Meliputi: sawah, hutan,
permukiman rakyat, ladang, kebun, jalan desa, sekolah, tempat peribadatan dan
lain-lain. Tidak hanya itu, ada 48 situs cagar budaya para leluhur
kerajaan Sumedang Larang di daerah genangan harus dipindahkan. Di samping itu ribuan warga dari 35 Desa di 6
kecamatan yaitu; Jatigede, Cadasngampar, Wado, Cisitu, Situraja, dan Darmaraja.
Harus meninggalkan tempat tinggal dari tanah leluhurnya yang sudah ditempati
puluhan tahun.
Pada suatu kesempatan saya coba mengunjungi Waduk Jatigede itu. Untuk menuju
ke lokasi, dari Bandung bisa melalui arah kota Sumedang. Dari patung endog
(telor) lurus sedikit, putar balik terus belok kiri ke arah jalan Situraja-Wado
(soalnya tidak boleh belok kanan langsung). Jika memakai jalan lingkar luar
jalur ke Cirebon dari arah terminal bus Kota Sumedang akan menemukan putaran perempatan
Alam Sari. Terus lurus, langsung ke arah Situraja-Wado. Bisa juga melalui jalur
ke arah Cirebon. Tetapi menurut saya melewati jalur Cirebon kalau dari Bandung
agak jauh, dibandingkan lewat Situraja.
Apabila sudah sampai di Kecamatan Situraja. Sekitar 400 meter sehabis pasar Situraja, ada jalan sedikit menurun siap-siap belok kiri. Tepatnya belok dari Warung Ketan. Terus cari arah Desa Sudapati-Pajagan berlanjut ke Jatigede. Melewati jalur ini jangan sungkan untuk bertanya. Sebab di jalan ini tidak ada petunjuk arah menuju bendungan. Jalan perkampungan ini agak sempit tetapi sudah diaspal. Setelah memasuki lokasi bendungan kondisi jalan agak bergelombang karena dalam tahap perbaikan. Tetapi mudah dilalui kendaraan mobil maupun motor.
![]() |
| Pintu sbuang aluran air |
Bagi pengunjung yang akan berwisata dari arah Garut, Tasikmalaya ada dua
pilihan jalur menuju Jatigede. Jalur pertama, bisa melalui jalur Wado menuju Cadasngampar.
Tetapi lewat jalur ini wisatawan hanya bisa melihat pemandangan bendungan
Jatigede dari perbukitan. Pengunjung tidak bisa menuju pintu gerbang utama
bendungan. Karena akses jalan dari arah Wado menuju Jatigede sebagian sudah
terendam air.
Sedangkan jalur kedua bisa melalui jalan utama Wado-Sumedang. Awal memasuki
Kecamatan Situraja di pertigaan kampung Cisitu atau Malingping, bisa langsung
belok kanan. Atau belok kanan dari Warung Ketan sama saja akan ketemu di jalan
Desa Pajagan, dan berlanjut ke Jatigede. Nantinya ada jalan utama yang
menghubungkan dari bendungan Waduk Jatigede langsung ke jalan raya
Wado-Sumedang, sekarang masih dalam tahap pengerjaan.
Melalui jalur Situraja ini, dari jalan raya Wado-Sumedang ke Waduk
Jatigede lebih dekat. Waktu tempuh kira-kira satu jam ke lokasi bendungan -- melewati
beberapa desa dan perkampungan penduduk. Setelah sampai di Desa Pajagan
pengunjung akan melewati hutan jati, dan tidak lama akan tiba di areal proyek bendungan
Waduk Jatigede.
Pengunjung yang berasal dari arah Situraja ini akan tiba dari samping selatan
tembok bendungan Jatigede. Posisinya berada di atas bukit yang sudah diratakan untuk
areal parkir dan sebagai sarana pandang bagi para wisatawan. Sayang,
permukaanya masih tanah merah. Jika musim hujan tanah akan lengket dan licin. Berbeda
dengan areal parkir di sebelah utara bendungan relatif lebih baik.
![]() |
Patahan Bukit Baribis
|
Memasuki areal proyek bendungan ini pengunjung akan dikenakan restribusi
parkir. Untuk sepeda motor Rp 5.000,-, mobil Rp 10.000,-. Pengelolaan parkir sebelah
selatan bendungan dilaksanakan oleh Pemerintah Desa Pajagan, Kecamatan Cisitu. Sedangkan
pengeloaan restribusi parkir di areal sebelah utara dilaksanakan oleh
Pemerintahan Desa Cijeungjing.
Jika ingin melihat lebih dekat ke pintu gerbang utama bendungan.
Pengunjung dari arah Situraja bisa langsung menyusuri jalan agak menurun. Jalan
yang berada di belakang bentangan tembok raksasa sepanjang 1.715 meter itu. Kemudian
melewati jembatan kali Cimanuk dan akan ketemu jalan raya dari arah
Tomo-Tolengas, dan akan tiba di lokasi depan bendungan Jatigede.
Bagi pengunjung dari Cirebon, Majalengka, Indramayu, dan Kuningan. Bisa
melalui tujuan Tomo-Tolengas dan berlanjut ke Desa Cijeungjing, Jatigede. Lewat
jalur ini kondisi jalan cukup lebar beraspal mulus dan bisa langsung menuju
areal depan obyek wisata Jatigede.
Gencarnya pemberitaan Waduk Jatigede di media, banyak mengundang rasa
penasaran masyarakat untuk melihat langsung ke lokasi. Tak heran setiap akhir
pekan antrian kendaraan mobil dan motor wisatawan berdatangan dari berbagai
daerah. Indikasinya terlihat dari plat kendaraan terparkir dan yang baru berdatangan.
Seperti dari Bandung, Garut Indramayu, Majalengka, Cirebon, Kuningan dan
lain-lain.
Terlepas dari pro-kontranya keberadaan bendungan Waduk Jatigede-- telah dan akan menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Sumedang. Seperti pada Sabtu lalu, walaupun siang itu terik matahari cukup panas. Tetapi tak menyurutkan semangat para wisatawan datang untuk melihat Waduk Jatigede lebih dekat. Ada yang datang perorangan, dan ada juga secara rombongan dengan bus carteran. Tak ketinggalan para komunitas biker turut hadir meramaikan suasana. Siang itu petugas parkir dibantu aparat kepolisian dibuat sibuk mengatur keluar masuk kendaraan.
Untuk melihat lebih dekat ke kostruksi bendungan. Para pengunjung harus rela
berjalan kaki kira-kira 300 meter dari areal parkir, jarak yang cukup lumayan
untuk menguras keringat. Disarankan bagi pengunjung untuk membawa payung untuk
berjaga-jaga dari sengatan panas matahari, dan turun hujan. Kendaraan tidak
diperbolehkan masuk lebih dekat ke areal proyek. Mungkin faktor keamanan, karena
akan mengganggu aktivitas para pekerja. Seperti ketika itu masih terlihat keluar
masuk lalu-lalang kendaraan berat.
Pengunjung pun tidak diperbolehkan masuk dan naik ke atas tembok utama bendungan.
Akses pintu masuk utama tembok bendungan dijaga anggota TNI, bersama pekerja
proyek. Para wisatawan yang datang hanya bisa melihat dari tempat yang sudah
disediakan. Dari situ dapat melihat pemandangan, perbukitan yang sudah
digunduli. Serta melihat genangan air yang lambat laun sudah merambat naik merendam
persawahan dan perkampungan penduduk.
Ternyata dari sekian banyak pengunjung, ada di antara mereka yang merasa sedih melihat tanah dan kampung halamannya harus lenyap. Betapa tidak di tanah
itu mereka sudah tinggal puluhan tahun. Dan di tanah itu mereka dilahirkan dan
dibesarkan, kini harus mereka tinggalkan.
Setelah mengunjungi Waduk Jatigede. Penulis juga
menyempatkan diri melihat ke daerah genangan di kampung Cibungur, Desa
Jatibungur, Kecamatan Darmaraja. Terlihat beberapa rumah sudah dibongkar dengan
sukarela. Bahkan ada warga sedang berkemas akan pindah. Tak kalah sibuk, di
sudut lain ada juga yang sedang menyiapkan
bahan bangunan, dan memilah-milah batu bata dari sisa reruntuhan. Sementara di
jalanan kampung itu tampak hilir mudik mobil bak terbuka, dan truk mengangkut
bahan bangunan. Hal yang sama sepertinya terjadi di kampung lain yang terkena genangan
Waduk Jatigede.
Mereka yang
sudah membongkar rumah dan pindah tempat tinggal ini umumnya sudah mendapatkan
uang tunai yang besarannya berbeda
setiap keluarga, tergantung masuknya ke kelompok mana. Pemerintah membagi dua
kelompok keluarga. Untuk kelompok A, adalah mereka yang berhak mendapatkan
konpensasi berdasarkan Permendagri No. 15 tahun 1975, besaran uang untuk rumah
pengganti Rp 122.591.200,- . Sedangkan untuk kelompok B, adalah berdasarkan Keppres No.55 tahun 1993, dan Perpres No.36 tahun
2005, besaran uang
santunan Rp 29.360.192,-. Kelompok B ini umumnya berasal dari pecahan keluarga.
Tidak mudah
untuk mendapatkan uang pengganti itu. Setiap keluarga harus melengkapi berbagai
persyaratan administrasi terlebih dahulu. Bahkan jika ahli waris sudah ada yang
meninggal maka harus mengikuti sidang ahli waris. Tentunya setelah melengkapi berkas-berkas
yang diperlukan, dan sudah lolos verifikasi dan divalidasi. Tak heran hampir
setiap hari kecuali hari libur ada sidang maraton di pengadilan Agama Kabupaten
Sumedang. Semenjak ada sidang ahli waris dampak proyek Jatigede setiap hari kantor itu
mendadak ramai, tidak seperti biasanya.
![]() |
Salah satu areal pesawahan di Kampung Cibungur, Darmaraja sebelum tergenang
|
![]() |
Bongkaran rumah di Cibungur, Darmaraja
|
Persoalan belum tuntas. Setelah mendapatkan uang tunai pun warga dampak Jatigede dibuat bingung mengatur biaya untuk pindah, dan membangun tempat tinggal baru. Harga tanah dan bahan bangunan di daerah itu mendadak ikut meroket. Bahkan sampai saat ini pun masih banyak warga yang bertahan di daerah genangan. Karena mereka belum menemukan kecocokan tempat untuk pindah, baik dari harga maupun lokasinya. Permasalahan krusial lain adalah hilangnya mata pencaharian mereka, yang rata-rata petani.
Terlepas dari
semua persoalan yang dihadapi warga dampak Waduk Jatigede. Kabupaten Sumedang kelak
akan mempunyai obyek wisata baru yang potensial untuk berkembang. Dengan adanya
dukungan jalan tol Cisumdawu sepanjang 60 km yang menghubungkan Cilenyi, Sumedang. Dawuan. Dan
juga adanya Bandara Internasional Kertajati di Majalengka dalam pengerjaan. Nantinya
bisa menjadi kredit poin untuk menarik para wisatawan baik lokal maupun asing
berkunjung ke obyek wisata Jatigede dan tempat-tempat wisata lain di Kota Sumedang.
Diharapkan
pengembangan wisata Waduk Jatigede dan sekitarnya bisa cepat terwujud. Sehingga
akan mendongkrak perekonomian masyarakat itu sendiri. Tentunya dalam
pengembangan obyek wisata nanti, diharapkan melibatkan dan mengutamakan
sumberdaya dari warga sekitar yang terkena proyek Waduk Jatigede. Sehingga mereka
akan merasakan manfaat nyata. Dan mereka pun bisa segera mendapatkan kembali
mata pencaharian baru dari kebangkitan parawisata di daerah tersebut. Semoga!
Wednesday, 14 October 2015
Curug Cikondang Butuh Sentuhan Kreatif
Deru suara sepeda motor lambat laun mulai
menghilang. Kemudian lenyap ditelan suara gemuruh curug Cikondang dari arah
lembah pegunungan, dan rasa lelah pun mendadak sirna seketika. Terlihat dari
atas bukit sebuah air terjun
mengeluarkan buih
putih terbawa tiupan angin. Tampak raut wajah ceria dari para peserta touring. Bahkan ada yang spontan berteriak gembira seolah lupa akan
lelah yang mendera sepanjang perjalanan.


Berawal
ketika saya ikut menemani teman-teman yang melakukan perjalan ke Gunung Padang,
dan curug Cikondang di Cianjur, Jawa
Barat. Buat saya ini kunjungan untuk kali yang kedua ke situs megalitikum itu. Setelah
sebelumnya pada bulan Agustus silam.
Mengawali
pemberangkatan dari meeting point di sebuah
pom bensin Warung Jambu, Bogor. Yang
semula dijadwalkan sudah berkumpul pukul 07 WIB pagi, ternyata teman-teman
datang pada terlambat, alias molor. Maklum
macet, jelang libur akhir pekan. Tanpa terkecuali di Ciawi dan Gadog menuju arah Puncak, lebih macet
lagi.

Sekitar
pukul 10 WIB rombongan kami tiba di Gunung Padang. Sudah biasa setiap hari
Sabtu, dan Minggu situs itu selalu didatangi para wisatawan. Kurang lebih dua
jam kami berada di puncak bukit Gunung Padang menikmati hawa dan panorama pegunungan.
Setelah merasa cukup berada di situs tersebut,
kemudian perjalanan dilanjutkan mengunjungi air terjun curug Cikondang. Menurut
salah satu petugas, dari situs Gunung Padang ke curug tersebut jaraknya sekitar
7 km.
Secara geografis curug Cikondang berlokasi di Desa Sukadana, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Jarak dari kota Cianjur sekitar 37 km
atau waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Untuk menuju ke lokasi air terjun bisa lewat
jalur Cianjur-Sukabumi kemudian belok kiri ke jalan Cilaku berlanjut ke
Cibeber. Dan bisa juga melalui jalur Warung Kondang, Bebedahan, Lampegan ikuti
arah ke situs Gunung Padang. Setelah di pertigaan Lampegan belok kiri.

Sekitar
pukul 13.00 WIB rombongan kami berangkat menuju curug Cikondang. Meninggalkan
situs Gunung Padang yang terus didatangi para pengunjung. Di sepanjang
perjalanan kemana mata memandang selalu disuguhi hamparan hijau perkebunan teh.
Sepertinya alam pegunungan turut pula memberi semangat kepada teman-teman saya yang
penasaran ingin segera melihat air terjun Cikondang.
Jelang pertigaan jalan di Lampegan kami sedikit ragu arah
jalan yang benar menuju curug Cikondang. Karena di pertigaan itu tidak ada
petunjuk arah jalan. Tidak mau ambil resiko kesasar, maka kami mencari
informasi ke warga kampung setempat. Padahal alangkah baiknya apabila
dari pemerintah Desa Sukadana selaku pengelola curug Cikondang berinisiatif
membuat petunjuk arah. Walaupun harus dibuat sederhana akan sangat membantu
kepada para pengunjung yang akan berwisata ke air terjun tersebut.
Setelah
menempuh hampir 4 km perjalanan. Kami harus berjuang keras menaklukan jalanan yang
tidak bersahabat. Sebab kira-kira 3 km jalanan berkelok, menurun, dan berbatu
rusak parah. Kondisi permukaan jalan bergelombang dengan batu-batu hampir
sebesar dua kali kepalan orang dewasa muncul ke permukaan. Di jalanan ini para
pengendara dituntut untuk ekstra hati-hati, dan harus pintar-pintar memilih
jalan agar tidak jatuh terpeleset.
Bagi
yang membawa kendaraan, baik roda dua atau pun empat disarankan tidak memakai
kendaraan ban rodanya pendek-- seperti jenis sedan. Sebab apabila kaki roda
pendek, risikonya permukaan gardan akan mentok ke batu jalanan. Begitu pun
untuk sepeda motor, sebaiknya tidak memakai roda ceper. Kalau tidak ingin
menemui keculitan di perjalanan.
Kalau
kondisi jalan rusak terus demikian dibiarkan saja, tidak ada perbaikan sama
sekali. Tentu para pengunjung yang akan menikmati wisata alam akan berpikir dua
kali untuk datang ke tempat itu. Bahkan bisa kapok. Tentu hal ini akan
merugikan pendapatan daerah setempat. Tetapi sebaliknya apabila kondisi jalan
itu bagus, paling tidak layak dilalui kendaraan. Mungkin akan lebih banyak lagi
para traveling datang. Dan tentu lambat-laun akan membangkitkan potensi wisata itu
sehingga berkorelasi dengan kebangkitan ekonomi di pedesaan itu sendiri.
Selepas
jalan yang rusak. Teman-teman para biker
akhirnya bisa bernapas lega karena telah lolos dari rintangan jalanan yang
tidak bersahabat itu. Tidak beberapa lama dari jauh samar-samar terdengar suara
gemuruh air terbawa angin pegunungan dari balik bukit. Lambat-laun suara itu semakin
keras terdengar bersaing dengan deru suara motor para biker.
Tidak
disangka di balik bukit itu ternyata tersembunyi sebuah curug. Dari atas jalan
dekat tikungan, air terjun itu terlihat begitu indah. Air yang mengalir dari
kali kecil itu jatuh--memberikan pemandangan menarik. Bentuknya yang melebar perkiraan
panjangnya 30 meter dengan ketinggian kira-kira 50 meter. Tak berlebihan
apabila ada sebagian orang menyebut curug Cikondang sebagai miniatur Niagara di
Jawa Barat, karena mungkin mirip.

Di
sekitar lokasi tersedia juga areal parkir yang sudah dibuat secara swadaya oleh
warga desa Sukadana. Dan pengelolaan air terjun itu pun dilakukan oleh pihak
desa setempat. Untuk tarif masuk ke lokasi sebesar Rp 5.000,- per orang. Tetapi
ketika hari Sabtu rombongan kami datang, dan juga rombongan dari Bandung sama
sekali tidak dipungut biaya, alias gratis. Memang waktu itu tidak terlihat ada
petugas berjaga. Atau mungkin tarif masuk hanya berlaku setiap hari Minggu
saja? Kami tidak tahu.
Setelah
memarkir kendaraan, kami memilih istirahat sambil mencari ganjalan perut di
sebuah warung yang berada dekat areal parkir. Maklum, untuk sampai ke curug
Cikondang ini cukup banyak menguras tenaga, dan sengatan panas dari terik matahari.
Tetapi bersyukur hawa pegunungan tetap memberikan kesegaran bagi kami. Tidak
hanya itu suara gemuruh itu pun seolah memberi semangat untuk cepat-cepat
melangkahkan kaki menuju air terjun itu.
Setelah
istirahat, kami langsung ke lokasi air terjun tersebut. Ternyata untuk menuju
lokasi air terjun harus traking
kira-kira 1 km, menyusuri jalan setapak di pinggir perkebunan dan persawahan
terasering yang terlihat hijau sangat menarik. Curug ini masuk dalam kawasan
perkebunan teh PTP VIII Panyairan. Sayang, ketika itu debit air sedikit karena
musim kemarau panjang. Seandainya debit air itu banyak pasti semakin memberi
keindahan curug itu sendiri.
Ternyata
dari dekat pemandangan air terjun itu semakin menarik. Walaupun siang hari,
udara di sekitar air terjun itu terasa sejuk. Tak heran para pengunjung betah berlama-lama
di tempat itu. Sambil berfoto ria mengabadikan setiap sudut di batu-batu besar.
Termasuk teman-teman saya, tidak mau ketinggalan sibuk mencari tempat yang dianggap
cocok untuk ikut mejeng diambil
gambarnya. Buat dijadikan kenang-kenangan atau pun sekadar foto dokumentasi
pribadi. Sayang memang apabila sudah pergi jauh-jauh tidak ada foto kenangan.

Tetapi
ingat! Bagi Anda yang akan mengambil gambar di atas batu harus hati-hati ketika
melangkah. Karena ada sebagian permukaan batu yang licin. Jika kaki sampai
terpeleset ke bawah akibatnya akan patal. Apalagi tepat di bawah air jatuh
terdapat jurang berbatu membentuk kolam dengan pusaran air yang dalam. Memang,
di atas batu besar itu menjadi tempat favorit untuk berfoto.

Di air terjun itu kami tidak berani untuk mandi. Sebab
menurut informasi yang di dapat dari berbagai sumber, aliran air itu mengandung
mercury, simbol HG (hydragyrum). Sebuah zat kimia berbahaya
bekas limbah pengelolalaan emas tradisional yang berada di atasnya. Kalau hal
ini benar, sangat disesalkan sekali. Seharusnya ini tidak terjadi sebab akan
merusak lingkungan di sepanjang aliran kali. Karena zat adiktif ini susah
musnah, butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa hilang.
Hanya
sekadar sumbang saran. Lokasi air terjun ini sepertinya masih kurang dikelola
dengan sungguh-sungguh. Tampak di sekitar air terjun terkesan kotor, banyak sampah. Kami pun tidak
melihat adanya fasilitas pendukung , seperti MCK atau mushola. Rasanya curug
ini butuh penataan lebih serius, dan sentuhan kreatif dalam mengelolanya untuk
semakin menarik banyak pengunjung. Padahal menurut hemat saya, potensi untuk
lebih baik masih ada.

Sekitar
pukul 15.00 WIB akhinya kami pulang meninggalkan curug Cikondang. Melalui jalur
menuju arah Campaka atas saran penduduk
setempat, katanya kondisi jalan agak bagus. Tidak separah yang dilewati tadi. Yang
lebih menarik lagi, ternyata di jalur ini pemandangannya tak kalah bagus dari sebelumnya.
Kesempatan ini tak disia-siakan oleh teman-teman para biker untuk kembali berfoto bersama. Pesona sinar surya sore hari
semakin mempercantik view perbukitan
perkebunan teh itu.
Setelah
tiba di Puncak, Bogor. Kami istirahat sambil menikmati jagung bakar dan seduhan
kopi panas, sambil dihibur oleh seniman jalanan. Rasanya kurang pas di tempat
udara yang dingin tidak ngopi. Setelah
cukup istirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan pulang.
Seluruh
peserta touring di antaranya: Pak Yakub, Pak Widodo, Gaston, Sanudd, Anggit,
Tomo, Alfa, Dimas, Hendra, Hendar, dan saya pribadi. Semuanya membawa kesan beragam, banyak cerita tentang
situs Gunung Padang, dan curug Cikondang di Cianjur. Dan beryukur rombongan kami pun tiba di rumah
masing-masing dengan selamat.





























































